Abu Abdullah Mardanisy


Ia adalah Abu Abdullah Muhammad Al Judzami Al Maghribi, seorang ahli zuhud dan seorang mujahid. 
Abu Abdullah seringkali disertai lelaki-lelaki pejuang dan sering pula bepergian, dengan kuda-kuda yang selalu mereka tunggangi mereka lebih mirip dengan penduduk pesisir pantai, Amirul muslimin yang menjabat ketika itu adalah Ibnu Tasyifin, ia membiayai mereka dengan harta dan peralatan perang, Ibnu Tasyifin pun sangat menghormati mereka.
Mardanisy sangat sering terlibat dalam peperangan, tetapi yang menakjubkan bagiku di antara peperangan yang ia lakukan adalah –seperti yang dikatakan oleh Yasa’ bin Hazm pula- pada suatu ketika ia menyerbu pasukan Romawi, kemudian mendapatkan dari lawannya tersebut ghanimah yang sangat banyak, padahal lawannya berjumlah lebih dari seribu orang, maka Mardanisy berkata kepada pasukannya yang berjumlah 300 orang, “Bagaimanakah menurut pendapat kalian?” mereka menjawab, “Kita sibukkan mereka dengan harta ghanimah saja” Mardanisy berkata, “Apakah kalian belum pernah mendengar perkataan, 
“Jika ada dua puluh orang yang sabar di antara kamu, niscaya mereka dapat mengalahkan dua ratus orang musuh.” (Qs. Al Anfaal [8]: 65)
Ibnu Murin berkata kepadanya, “Wahai Amir, apakah Allah yang mengatakan demikian?” Mardanisy berkata, “Ya, Allah yang berfirman demikian, lantas mengapa kalian masih ragu dan takut menghadapi mereka?” Kemudian mereka berangkat dan berhasil menaklukkan pasukan Romawi.
Pada tahun 527 Hijriyyah Ibnu Rudzamir bepergian dan singgah di sebuah kota yang bernama Ifraghah,107 kebetulan di kota tersebut ia bertemu dengan Mardanisy, tetapi karena mereka berdua dalam pengepungan yang panjang oleh pasukan Romawi, maka Mardanisy pun menulis surat kepada Amirul Muslimin Ibnu Tasyifin agar membantu mereka, lalu Amirul Muslimin memerintahkan anaknya dan kepada Amir Yahya bin Ghaniyyah agar membantu mereka, dan juga memberikan perbekalan kepada mereka, maka Amir Yahya mengirimkan kuda sebanyak 4000 ekor kepada mereka, tetapi sebelum sampai bantuan tersebut ke kota Ifraghah, kuda-kuda tersebut telah hilang kecuali satu ekor saja yang sampai ke tangan Mardanisy, maka Amir Yahya pun menyembelih kuda tersebut untuk mereka, mereka pun mendapatkan masing-masing dagingnya sebanyak satu uqiyah.108
Al Yasa’ berkata, “Ibnu Iyadh menceritakan kepadaku peperangan di kota ini (Ifraghah), ia berkata, ‘Ketika  Abu Zakaria Yahya bin Ghaniyah sampai ke kota Zaitun (Ifraghah), aku keluar bersama pasukanku untuk menemuinya, Abu Zakaria berkata, ‘Berikanlah nasihat kepadaku!’ maka aku katakan kepadanya, ‘Sebaiknya kita melakukan sentralisasi pasukan Andalusia di bawah satu komando, tetapi biarkan Hilal dan Sulaim di bawah komando yang lain, lalu Az-Zubair bin Umar bergerak (untuk mengelabui pasukan Romawi) bersama pasukannya dari penduduk Maghribi, bersama mereka hewan-hewan yang telah diberi muatan berbagai macam makanan, bersama mereka pula genderang dan bendera-bendera (panji), maka kami pasukan bangsa Arab dapat menyamar dan bersembunyi melalui sisi kanan dan sisi kiri pasukan yang dibawa oleh Az-Zubair bin Umar, ketika pasukan Romawi melihat genderang dan bendera sedang melintas, sontak mereka pun menyerangnya, padahal mereka tidak menyadari bahwa pasukan kaum muslimin menyertai dari dua sisi, sisi kanan dan sisi kiri. Ia berkata, ‘Kejadian itu berlangsung setelah kami melaksanakan shalat Shubuh pada tanggal 27 Ramadhan 527 H, pasukan Romawi –yang pada saat itu berjumlah 24 ribu orang- melihat tentara muslim yang sedang terluka langsung bermaksud menyerang pasukan yang membawa genderang, maka tercerai-berailah pasukan muslim, tanpa menunggu lagi, kami pun menyerbu pasukan Romawi dari arah kanan mereka, dan kami menggapai kemenangan atas pasukan Romawi sehingga pasukan Ibnu Rudzamir tersisa hanya sekitar empat ratus orang, setelah kemenangan tersebut, pasukan muslim menduduki benteng mereka.” 
Mardanisy wafat karena sakit yang dideritanya, iapun mengalami kekalahan dalam suatu peperangan, ia wafat setelah lima belas hari dari kekalahannya.
-----------------
siyar alam an-nubala
pustakaazzam.com

Al Abbadi


Dia adalah Ia adalah Abu Manshur Al Muzhaffar bin Ardasyir Al Marwazi Al Abbadi diberi julukan dengan Al Amir, ia adalah seorang pemberi nasihat yang menyenangkan.
Seorang pemberi nasihat yang sukses, tangkas dalam berbicara, hanya saja disayangkan ia tidak begitu mendalam ilmu agamanya, banyak yang mengutip perumpamaan yang ia ucapkan ketika memberi nasihat.
Abu Sa’ad As-Sam’ani berkata, “Ia bukanlah seorang yang dapat diandalkan (nasihatnya), karena banyak kulihat dari karangan-karangannya yang membolehkan minum khamr.”      
Ibnu Al Jauzi berkata, “Ia memiliki perbendaharaan kata-kata yang bagus, banyak orang yang mengutip nasihatnya kemudian dijadikan ke dalam buku yang berjilid-jilid. Pernah suatu ketika ia berangkat untuk mendamaikan pertikaian antara raja dan pejabat, kedua kubu tersebut pada akhirnya dapat didamaikan dan ia memperoleh uang yang banyak dari hasil jerih payahnya. Ia wafat di Askar Mukram pada tahun 547 H.”
Ada yang mengatakan, “Pada suatu malam ia menyendiri untuk shalat dan menyenandungkan beberapa bait syair:
Janganlah terbenam wahai matahari
Sebelum habis pujianku terhadap keluarga 
Al Mushthafa (Muhammad SAW) dan anaknya
Hendaklah kau menggerakkan awanmu jika engkau ingin  
memuji mereka
Apakah kau lupa bahwa engkau berdiam untuk dia
Jika engkau berdiam adalah untuk dia
Maka jadikanlah diammu tersebut juga sebagai naungan untuk pasukan
berkuda dan infanterinya.
Lalu Ibnu Al Jauzi melanjutkan perkataannya, “Maka matahari pun muncul dari balik awan. Al Abbadi hidup selama 56 Tahun, semoga Allah merestuinya.
---------------------
siyar alam an-nubala
pustakaazzam.com

Al Qadhi Iyadh


Ia adalah Al Qadhi Abu Al Fadhl Iyadh bin Musa bin Iyadh Al Yahshabi Al Andalusi As-Sabti Al Maliki, seorang imam dan ulama serta hafizh, dan juga seorang syaikh Islam.
Ia dilahirkan pada tahun 476 H.
Al Qadhi Iyadh memiliki banyak ilmu, serta menuangkannya ke dalam kitab, melalui karya-karyanyalah maka ia terkenal di seluruh pelosok negeri.
Suatu ketika ia terpilih sebagai pemimpin di negerinya, tetapi hal itu justru membuatnya semakin tawadhu’ dan takut kepada Allah SWT.
Al Qadhi Syamsuddin berkata dalam kitab Wafayat Al A’yan, “Al Qadhi Iyadh adalah seorang ulama hadits pada zamannya, dan seorang yang alim di antara orang-orang di sekitarnya, dia juga menguasai ilmu nahwu, bahasa, dan dialek bangsa Arab, serta mengetahui ilmu hari dan nasab.”
Al Qadhi Syamsuddin melanjutkan perkataannya, “Di antara karya Al Qadhi Iyadh adalah kitab Al Ikmal fi Syarh Shahih Muslim sebagai pelengkap kitab Al Mu’lim karya Al Mazari, ia juga mengarang kitab Masyariq Al Anwar fi Tafsir Gharib Al Hadits, dan juga kitab At-Tanbihat. Di dalam kitab-kitab yang dikarangnya, Al Qadhi Iyadh memiliki keunikan tersendiri, dan semua karangannya adalah karangan yang sangat menakjubkan, ia pun memiliki syair yang indah.”
Aku katakan, “Karangan-karangannya sangat berharga, tetapi di antara karangannya yang aku anggap paling bagus adalah kitab Asy-Syifa, tetapi sayangnya kitab tersebut  dipenuhi dengan hadits-hadits yang dibuat-buat (dusta). Kitab tersebut tidak pernah dikritik oleh ulama lain, semoga Allah memberikan kepadanya balasan yang baik, dan menjadikan kitab Asy-Syifa sebagai kitab yang bermanfaat. Di dalam kitab tersebut terdapat pula berbagai macam takwil yang jauh dari kebenaran, kitab ini juga penuh dengan khabar-khabar Ahad yang mutawatir, oleh karena itu mengapa kita masih saja puas dengan khabar-khabar maudhu’ (palsu), dan kita pun menerima khabar yang penuh dengan dendam dan dengki, tetapi ingat bahwa sesuatu yang belum diketahui, dosanya dapat terampuni, bacalah kitab Dala`il An-Nubuwwah karya Imam Al Baihaqi, karena kitab tersebut merupakan obat penyejuk hati dan juga sebagai cahaya petunjuk.”104 
Al Qadhi Ibnu Khallikan berkata, “Guru-guru Qadhi Iyadh hampir berjumlah seratus orang. Qadhi Iyadh wafat pada tahun 544 H.”
Aku katakan, “Telah sampai kepadaku sebuah riwayat yang mengatakan bahwa Qadhi Iyadh wafat setelah dilempar tombak oleh seseorang, karena Qadhi Iyadh mengingkari kemaksuman Ibnu Tumart.”
---------------------
siyar alam an-nubala
pustakaazzam.com

Al Fandalawi


Dia adalah Imam Abu Al Hajjaj Yusuf bin Dunas Al Maghribi Al Fandalawi Al Maliki seorang khatib dan guru madzhab Maliki di Damaskus.
Ibnu Asakir meriwayatkan tentangnya, ia berkata, “Al Fandalawi adalah seorang yang humoris, seorang penceramah yang baik, juga sangat fanatik kepada madzhab Ahlussunnah, seorang yang mulia, mempunyai hati yang tegar, pada suatu malam di bulan Ramadhan, ada seseorang yang berkhutbah dalam acara khatam Al Qur`an dalam majelis ta’lim Al Fandalawi, dan Abu Al Hasan bin Muslim -seorang ulama fikih- sedang bersamanya, tiba-tiba ada yang melempari mereka dengan batu, tetapi tidak ada yang mengetahui siapa pelakunya, maka Al Fandalawi berkata, “Ya Allah potonglah tangan pelempar batu tadi!”
Tidak berselang lama kemudian, Hudhair menemukan salah seorang anggota dari majelis ta’lim Hanabilah, di dalam tasnya terdapat banyak kunci yang digunakan untuk mencuri, maka raja memerintahkan untuk memotong kedua tangannya, seketika itu juga pencuri tersebut pun mati.
Al Fandalawi dan seorang zahid (ahli zuhud) Damaskus yang bernama Abdurrahman Al Halhuli terbunuh pada tahun 543 Hijriyyah di Nairab,102 dalam peperangan bersama bangsa Eropa dalam penaklukan mereka terhadap Damaskus, Al Fandalawi dikubur di depan gerbang kecil, sedangkan Al Halhuli di kubur di atas sebuah gunung, semoga Allah merahmati mereka berdua.
-----------------
siyar alam an-nubala
pustakaazzam.com
 

Ibnu Al Arabi


Dia adalah seorang imam, ulama, hafizh, namanya adalah Al Qadhi Abu Bakar Muhammad bin Abdullah bin Muhammad, Ibnu Al Arabi Al Andalusi Al Isybili Al Maliki, pemilik banyak kitab.
Dia lahir pada tahun 468 H.
Ayahnya Abu Muhammad adalah salah seorang murid senior Abu Muhammad bin Hazm Azh-Zhahiri. Berbeda dengan putranya Al Qadhi Abu Bakar yang tidak suka dengan Ibnu Hazm.
Abu Bakar belajar fikih dari Abu Hamid Al Ghazali, Al Faqih Abu Bakar Asy-Syasyi, Al Allamah Al Adib Abu Zakariya At-Tabrizi dan ulama lainnya.
Dia kembali ke Andalusia pada tahun 491 H.
Aku katakan, “Dia kembali ke Andalusia setelah dia memakamkan ayahnya dalam perjalanan –aku menduga di Baitul Maqdis-. Kemudian dia menulis dan mendalami banyak ilmu. Dia adalah khatib yang fasih.”
Dia menulis kitab Aridhat Al Ahwadzi fi Syarh Jami’ Abi Isa At-Turmudzi, menafsirkan Al Qur‘an dengan bagus.
Dia mempunyai kitab Kaukab Al Hadits wa Al Musalsalat, kitab Al Ashnaf dalam bidang fikih dan kitab-kitab yang lain. Dia mewarnai Andalusia dengan ilmu dan pengetahuan luar biasa.
Dia orang yang cerdas, pandai dan mulia. Dia menjabat sebagai hakim Sevilla. Kebijakan-kebijakannya dipuji banyak orang. Dia sosok yang mempunyai pengaruh hingga dia diasingkan. Dia senang menyebarkan dan membukukan ilmu.
Al Qadhi Abu Bakar termasuk ulama yang mencapai derajat mujtahid.
Aku membaca tulisan Ibnu Masdi di dalam ensiklopedianya, Ahmad bin Muhammad bin Mufrij An-Nabati mengabarkan kepada kami, au mendengar Ibnu Al Jadd Al Hafizh dan yang lain berkata, “Para fakih Sevilla hadir termsuk Abu Bakar bin Al Murajji dan Ibnu Al Arabi. Mereka membahas tentang getah pohon. 
Ibnu Al Murajji berkata, “Hukumnya tidak diketahui kecuali dari hadits Imam Malik dari Az-Zuhri.” Ibnu Al Arabi berkata, “Aku telah meriwayatkan dari tiga belas sanad selain sanad Imam Malik.” Mereka berkata, “Tunjukkan kepada kami!” Ibnu Al Arabi menunjukkan kepada mereka, namun dia tidak menunjukkan satu pun sanad tersebut. Dalam hal itu, sastrawan Khalaf bin Adib berkata,
Wahai penduduk Himsh100 dan siapa saja yang di sana aku wasiatkan
Kebaikan dan ketakwaan, wasiat dari seorang yang pengasih
Ambillah obrolan kegelapan dari Al Arabi
Dan ambillah riwayat dari seorang imam bertakwa
Karena pemuda itu manis ucapannya dan cerdas
Jika tak dapatkan riwayat yang benar dia membuatnya
Aku katakan, “Ini cerita konyol tidak menunjukkan kebenaran. Barangkali Al Qadhi Abu Bakar tidak bermaksud demikian karena perhatiannya menuju ke pembahasan yang lain. Penyair itu membuat kebohongan. Aku tidak menyayangkan Al Qadhi Abu Bakar kecuali makiannya terhadap Ibnu Hazm, padahal Ibnu Hazm lebih lebih luas wawasan dan ilmunya daripada Abu Bakar. Dia lebih hafizh. Dia benar dan bagus dalam beberapa pendapatnya dan salah dalam hal yang lain seperti halnya ulama yang lain.” 
Ibnu Al Arabi wafat di kota Fas pada tahun 543 H.
-------------------
siyar alam an-nubala
pustakaazzam.com

Ibnu Asy-Syajari


Dia adalah seorang ulama, syaikh ulama nahwu, Abu As-Sa’adat Hibatullah bin Ali bin Muhammad Al Hasyimi Al Alawi Al Hasani Al Baghdadi dari keturunan Ja’far bin Al Hasan bin Ali bin Abi Thalib.
Ibnu An-Najjar berkata, “Ibnu Asy-Syajari adalah ulama nahwu pada zamannya. Dia belajar sastra sepanjang hidupnya. Dia mempunyai banyak murid. Dia berusia panjang. Dia mempunayi akhlak mulia dan ramah.”
Dia orang yang fasih, enak didengar dan tenang. Di setiap majlisnya hampir selalu dia berbicara dengan sastra. Dua orang alawi berseteru dan menghadap kepadanya. Salah satu di antara mereka berkata, “Bagiku ini dan itu.” Ibnu Asy-Syajari berkata, “Wahai anakku, bertahanlah. Karena bertahan itu kuburan bagi semua aib.”
Dia meninggal pada tahun 542 H dan dimakamkan di rumahnya.
--------------
siyar alam an-nubala
pustakaazzam.com

Al Atabik


Dia adalah Al Malik Imad Ad-Din Al Atabik Zanki bin Al Hajib Qasim Ad-Daulah Aqsunkar bin Abdillah At-Turki, penguasa Halb.
Sultan Mahmud bin Malik Syah memberikan Syihnakiyah96 Baghdad kepadanya pada tahun 511 H,97 yaitu tahun ketika putranya seorang raja yang adil Nuruddin Asy-Syahid lahir. Dia dpindahkan ke kota Mosul. Kemudian dia menjadikan putranya yang diberi julukan Al Khafaji sebagai Atabik pada tahun 522 H.
Kemudian dia menguasai negeri itu dan mendapatkan popularitas. Dia menaklukkan Ruha, menguasai Hleb, Mosul, Hamah, Hamsh, Ba’labak dan Baniyas. Dia mengepung Damaskus dan berdamai dengan penduduknya dengan syarat mereka mengakui kekuasaannya, setelah peperangan yang panjang.
Al Atabik adalah seorang pahlawan yang pemberani seperti ayahnya. Dia sangat berwibawa, enak dipandang dan berkulit coklat. Dia mempunyai banyak uban. Keberaniannya diibaratkan bahwa dia tidak diam dan tidak tidur. Dia orang yang bergairah bahkan terhadap istri tentaranya.
Aku katakan, “Zanki tiba di benteng Ja’bar. Dia mengepung penguasa benteng itu Ali bin Malik. Dia hampir menguasainya namun dia terbunuh. Pembunuhnya yang juga pembantunya lari ke Ja’bar. Peristiwa itu terjadi pada tahun 541 H. Kemudian putranya Nuruddin menguasai Syam dan putranya AL Ghazi menguasai Mosul.”
Umur Zanki mencapai enam puluh tahun.
-----------------
siyar alam an-nubala
pustakaazzam.com

Ibnu Al Mu’tamid


Dia adalah Seorang dai agung, ulama kalam, Abu Al Futuh Muhammad bin Al Fadhl Al Isfirayini yang dikenal dengan sebutan Ibnu Al Mu’tamid.
Dia adalah dai senior, fasih, kata-katanya enak didengar, alim, banyak hafalannya, sufi dan penulis hebat.
Dia lahir pada tahun 404 H.
Ibnu An-Najjar berkata, “Dia adalah dai terkenal pada masanya. Dia menguasai madzhab Imam Asy’ari. Dia juga menguasai tasawuf. Dia menulis banyak kitab tentang hakekat. Setiap kitabnya ada banyak cerita lucu dan isyarat-isyarat. Dia sangat diterima di Baghdad. Dia berbicara menurut madzhab Imam Asy’ari. Oleh karenanya ulama berang dan Al Mustarsyid memerintahkan untuk mengusirnya. Ketika Al Muqtafi berkuasa, Ibnu Al Mu’tamid kembali ke Baghdad. Ketika dia kembali, gejolak itu terjadi lagi. Mereka mengusirnya ke kampungnya.”
Ibnu Asakir berkata, “Hati dan lisannya lebih berani dari pendapatnya. Dia orang yang banyak bertutur kata, mempunyai respon yang tanggap, dan lembut gaya bicaranya. Di samping mempunyai akidah yang benar, dia mempunyai sifat terpuji, memberi arahan kepada manusia dan mengabdikan dirinya untuk membela kebenaran.” Ibnu Asakir berkata, “Dia meninggal sebagai syahid karena sakit perut. Aku selalu mengikuti majlisnya. Aku belum pernah melihat dai sepertinya.”
AS-Sam’ani berkata, “Dia diusir dari Baghdad dan meninggal di Bistham pada tahun 538 H. Dia dimakamkan di samping makam Abu Yazib Al Bisthami.”
Ibnu Al Jauzi berkata di dalam kitab Al Muntazhim, “Sultan Mahmud datang ke Baghdad bersama Al Hasan bin Abu Bakar An-Naisaburi Al Hanafi, salah seorang pendebat. Sultan Mas’ud duduk di masjid Al Qashr. Dia melaknat madzhab Asy’ariyah dengan terang-terangan. Dia berkata, ‘Jadilah pengikut Imam Syafi’i, tapi jangan menjadi pengikut Imam Asy’ari. Jadilah pengikut Imam Hanbali, tapi jangan menjadi pengikut paham musyabbihah’.” Di pintu madrasah An-Nizhamiyyah terdapat tulisan Imam Al Asy’ari. Sultan memerintahkan untuk menghapusnya dan menggantinya dengan Imam Syafi’i. Pada suatu saat Al Isfirayini menyebut kebaikan madzhab Al Asy’ari ketika dia mengajar di majlisnya. DI situ terjadi pertentangan hingga Al Ghaznawi pergi dari majlis. Dia memberitahu Sultan tentang hal itu. Dia berkata, “Sesungguhnya Abu Al Futuh adalah ahli fitnah.” Al Isfirayini dirajam berkali-kali. Pendapat yang benar adalah dia diusir.
Aku berpendapat, “Hendaknya bagi setiap muslim berlindung dari fitnah. Hendaknya dia tidak menyimpang dengan menyebut madzhab-madzhab yang aneh baik di ushul maupun furu’. Aku tidak melihat kebaikan pada tindakan itu, tapi justru menimbulkan permusuhan antara orang-orang shalih dan ahli ibadah dari kedua belah pihak. Berpeganglah pada sunnah. Diamlah. Jangan membahas apa yang tidak kamu ketahui. Setiap sesuatu yang membuatmu bingung kembalikanlah kepada Allah dan Rasul-Nya, lalu berhentilah. Katakanlah: “Allah dan Rasul-Nya lebih mengetahui.”
-------------------
siyar alam an-nubala
pustakaazzam.com

Saudara Sibthu Al Khayyath


Dia adalah seorang syaikh, imam, ulama qira‘ah Irak, ulama nahwu senior, Abu Muhammad Abdillah bin Ali bin Ahmad, cucu Imam Az-Zahid Al Abid Abu Manshur  Al Khayyath.
Di lahir pada tahun 454 H.
Dia mendalami ilmu qira‘ah. Dia menulis kitab-kitab terkenal seperti Al Mubhaj, Al Ijaz dan Al Kifayah. Dia menjadi imam di masjid Ibnu Jardah selama lima puluh tahun lebih. Dia termasuk salah seorang yang bagus suaranya dalam membaca Al Qur‘an. Banyak yang belajar Al Qur‘an darinya. Dia juga mengajarkan ilmu nahwu.
Ibnu Al jauzi berkata, “Aku belum pernah mendengar bacaan yang lebih merdu dari bacaannya dan belum pernah mendengar bacaan yang lebih jelas darinya meski dia sudah berumur. Dia orang yang bagus akhlaknya, brillian dan bagus dalam berinteraksi dengan para ulama maupun orang biasa.
As-Sam’ani berkata, “Dia orang yang rendah diri dan bagus bacaannya ketika di bawah mihrab, khususnya pada malam-malam bulan Ramadhan. Banyak orang yang belajar darinya dan mengkhatamkan Al Qur`an di hadapannya. Dia mempunyai beberapa karangan dalam bidang qira`ah. Sebagian karangannya mendapat serangan dari orang-orang. Aku mendengar bahwa dia telah rujuk dari pendapatnya.”
Abu Al Farj bin Al Jauzi berkata, “Aku tidak pernah melihat banyak orang sebanyak mereka yang mendatangi jenazahnya.”
Dia meninggal pada tahun 541 H.
----------------------
siyar alam an-nubala
pustakaazzam.com

Sibthu Al Khayyath


Dia adalah seorang syaikh, imam, musnid, juga seorang qari yang shalih, Abu Abdillah Al Husain bin Ali bin Ahmad Al Baghdadi.
Dia lahir pada tahun 458 H.
As-Sam’ani berkata, “Dia orang shalih, bagus bacaannya, taat beragama dan makan dari hasil jerih payahnya sendiri.”
Abu Al Farj al jauzi berkata, “Aku belajar Al Qur`an darinya.”
Dia meninggal pada tahun 537 H.
------------
siyar alam an-nubala
pustakaazzam.com

Ibnu Tasyifin


Dia adalah seorang sultan penguasa Maroko Amirul Muslimin Abu Al Hasan Ali bin Penguasa Maroko Yusuf bin Tasyifin Al Barbari. Dia adalah raja kerajaan Murabithun.
Dia berkuasa setelah ayahnya pada tahun 500 H.
Dia seorang yang pemberani, adil, beragama, wara’, shalih, dan menghormati para ulama. Pada zamannya menjamur kajian tentang fikih hingga para ulama tidak memperhatikan pembahasan hadits dan atsar. Pembahasan kalam dan filsafat dikecam. Ali bersikeras bahwa ilmu kalam adalah bid’ah yang tidak dikenal ulama salaf. Dia berlebihan dalam kecamannya. Dia mengancam dan memerintahkan untuk membakar buku-buku syaikh Abu Hamid Al Ghazali, dan mengancam orang yang menyembunyikannya akan dibunuh.
Ketika tentara Ibnu Tasyifin berperang melawan musuh, mereka kalah. Andalusia menjadi kacau balau dan banyak kemungkaran merajalela. Pasukan Murabithun banyak yang tewas. Kekuatan Ibnu Tasyifin melemah hingga hanya tinggal nama. Dia menyibukkan diri beribadah dan menelantarkan rakyat. Sebuah pendapat mengatakan bahwa dia mengangkat kedua tangannya untuk perpisahan. Ibnu Tasyifin berkata, “Ya Allah serahkan perkara ini kepada orang yang bisa memegangnya.”
Ibnu Tasyifin mendapat serangan dari Ibnu Tumart. Dia berperang menghadapi Abdul Mukmin. Abdul Mukmin mengalahkannya dan mengambil alih negerinya. Pada masa itu orang-orang mulatstsamun91 berkuasa. Ibnu Tasyifin meninggal pada tahun 537 H.
----------------
siyar alam an-nubala
pustakaazzam.com

Abu Sa’ad


Dia adalah seorang syaikh, imam, hafizh yang tsiqah ahli hadits Ashfahan, Abu Sa’ad Ahmad bin Muhammad bin Ahmad Al Baghdadi Al Ashfahani.
Dia lahir di Asfahan pada tahun 463 H.
As-Sam’ani berkata, “Dia seorang yang tsiqah, hafizh, bagus agamanya, baik prilakunya, lurus akidahnya –mengikuti madzhab Salaf Ash-shalih- dan tidak berpura-pura. Dia pergi ke pasar dengan memakai peci. Dia ramah. Aku belajar dengannya di Makkah dan Madinah. Pada suatu saat dia berkata kepadaku, “Berhenti sebentar!” Kemudian dia meminta maaf. Aku berkata, “Wahai tuanku, sebuah kehormatan dihentikan oleh seorang ahli hadits.” Dia berkata, “Kamu punya sanad atas kata-katamu?” Aku berkata, “Tidak.” Dia berkata, “Kamulah sanadnya.”
Abdullah bin Marzuq Al Hafizh berkata, “Abu Sa’ad bin Al Baghdadi adalah nyala api.” 
As-Sam’ani berkata, “Aku mendengar Muammar bin Al Fakhir berkata, ‘Abu Sa’ad hafal kitab Shahih Muslim. Dia berbicara tentang hadits dengan baik’.”
Ibnu An-Najjar berkata, “Dia adalah imam dalam zuhud dan hadits. Dia adalah pemberi nasihat. Abu Syuja’ Adz-Dzuhli dan Ibnu Nashir menulis tentangnya bahwa ketika dia makan, matanya menangis. Dia berkata, ‘Daud AS jika ingin makan, dia menangis’.”
Ibnu Al Jauzi berkata, “Ibnu Sa’ad melaksanakan haji sebanyak sebelas kali. Aku banyak mendengar tentangnya. Aku melihat dia berakhlak mulia dan berbudi pekerti luhur.”
Abu Sa’ad meninggal di Nahawand ketika kembali dari haji pada tahun 540 H. Jenazahnya dibawa ke Asfahan dan dimakamkan di sana.
------------------
siyar alam an-nubala
pustakaazzam.com

Al Maziri


Dia adalah seorang syaikh, seorang imam, seorang ulama bagaikan lautan ilmu, dan juga seorang ahli dalam bidangnya, namanya adalah Abu Abdillah Muhammad bin Ali bin Umar At-Tamimi Al Maziri Al Maliki.
Dia adalah penulis kitab Al Mu’allim bi Fawa‘id Syarh Muslim dan penulis kitab Idhah Al Mahshul dalam ushul fikih. Dia juga punya banyak karangan dalam bidang sastra. Dia termasuk salah seorang ulama terkemuka dan cerdas. Dia menulis syarah kitab At-Talqin karya Abdul Wahhab Al Maliki dalam sepuluh kitab. Dia sangat senang dengan kitab dan menguasai ilmu hadits.
Dia lahir di kota Al Mahdiyyah di benua Afrika. Di kota itu pula dia meninggal pada tahun 536 H, pada umur 83 tahun. Mariz adalah negeri kecil di pulau Shaqaliyyah.
Sebuah pendapat mengatakan bahwa pada suatu saat dia sakit. Tak ada yang mampu menyembuhkannya kecuali seorang Yahudi. Ketika dia sembuh, yahudi tersebut berkata, “Jika bukan karena komitmenku dalam bidangku, maka aku tidak akan mengobatimu wahai orang Islam.” Kata-kata itu menggugah hati Al Maziri. Lantas Al Maziri belajar ilmu kedokteran hingga dia mendalaminya. Dia memberi resep dalam kedokteran seperti dia memberi fatwa dalam fikih.
Al Qadhi Iyadh berkata di dalam kitab Al Madarik, “Al Mazari mendapat sebutan Imam. Dia tinggal di kota Al Mahdiyyah. Sebuah pendapat mengatakan bahwa Al Maziri bermimpi, dalam mimpinya dia berkata, “Wahai Rasulullah, Apakah benar julukan yang mereka sandangkan kepadaku? mereka memanggilku Imam.” Rasul berkata, “Lapangkan dadamu untuk memberi fatwa.”
Al Qadhi Iyadh berkata, “Dia adalah ulama kalam terakhir di Afrika. Dia adalah salah seorang ulama Afrika dalam bidang fikih, ijtihad dan kecermatan berpikir. Semua fatwa dalam fikih merujuk kepadanya. Dia bagus prilakunya, santun dalam majlis dan banyak bercerita dan berpuisi. Tulisannya lebih tajam daripada ucapannya.”
Dia mempunyai buku yang menyangkal kitab Al Ihya. Dari situ jelas bahwa di dalam kitab Al Ihya‘ ada kelemahan dan pemikiran filosofis yang diluruskan oleh Al Maziri. Rahimahullah.
-------------------
siyar alam an-nubala
pustakaazzam.com

At-Taimi


Dia adalah seorang imam, ulama, hafizh, syaikh Islam. Namanya adalah Abu Al Qasim Ismail bin Muhammad bin Al Fadhl Al Qurasyi At-Taimi Ath-Thalhi Al Asbahani. Dia dijuluki Qiwam As-Sunnah (penopang Sunnah).
Dia lahir pada tahun 457 H dan meninggal pada tahun 535 H.
Ibunya adalah keturunan Thalhah bin Ubaidillah dari suku At-Taimi yang merupakan salah seorang sahabat yang diberi kabar gembira masuk surga. 
Abu Musa berkata, “Aku tak menemukan seorang pun yang mencelanya baik dengan ucapan maupun perbuatan dan tak seorang pun yang memusuhinya karena Allah selalu menolongnya. Dia orang yang bersih jiwanya dari segala ketamakan. Dia tidak mencari perhatian para penguasa, tidak juga orang yang berhubungan dengan mereka. Dia mengosongkan rumah kebanggaannya bagi ahli ilmu. Meskipun seseorang memberinya dunia dan seisinya, itu tak berarti apa-apa baginya. Dia menyelenggarakan 3500 majlis. Dia mengajar di luar kepala.
Al Hafizh Yahya bin Mundah berkata, “Abu Al Qasim bagus akidahnya, lurus prilakunya dan sedikit berbicara. Pada masanya tidak ada orang seperti dia.”
Telah sampai kepada kita cerita tentang ibadah, wirid dan tahajjud Abu Al Qasim. Abu Musa berkata, “Aku mendengar orang yang bercerita tentang Abu Al Qasim pada hari ketika putranya meninggal. Dia datang untuk bertakziyah. Pada hari itu, Abu Al Qasim selalu memperbarui wudhunya hingga tiga puluh kali. Dalam setiap wudhu, dia melakukan shalat dua rakaat.”
Muhammad bin Nashir Al Hafizh berkata, “Abu Ja’far Muhammad bin Al Hasan bin Ismail Al Hafizh (saudaraku) menceritakan kepada kami, Ahmad Al Aswari, orang yang memandikan pamanku –dia tsiqah- menceritakan kepadaku bahwasanya dia ingin menyingkirkan sobekan kain dari auratnya ketika memandikan. Dia berkata, “Ismail menarik kain itu dengan tangannya dan menutupi kemaluannya. Orang yang memandikan berkata, ‘Hidup setelah mati’.”
Abu Al Qasim At-Taimi ditanya, “Apakah boleh mengatakan bahwa Allah mempunyai batas atau tidak? Apakah perbedaan pendapat ini terjadi pada ulama salaf?” dia menjawab, “Ini permasalahan yang tidak ingin aku jawab karena ketidakjelasannya dan karena minimnya pengetahuanku akan tujuan penanya. Tapi akan aku tunjukkan ajaran yang telah aku terima. Para ulama menafsirkan makna batasan (had) dengan penafsiran yang berbeda-beda yang intinya bahwa batasan setiap sesuatu adalah intisari yang membedakan dengan yang lain. Maka tujuan seseorang berkata ‘Allah tidak mempunyai batasan yang artinya semua ilmu tidak dapat mengetahui-Nya’ adalah benar. Dan jika yang dia maksud adalah Ilmu Allah tidak dapat mengetahui Dzat-Nya, maka dia sesat. Atau jika tujuannya adalah untuk mengatakan bahwa Dzat Allah ada di setiap tempat, dia juga sesat.”
Aku katakan, “Yang benar adalah tidak membahas tentang itu semua, jika tak ada nash yang membahas itu. Jika kita asumsikan bahwa makna itu benar, maka kita tidak seharusnya mengucapkan sesuatu yang belum diijinkan Allah khawatir jika bid’ah itu masuk ke dalam hati. Semoga Allah menjaga iman kita.”
Abu Musa Al Madini berkata, “Aku mendengar At-Taimi berkata, ‘Ibnu Khuzaimah salah dalam menafsirkan shurah (gambar). Dia tidak dicela karena ucapannya, tidak juga diikuti ucapannya tersebut’.”
Abu Musa berkata, “Dia mengisyaratkan bahwa sedikit imam yang tidak pernah bersalah. Jika seorang imam ditinggalkan karena kesalahannya, maka akan banyak imam yang akan ditinggalkan. Dan ini tidak seharusnya dilakukan.”
--------------------------
siyar alam an-nubala
pustakaazzam.com

Yusuf bin Ayyub


Dia adalah Ibnu Yusuf, seorang imam yang alim, ahli fikih yang dijadikan panutan, juga seorang  yang bijak dan bertakwa, dia adalah syaikh Islam dan sufi pada zamannya, namanya adalah Abu Ya’qub Al Hamadzani. Dia adalah ulama Marwa.
Di dilahirkan pada tahun 440 H.
Abu Sa’ad As-Sam’ani berkata, “Dia adalah seorang imam yang wara’, bertakwa, ahli ibadah, mengamalkan ilmunya, menegakkan haknya, dan seorang sufi. Para sufi banyak berguru kepadanya. Sekelompok orang yang ingin menuju kepada Allah berkumpul di majlisnya, sebuah fenomena yang tak terjadi di tempat lain. Hari-hari Yusuf bin Ayyub digunakan untuk berjalan di jalan yang diridhai, jalan kebenaran yang istiqamah. Dia meninggalkan dunia perdebatan. Dia menyibukkan diri dengan beribadah, berdakwah dengan etika terpuji dan membimbing murid-muridnya.”
Aku mendengar Shafi bin Abdillah Ash-Shufi berkata, “Aku menghadiri majlis Yusuf di madrasah An-Nizhamiyyah. Tiba-tiba Ibnu As-Saqa` berdiri. Perbuatannya itu melukai Syaikh. Ibnu As-Saqa` bertanya tentang sesuatu kepadanya. Yusuf berkata, ‘Duduklah! Sungguh aku temukan dalam ucapanmu itu isyarat kekufuran. Barangkali kamu akan meninggal dalam kekufuran.’ Ucapan Yusuf itu benar bahwa Ibnu As-Saqa` pergi menemani utusan penguasa Romawi, kemudian dia menjadi Nashrani di Konstantinopel.”
Aku mendengar dari orang yang kupercaya bahwa kedua anak Abu Bakar Asy-Syasyi berdiri di majlis Yusuf dan berkata kepadanya, “Jika kamu mengikuti madzhab Imam Asy’ari (maka teruskan), jika tidak, turunlah kamu!” Yusuf berkata, “Duduklah kalian berdua. Kalian tidak akan menikmati masa muda kalian.” Aku mendengar dari banyak orang bahwa keduanya itu meninggal sebelum memasuki masa tua.
Abu Sa’ad berkata, “Ketika aku berencana pergi, aku menghadap Syaikh Yusuf untuk berpamitan. Kemudian dia membenarkan keinginanku. Dia berkata, ‘Aku mewasiatkan kepadamu, jangan dekati para raja. Dan pastikan apa yang kamu makan itu tidak haram’.”
Yusuf meninggal pada tahun 535 Hijriyyah pada usia sembilan puluhan tahun.
Adapun tentang Ibnu As-Saqa‘, Ibnu An-Najjar berkata, “Aku mendengar Abdul Qahhab bin Ahmad Al Muqri‘ berkata, ‘Dulu Ibnu As-Saqa‘ adalah seorang hafizh al Qur‘an yang baik. Seseorang yang melihatnya di Konstantinopel menceritakan kepadaku ketika dia sedang sakit sebelum meninggal, aku bertanya kepadanya, ‘Apakah kamu masih hafal Al Qur‘an?’ dia menjawab, ‘Aku hanya hafal satu ayat saja,
Orang-orang yang kafir itu seringkali (nanti di akhirat) menginginkan, kiranya mereka dahulu (di dunia) menjadi orang-orang muslim.” (Qs. Al Hijr [15]: 2] sedangkan yang lainnya aku telah lupa.”
----------------------
siyar alam an-nubala
pustakaazzam.com

Atha` bin Abi Sa’ad


Dia adalah seorang imam ahli hadits, juga seorang yang zuhud, namanya adalah Ibnu Atha` Abu Muhammad Ats-Tsa’labi Al Harawi Al Fuqqa’i.85
Dia adalah murid dari Syaikh Al Islam Abu Ismail Al Anshori.
Dia dilahirkan di Malin  pada tahun 444 H.
As-Sam’ani berkata, “Dia adalah murid yang taat kepada Syaikh Al Ismail dan setia melayaninya. Dia mempunyai banyak cerita tentang kepergian gurunya ke Balkan untuk diuji. Sering terjadi diskusi dan dialog antara dia dan menteri Nizham Al Mulk. Dan menteri memberinya banyak kesempatan.”
As-Sam’ani berkata, “Aku mendengar bahwa sebatang kayu dipersiapkan untuk menyalip Atha`. Kemudian Allah menolongnya karena niatnya yang baik. Ketika dia dibebaskan, dia kembali berbuat zhalim. Dia keluar berjalan kaki bersama An-Nizham ke Romawi. Dia menyeberang sungai dengan kuda dan berkata, “Guruku  sedang dalam masa pengujian. Aku tidak dapat beristirahat. Putra guruku Muhammad menceritakan kepadaku tentangnya.” Atha’ berkata, “Aku ikut serta dalam konvoi An-Nizham. Salah satu sandalku terjatuh dan aku tak menoleh sama sekali. Aku pun membuang sandalku yang lain.” An-Nizham menghentikan kudanya dan berkata, “Di mana kedua sandalmu?” Aku menjawab, “Salah satunya hilang dan aku khawatir Engkau meninggalkanku jika aku berhenti.” Dia berkata, “Mengapa kamu membuangnya?” Aku berkata, “Karena guruku mengajarkan bahwasanya Nabi SAW melarang seseorang berjalan dengan satu sandal. Aku tidak ingin melanggar sunnah.” Aku membuat An-Nizham terheran-heran. An-Nizham berkata, “Insya Allah aku akan menulis agar gurumu kembali ke Harah.” Dia berkata kepadaku, “Naiklah ke atas hewan tunggangan!” Aku menolaknya. Dia menawarkanku sejumlah harta dan aku juga menolaknya.   
As-Sam’ani berkata, “Aku mendengar Abdul Khaliq bin Ziyad berkata, ‘Beberapa Amir memerintahkan untuk menghukum Atha` Al Fuqqa’i dalam malapetaka yang terjadi pada Asy-Syahid Abdul Hadi bin Syaikh Al Islam dengan seratus pukulan. Wajahnya dilukai dan Atha` dipukul hingga enam puluh pukulan. Mereka ragu apakah dia telah dipukul sebanyak lima puluh atau enam puluh kali? Atha` berkata, “Ambillah bilangan yang paling sedikit!” dia dipenjara dengan para wanita. Di situ ada seorang tahanan. Atha` berdiri dengan tertatih akibat pukulan. Dia menyuruh tahanan itu duduk di antara dia dan para wanita. Atha` berkata, “Rasulullah SAW melarang berkhalwat dengan wanita lain (al ajnabiyyah).”
Atha meninggal kira-kira tahun 335 H.

----------------------
siyar alam an-nubala
pustakaazzam.com

Al Utsmani


Dia adalah Muhammad bin Ahmad bin Yahya Al Utsmani Al Maqdisi Asy-Syafi’i Al Asy’ari, seorang Mufti yang sangat alim, tinggal di Baghdad dari keturunan Muhammad bin Abdillah Ad-Dibaj.
Dia lahir di Beirut pada tahun 462 H.
Ibnu Kamil berkata, “Aku tidak pernah melihat alim sepertinya pada zamannya. Dia seorang yang berilmu, beramal, zahid, wara’, terhormat dan berprilaku mulia. Hari wafatnya adalah hari besar’.”
Abu Al Farj Al Jauzi berkata, “Aku melihatnya menyampaikan nasihat di masjid Al Qashr. Dia adalah pembela garda depan madzhab Asy’ari.”
Dia meninggal pada tahun 527 H.
Aku katakan, “Radikalis Muktazilah, Syi’ah, madzhab Hanbali, Asy’ariyyah, Murjiah, Jahmiyyah dan Karamiyyah telah membuat dunia sesak. Dia antara mereka ada yang alim, abid dan cendekiawan. Semoga Allah mengampuni para ahli tauhid. Kita berlindung kepada Allah dari hawa dan bid’ah, mencintai sunnah dan ahlinya, mencintai ahli ilmu sebagai panutan dan teladan yang baik, dan kita tidak mencintainya karena bid’ah yang dibuatnya dengan takwil yang menyesatkan karena yang kita jadikan pedoman adalah banyaknya kebaikan.”
--------------
siyar alam an-nubala
pustakaazzam.com

Ahmad bin Abdul Malik bin Hud


Dia dijuluki sebagai Al Mustanshir Billah Al Andalusi. Dia berasal dari keluarga istana, terhormat dan kaya raya kerajaan. Dia menguasai sebagian wilayah Andalusia. Dia meminta bantuan bangsa eropa untuk mendirikan negara sendiri.
Alyasa’ bin Hazm berkata, “Perdamaian tercipta antara Al Mustanshir bin Hud dengan Sulaitin, penguasa Romawi putra dari putri Alfonso, selama dua puluh tahun denga syarat Al Mustanshir memberikan wilayah Ruthah kepada bangsa Eropa dan mereka memberikan beberapa benteng sebagai gantinya dan mengirimkan lima puluh ribu orang Romawi untuknya. Ahmad bin Abdul Malik keluar dengan pasukan ke negeri umat Islam, kemudian Allah menghendaki dia hancur. Beberapa sumber dari ulama salaf menceritakan tentang rusaknya Andalusia di tangan Bani Hud dan kemakmurannya di tangan mereka setelah beberapa masa. Sulaitin dan Ibnu Hud keluar dengan empat puluh ribu pasukan berkuda menghadapai Tasyifin. Ibnu Hud menuju arah Sevilla. Dia memberikan perlengkapan kepada tentara Sulaitin selama delapan bulan dengan syarat mereka tidak menawan siapapun. Al Mustanshir menceritakan kepadaku –dia menyesali perbuatannya-, “Harta yang telah aku keluarkan untuk makan tentara sebanyak tiga juta dinar. Yang telah aku bayarkan kepada mereka dari kekayaan Ruthah sebanyak empat puluh ribu baju perang dan helmnya. Beberpa sumber menyebutkan bahwa Al Mustanshir telah serahkan tenda besar yang diangku dengan empat puluh keledai kepada Sulaitin. Muhammad bin Malik Asy-Sya’ir menceritakan kepadaku bahwa Al Mustanshir melihat tenda itu dan berkata, “Tidak ada yang lebih besar dari itu.” Setelah lama menduduki Ruthah, Ibnu Hud kembali bersama sekitar dua ratus pasukan berkuda. Ibnu Hud singgah di Thulailah menuju ke benteng yang telah dia tebus. Kemudian Cordoba digoyang. Amirul Muslimin disibukkan dengan serangan kelompok Tumartiyyah.82 Al Mustanshir Billah Ahmad bertolak dari kota Gharlitsh menuju Cordoba. Dia mempunyai reputasi baik di hadapan orang banyak. Ibnu Hamdin penguasa Cordoba bersama pasukan menghadapi Al Mustanshir. Pasukan cordoba menghadap Ibnu Hud menyatakan kesetiaan. Kemudian Ibnu Hamdin melarikan diri ke Bulaidah. Ibnu Hud memasuki Cordoba tanpa perlawanan. Dia mengangkat Abu Sa’id yang dikenal dengan sebutan Farju Ad-dalil sebagai wazir. Dia menulis surat kepada para tokoh negeri itu dan mereka menyambut bahagia karena Ibnu Hud dari keluarga kerajaan. Farju Ad-dalil keluar menuju benteng Al Mudawwar. Dikatakan kepada Ibnu Hud bahwa Farju Ad-Dalil telah berkhianat. Ibnu Hud keluar menuju tempat Farju Ad-Dalil dan memintanya turun dari benteng. Farju Ad-Dalil turun tanpa menampakkan pengkhianatan. Dia adalah seorang yang shalih. Tapi Ibnu Hud membunuhnya. Kejadian itu menjadi berita negatif bagi penduduk cordoba. Jiwa mereka tergerak. Mereka tidak terima atas pembunuhan salah seorang singa Allah. Mereka berjalan menuju istana dan Ibnu Hud pun lari dari Cordoba. Ibnu Hamdin datang ke Cordoba. Penduduk Cordoba menerimanya. Banyak terjadi pertempuran dan musibah di Andalusia. Sedangkan Abu Muhammad bin Iyadh berada di kerajaan Laridah. Dia bertolak bersama lima ratus pasukan berkuda berusaha memperbaiki kaadaan. Penduduk Mursiyah dan Valencia menginginkan dia menjadi raja mereka, namun dia menolaknya. Kemudian dia membai’at penduduk Valencia untuk taat kepada Khalifah Abdullah Al Abbasi. Kemudian Ibnu Iyadh dan Ibnu Hud sepakat bahwa julukan Khalifah itu bagi Amirul Mukminin Al Abbasi. Kendali militer dan harta berada di tangan Ibnu Iyadh, sedangkan kekuasaan berada di tangan Ibnu Hud.

-------------------------
siyar alam an-nubala
pustakaazzam.com

Imad Ad-Daulah bin Hud


Dia adalah salah satu penguasa Andalusia pada tahun lima ratusan. Dia berasal dari keluarga kerajaan yang menguasai Andalusia Timur. Ketika orang-orang Mulatstsamun menguasai Andalusia, Yusuf bin Tasyifin membiarkan Ibnu Daud. Ketika Ali bin Yusuf berkuasa setelah ayahnya, para menterinya menyarankan untuk mengambil kekuasaan dari Ibnu Daud. Mereka berkata kepadanya, “Harta-harta Al Mustanshir Al Ubaidi yang ada di Mesir berpindah ke tangan Bani Hud semuanya.” Mereka berkata, “Agama menyuruhmu mengalahkan mereka karena mereka berdamai dengan bangsa Romawi.” Kemudian Ali bin Yusuf mengutus Amir Abu Bakar bin Tiflut memimpin pasukan. Imad Ad-Daulah berlindung di Ruthah79 dan menulis surat kepada Ali bin Tasyifin mengajak berdamai. Imad Ad-daulah berkata, “Ayahmu telah memberi teladan baik kepadamu. Kami tahu konsekuensi buruk dari tindakanmu. Allah menjadi sandaran bagi orang yang bersamaku. Cukuplah bagi kami Allah.” Kemudian Ali bin Yusuf memerintahkan untuk tidak menyerang. Tidak lama setelah itu sekelompok jamaah nasrani menggiringnya di Zaragoza. Ibnu Rudzmir, penguasa kerajaan Arghunah yang terletak di sebelah timur Andalusia, adalah seorang pendeta. Dia menguasai negeri kekuasaan Ibnu Hud. Imad Ad-Daulah menerima hanya tinggal di rumahnya saja. Ibnu Rudzmir hanya membawa sedikit pasukan yang siap tempur menghadapi jutaan pasukan.
Al yasa’ bin Hazm berkata, “Abu Al Qasim Hilal salah seorang tokoh Arab menceritakan kepadaku tentang Imad Ad-Daulah, ‘Antara aku dan orang-orang murabithun ada suatu hal yang membuatku datang kepada Ibnu Rudzmir. Dia menyambutku dan memberiku upah besar. Aku ikut bersamanya dalam sebuah perang. Pada perang itu kudanya terluka. Aku berhenti dan melindunginya dari serangan. Ketika kami pergi menuju ke Risyqah, Ibnu Rudzmir memerintahkan untuk membuatkan gelas dari emas yang dihias dengan permata. Dia menulis pada gelas tersebut, ‘Hanya orang yang menolong Sultan yang memakainya.’ Pada suatu hari aku menghadap. Dia mengeluarkan gelas itu, mengisinya dengan minuman dan memberikannya kepadaku di hadapan seribu prajurit berkuda. Aku melihat leher mereka menjadi hitam karena karat pakaian perang. Aku menyeru dan berkata, “Orang selainku lebih berhak untuk minuman ini.” Ibnu Rudzmir berkata, “Hanya orang yang melakukan perbuatan sepertimu lah yang akan meminumnya.” Hilal dalam riwayat ini datang dari desa Hilal bin Amir. Dia kembali untuk berperang bersama kita. Ketika di medan perang, Hilal bagaikan gunung yang membentang yang menahan kesolidan tentara. Dia juga seorang pahlawan pemberani. Dalam pertempuran dia berkata, “Adakah yang lain?” Aku melihat Allah mengaruniai bangsa untuknya dan dia dijaga oleh pasukan berkuda. Abu Al Qasim Hilal menceritakan kepadaku tentang keadilan Ibnu Rudzmir, “Aku bersamanya di daerah Ruthah. Imad Ad-Daulah memerintahkan menterinya Abu Muhammad Abdullah bin Hamusyk untuk pergi ke sana. Salah seorang prajurit berkuda Ibnu Rudzmir meminta mengajak perang tanding dengan Ibnu Hamusyk. Ibnu Rudzmir berkata, ‘Jangan. Dia adalah tamu kita.’ Ibnu Hamusyk mendengar kata-kata itu. Ibnu Rudzmir membiarkannya. Dia berkata, ‘Aku harus mengajaknya berduel.’ Kemudian dia memerintahkan prajurit berkuda tadi untuk maju. Ibnu Rudzmir berkata, “Dia adalah orang Romawi paling berani pada zamannya.” Abdullah pergi menuju Ruthah dan di belakangnya ada seorang romawi bersenjata. Ibnu Hamusyk tidak memakai pakaian dan helm pelindung. Dia mengambil tombak dari pengawalnya. Dia mengarahkan ke arah orang Romawi itu. Keduanya saling menyerang. Kemudian Ibnu Hamusyk mengalahkannya. Allah telah menolongnya. Prajurit berkuda itu kehilangan kendali dan akhirnya jatuh ke tanah. Ibnu Hamusyk menikamnya dan akhirnya membunuhnya. Ibnu Rudzmir menyaksikan itu dari kejauhan. Orang-orang Romawi ingin menyerang Ibnu Hamusyk, tetapi Ibnu Rudzmir mencegah mereka. Pengawal Ibnu Hamusyk turun, mencela prajurit berkuda itu dan mengambil kudanya. Dia pergi tanpa menoleh sedikitpun ke arah kami. Aku tidak tahu mana yang aku kagumi, keadilan Ibnu Rudzmir atau Ibnu Hamusyk?”
Ibnu Rudzmir mengepung Zaragoza dalam waktu yang lama. Dia menguasai banyak benteng kota itu. Ketika panglima Abu Abdullah Muhammad bin Ghalbun tahu apa yang dilakukan bangsa Romawi di negeri itu, dia menuju ke Dauruqah, benteng Ayub dan Malinah. Dia memobilisasi pasukan untuk menghadapai Ibnu Rudzmir. Abu Bakar bin Tiflut menguasai Zaragoza. Sedangkan Ibnu Ghalbun lebih berlaku bijak dan adil. Dia berjuang dan didukung oleh pasukan. Aku berpendapat dia adalah orang tinggi sekali. Aku pernah bertemu dengannya. Dia sangat benci dengan Ibnu Rudzmir. Pada suatu saat dia pernah bertemu dengan seribu pasukan berkuda Ibnu Rudzmir. Pecahlah perang antara dua pasukan dalam waktu yang lama. Ibnu Ghalbun menyerang Ibnu Rudzmir dan menurunkannya dari kudanya. Para pengikut Ibnu Rudzmir menahannya. Akhirnya mereka kalah. Ibnu Rudzmir selamat bersama pasukan sebanyak dua ratusan orang. Sedangkan Ibnu Tiflut mengirimkan surat kepada Ibnu Ghalbun dan menipunya. Dia menganjurkannya untuk menghadap Amirul Muslimin Ali bin Yusuf. Putranya Abu Al Mutharrif menggantikan posisinya sebagai Khalifah di negerinya. Dia termasuk pahlawan yang diperhitungkan juga. Muhammad tiba di Marakusy dan dia ditahan. Dia dipaksa melepaskan negerinya untuk orang-orang Murabithun. Dia mengikuti arahan itu karena patuh kepada ayahnya. Dia dan pasukan pergi menuju barat Andalusia. Ibnu Rudzmir senang dengan berita itu. Dia mengepung Zaragoza dan membuat dua menara besar dari kayu. Ketika penduduk Zaragoza putus asa mengharapkan bantuan, mereka merobohkan dua menara tersebut dan mereka saling berperang. Mereka menulis surat kepada Ibnu Tasyifin mengabarkan hal itu. Ibnu Tiflut meninggal pada tahun 511 H. Ibnu Tasyifin mengutus saudaranya Tamim bin Yusuf untuk menyelamatkan mereka. Tamim datang dengan pasukan besar. Ibnu Rudzmir mengecam pasukannya. Penduduk Zaragoza senang dengan kedatangan Tamim.
Ibnu Rudzmir pergi menuju Madinah dan menguasainya. Sekelompok pejuang berkuda dan pejalan kaki mengadakan perlawanan terhadapnya. Ibnu Rudzmir menyerang mereka dan membunuh banyak orang di antara mereka. Kemudian dia mengelak bertempur dengan musuh dan bertolak menuju arah Muralah. Negeri itu sedang goncang. Penduduknya meminta jaminan keamanan darinya dengan syarat-syarat tertentu. Ibnu Rudzmir dikenal sebagai orang yang tepat janji. Seorang yang aku percayai menceritakan kepadaku tentang Ibnu Rudzmir bahwa seorang pria mempunyai seorang putri yang sangat cantik. Dia kehilangan putrinya. Dia memberitahu bahwa seorang pimpinan Romawi keluar membawa putrinya ke Zaragoza. Kedua orang tua dan kerabatnya mengikuti pimpinan Romawi itu. Mereka mengadu kepada Ibnu Rudzmir. Ibnu Rudzmir menghadirkan pimpinan Romawi tersebut dan berkata, “Aku mendapat pengaduan buruk. Bagaimana kamu bisa lakukan ini terhadap orang yang ada di sampingku?” Orang Romawi itu berkata, “Jangan tergesa-gesa. Wanita itu masuk agama kita. Wanita itu didatangkan. Wanita itu tidak menghiraukan orangtuanya. Dia telah murtad. Ketika Ibnu Rudzmir masuk kota Zaragoza, dia membiarkan penduduknya mendirikan shalat di masjid selama tujuh tahun. Setelah itu dia mengepung Qutundah80 setelah menduduki Zaragoza dua tahun. Pada akhir tahun 514 H, Abdullah bin Hayunah ingin menyerang Ibnu Rudzmir dengan pasukannya termasuk Qadhi Al Mariyyah Abu Abdillah bin Al Farra` dan Abu Ali Sukkarah. Ibnu Rudzmir menghadapi mereka. Korban berguguran termasuk Qadhi Al Mariyyah Abu Abdillah bin Al Farra` dan Abu Ali Sukkarah. Ibnu Rudzmir membuatkan mereka makam kemudian negeri itu diserahkan kepadanya. Pada masa itu Ibnu Rudzmir menguasai Dauruqah, benteng Ayyub, Tharsunah dan dua ratus lebih daerah berpagar. Tidak lebih dari tiga kota yang masih belum dikuasainya. Daerah Laridah, Ifraghah dan Thurthusyah masih dikuasai oleh Bani Hud. Dalam sepuluh hari penyerangan, Ibnu Rudzmir belum berhasil menguasai kota-kota tersebut. Laridah dipimpin oleh Al Humam Al Bathal Abu Ahmad dan Ifraghah dipimpin oleh Az-Zahid Al Mujahid Muhammad Mardanisy Al Judzami kakek dari Amir Muhammad bin Sa’ad.
siyar alam an-nubala
pustakaazzam.com

Qadhi Al Marastan


Dia adalah seorang syaikh, imam, alim, juga seorang pakar dalam ilmu waris, seorang tokoh di masanya, nama lengkapnya adalah Al Qadhi Abu Bakar Muhammad bin Abdul Baqi bin Muhammad bin Abdullah bin Muhammad bin Abdurrahman bin Ar-Rabi’ bin Tsabit bin Wahab bin Masyja’ah bin Al Harits bin Abdullah bin Ka’ab bin Malik bin Amr Al Qain Al Khazraji As-Sulami Al Anshari Al Baghdadi.
Dia dilahirkan pada tahun 442 H.
Abu Musa Al Madini berkata, “Al Qadhi Abu Bakar adalah imam dalam beberapa disiplin ilmu. Dia berkata, ‘Aku hafal Al Qur`an pada umur tujuh tahun. Tak ada ilmu yang tidak aku pelajari. Aku berhasil menguasai hampir seluruh ilmu kecuali nahwu. Aku sedikit menguasainya. Aku tidak tahu bahwa aku telah menyia-nyiakan waktuku dalam senda gurau dan main-main’.”
Pada suatu saat dia pergi dan ditawan oleh orang Romawi. Dia ditawan selama satu setengah tahun. mereka mengikat dan mengurungnya. Mereka ingin dia keluar dari agamanya. Dia menolak. Dia belajar tulisan Romawi dari mereka. Aku mendengar dia berkata, “Barangsiapa melayani ilmu, maka dia akan dilayani oleh kekuasaan. Setiap pengajar tidak boleh berbuat kasar dan setiap pelajar tidak boleh memandang rendah.” Aku melihat setelah sembilan puluh tiga tahun, indranya masih tajam, tidak berubah sama sekali dan ingatannya masih kuat. Dia masih bisa membaca tulisan kecil dari kejauhan. Kami menghadap kepadanya sebelum dia wafat di Mudaidah. Dia berkata, “Ada sesuatu yang mengalir di telingaku.” Dia membacakan hadits kepada kami. Dia terus mengajar kami hingga dua bulan kemudian dia uzur. Kemudian dia jatuh sakit. Dia mewasiatkan agar kuburannya diperdalam dari biasanya dan dituliskan di atas kuburannya ayat 
“Katakanlah: Berita itu adalah berita yang besar, Yang kamu berpaling daripadanya.” (Qs. Shaad [38]: 67-68). Dia bertahan selama tiga hari dan selalu membaca Al Qur`an hingga dia wafat pada tahun 535 H.
As-Sam’ani berkata, “Qadhi Al Marastan berkata kepadaku, ‘Orang-orang Romawi menawanku dan mereka berkata, ‘Katakanlah, Almasih putra Allah hingga kami kembalikan hak-hakmu.’ Aku tidak menuruti mereka. Dan aku belajar tulisan mereka.’ Dia tidak menguasai ilmu nahwu. Aku mendengar dia berkata, ‘Lalat ketika menempel di tempat warna putih, ia akan menjadikannya hitam; ketika menempel di tempat warna hitam, ia akan menjadikannya putih; ketika menempel di debu, ia akan mengerumuninya; dan jika menempel pada luka, ia akan membuatnya bernanah’.”
siyar alam an-nubala
pustakaazzam.com
 

Al Abdari


Dia adalah seorang syaikh, imam, satu-satunya hafizh di negerinya, Dia bernama Abu Amir Muhammad bin Sa’dun bin Murajja Al Qursyi Al Abdari Al Mayurqi Al Maghribi Azh-Zhahiri. Dia tinggal di Baghdad.
Dilahirkan di Cordoba. Dia bagaikan lautan ilmu jika bukan karena dia mengikuti paham tajsim (paham bahwa Allah memiliki tubuh seperti makhluk). Semoga Allah merahmatinya.
Al Qadhi Abu Bakar di dalam Mu’jamnya berkata, “Abu Amir Al Abdari adalah orang paling cerdas yang pernah ku temui.”
Ibnu Nashir berkata, “Dia seorang alim yang cerdas dan senantiasa hidup dalam kefakiran.”
Ibnu Asakir berkata, “Al Abdari adalah orang yang paling hafizh yang pernah aku temui. Dia seorang ahli fikih madzhab Daud. Diceritakan bahwa dia datang ke Damaskus pada masa Abu Al Qasim bin Abu Al Ala`. Aku belajar darinya. Dia menyebut Imam Malik dan berkata, “Orang yang sangat bodoh sekali.” Dia mencela Hisyam bin Ammar. Aku belajar darinya kitab Al Amwal karangan Abu Ubaid. Dia berkata, “Ada pendapat yang mengatakan bahwa Abu Ubaid adalah penggembala keledai bodoh yang tidak tahu fikih.” Seseorang mengatakan kepadaku tentang Al Abdari, “Sesungguhnya dia berpendapat bahwa Ibrahim An-Nakha’i adalah orang yang buta salah satu matanya dan buruk rupa.” Kami berkumpul di majlis Ibnu As-Samarqandi belajar kitab Al Kamil. Di dalam kitab itu disebutkan, “As-Sa’di berkata demikian. Al Abdari berkata, ‘Ibnu Adi berbohong. Ini adalah pendapat Ibrahim Al Jurjani’. Aku berkata kepadanya, ‘Dia adalah As-Sa’di. Sampai kapan kamu akan menjelek-jelekkan orang? Kamu berkata bahwa ini itu tentang Ibrahim. Kamu katakan bahwa Imam Malik bodoh. Dan kamu juga menjelekkan Abu Ubaid.’ Dia marah besar dan berkata, ‘Ibnu Al Khadhibah, Al Bardani dan yang lain takut kepadaku. Sekarang kamu katakan kepadaku seperti ini!’ Ibnu As-Samarqandi berkata kepadanya, ‘Inilah konsekuensinya.’ Aku berkata, ‘Kami hanya menghormatimu selama kamu menghormati para imam.’ Dia berkata, ‘Demi Allah Aku menguasai ilmu hadits yang tak dikuasai oleh orang selainku. Aku menguasai Shahih Bukhari dan Shahih Muslim yang tidak mereka kuasai.’ Aku berkata dengan nada mencemooh, ‘Jadi, ilmumu ilham!’ Aku pun meninggalkannya.”
Pada suatu hari aku bertanya kepada Al Ba’dari tentang hadits-hadits sifat. Dia berkata, “Para ulama berbeda pendapat tentang hadits tersebut. Di antara mereka ada yang menakwilkannya, di antara mereka ada yang membiarkannya dan di antara mereka ada yang memahami makna zhahirnya. Madzhabku adalah salah satu dari tiga madzhab di atas.” Dia berfatwa atas dasar madzhab Daud. Sampai kepadaku bahwa dia ditanya tentang kewajiban mandi bagi orang yang bersetubuh dengan istrinya tetapi tidak keluar air mani. Dia berkata, “Tidak wajib mandi baginya. Aku melakukan yang demikian dengan Ummu Abi Bakar.”
Al Abdari berperawakan kotor dan berpakaian compang-camping. Dia meninggal pada tahun 524 H.
Aku katakan, “Riwayat yang mengatakan bahwa dia pengikut madzhab tasybih –jika memang shahih sanadnya-, adalah riwayat yang jauh dari kebenaran.”
Siyar alam an-nubala
pustakaazzam.com

Syams Al Muluk


Dia adalah penguasa Damaskus, Syams Al Muluk Ismail bin Buri bin Al Atabik Thughtikin At-Turki.
Dia berkuasa setelah ayahnya pada bulan Rajab tahun 526 H. Dia seorang pahlawan pemberani dan berwibawa seperti para pendahulunya, tapi dia seorang yang tak kenal belas kasih dan sewenang-wenang.
Dia membebaskan Baniyas dari bangsa Eropa dalam tempo dua hari. Para pengikut Ismailiyyah menjual Baniyas kepada bangsa Eropa sejak tujuh tahun lalu. Syams Al Muluk membeli negeri mereka dan mengusir bangsa Eropa dari sana. Kemudian dia bertolak untuk mengepung saudaranya di Ba’albak. Dia bertempur di Hamah yang masih menjadi kekuasaan Atabik Zanki dan akhirnya menguasainya. Dia menulis surat kepada Al Atabik Zanki agar dia menyerahkan Damaskus kepadanya. Ibunya Zumurrud dan para amir merasa takut. Ibunya berencana untuk membunuh Syams Al Muluk karena dia mengancam akan membunuh dirinya. Bangsa Eropa takut kepada Syams Al Mulk karena dia pernah mengalahkan mereka, mencabik-cabik, dan mengancam akan menyerang negeri mereka. 
Ibnu Al Qalanisi berkata, “Syams Al Muluk sangat zhalim. Dia suka merampas dan menyiksa. Ketika dia tahu bahwa Zanki menuju Damaskus, dia mengutus orang untuk mendesak Zanki agar menyerahkan Damaskus kepadanya. Al Atabik Zanki berkata, ‘Jika kamu tidak datang, aku akan serahkan Damaskus kepada bangsa Eropa. Dia menulis surat itu dengan tangannya sendiri’.”
Dia meninggal pada tahun 529 H pada usia dua puluh tiga tahun. Saudaranya Mahmud berkuasa setelahnya. Kemudian ibunya menikah dengan penguasa Halb, Zanki.
Siyar alam an-nubala
pustakaazzam.com

Taj Al Muluk


Dia adalah penguasa damaskus, Taj Al Muluk Buri putra penguasa Damaskus Atabik Thughtikin, mantan budak Sultan Tutusy As-Saljuqi.
Berkuasa setelah ayahnya pada tahun 520 H. Dia sosok yang pemurah dan mulia. Dia mempunyai peran besar dalam menumpas aliran Ismailiyyah.
Dia dilahirkan pada tahun 478 H.
Ketika Ibnu Shabbah, penguasa Al Alamut, tahu apa yang terjadi dengan para pengikutnya yang mengikuti paham Ismailiyyah di Damaskus, dia marah. Dia menugaskan orang untuk membunuh Taj Al Muluk. Dia menunjuk dua orang dengan berseragam tentara. Keduanya bergabung dengan sekelompok orang yang di antaranya adalah tentara. Keduanya berpura-pura mengaku dari Salhadanah. Mereka menerima keduanya. Akhirnya kedua utusan tersebut menikam dan membunuh Taj Al Muluk.
Abu Ya’la Al Qalanisi berkata, “Mereka membunuh Taj Al Muluk pada bulan Jumadil Akhirah tahun 525 H. Salah seorang menyerang kepalanya dengan pedang dan mengenai lehernya. Yang satunya lagi menusuk pinggangnya denga pisau hingga menembus dagingnya.”
Aku katakan, “Taj Al Muluk jatuh sakit karena serangan itu, tapi dia meninggal pada bulan Rajab tahun 526 H.”
Sebuah pendapat mengatakan bahwa dia sangat hebat dalam medan perang. Dia tak pernah tinggal diam dalam menghadapi pasukan Eropa. Jika dia mempunyai banyak tentara, dia bisa mengalahkan mereka.
Siyar alam an-nubala
pusatakaazzam.com

Ar-Rasyid Billah


Dia adalah Amirul Mukminin Abu Ja’far Manshur bin Al Mustarsyid Billah Al Fadhl bin Ahmad Al Abbasi.
Dilahirkan pada bulan Ramadhan tahun 502 H. Sebuah pendapat mengatakan bahwa dia dilahirkan dalam keadaan bisu. Kemudian dia bisa bicara karena diobati dengan suatu alat dari emas. 
Dia diangkat menjadi pangeran pada tahun 513 H dan diangkat menjadi Khalifah pada bulan Dzul Qa’dah tahun 529 H.
Dia orang yang berkulit putih, menyenangkan, dan rupawan. Dikatakan bahwa di rumah Khalifah ada seekor rusa menyerangnya di taman. Pengawal menaklukkan rusa tersebut dan memegang kedua tanduknya. Dia mengambil gergaji dan memotong kedua tanduk rusa itu.
Ar-Rasyid adalah orang yang baik prilakunya, selalu membela keadilan, fasih ucapannya, gemar bersastra dan bersyair. Hari-harinya tidak panjang hingga dia pergi ke Mosul, Azerbaijan dan kembali ke Asfahan. Dia tinggal di pintu kota Asfahan bersama Sultan Daud untuk mengepung kota itu. Di sana, dia dibunuh oleh orang-orang atheis. Setelah Ar-Rasyid keluar dari Baghdad, Sultan Mas’ud bin Muhammad bin Malik Syah datang. Dia bertemu dengan beberapa orang. Mereka melengserkan Ar-Rasyid dan membaiat pamanya Al Muqtafi.
Siyar alam an-nubala
pustakaazzam.com

Al Mustarsyid Billah


Dia adalah Amirul Mukminin Abu Manshur  Al Fadhl bin Al Mustazhhir Billah Ahmad bin Al Muqtadi bi Amrillah Abdullah bin Muhammad bin Al Qa‘im Abdillah bin Al Qadir Al Qurasyi Al Hasyimi Al Abbasi Al Baghdadi.
Dia lahir pada tahun 486 H, pada masa pemerintahan kakeknya Al Muqtadi. Dia mendapat julukan pangeran pada saat masih dalam buaian. 
Dia mempunyai tulisan bagus, karangan yang menarik dan puisi yang indah dengan keagamaan dan pendapat yang cerdas. Dia orang yang murah hati, pemberani, punya jiwa kepemimpinan dan tiada bandingannya.
Ibnu An-Najjar berkata, “Dia orang yang murah hati, berwibawa dan berani. Hari-harinya tidak diwarnai dengan pemberontakan. Dia terjun sendiri untuk meredam gejolak. Karena dia terjun langsung, pada suatu hari dia ditawan dan meninggal di tangan para atheis. Dia juga pernah belajar hadits.”
Ibnu An-Najjar berkata, “Zainul Umana` mengabarkan kepada kami dari Muhammad bin Muhammad Al Iskafi, imam wazir, berkata, ‘Ketika kami bersama Al Mustarsyid di Bab Hamadzan, di antara kami ada seorang pria yang dijuluki Faris Al Islam. Dia adalah pembantu dekat Khalifah. Dia menghadap Ibnu Tharad dan berkata, ‘Aku bermimpi pada suatu waktu melihat Nabi SAW. Aku berkata, ‘Wahai Rasulullah, apa pendapatmu tentang tentara ini?’ Rasul menjawab, ‘Kalah. Aku ingin Engkau memberitahu khalifah tentang hal ini.’ Sang menteri berkata, ‘Wahai Faris Al Islam, aku telah isyaratkan Khalifah agar dia tidak keluar dari Baghdad,’ kemudian dia berkata, ‘Wahai Ali, kamu lemah kembalilah ke rumahmu!’ Aku belum mengatakan tentang mimpi itu. Katakan kepada Ibnu Thalhah Bendahara Raja. Faris Al Islam pergi ke Ibnu Thalhah dan memberitahukan mimpinya itu. Ibnu Thalhah berkata, ‘Aku tak bisa hentikan pertanda buruk ini. Tulislah ini, tunjukkan papan ini kepada Khalifah dan evakuasi tempat kekalahan itu. Dan aku pun menulisnya. Aku pergi menuju perkemahan. Aku bertemu dengan pengawal di ruang depan. Khalifah sedang shalat shubuh ditemani oleh Ibnu Sukitah, imamnya. Pengawal itu menghadap Khalifah dan menyerahkan papan itu kepadanya.’ Dia membacanya berkali-kali dan bertanya, ‘Siapa yang menulis ini?’ Pengawal itu berkata, ‘Faris Al Islam.’ Khalifah berkata, ‘Bawa dia kemari!’ Pengawal datang dan mengikat tanganku. Aku ditundukkan hingga mencium tanah. Khalifah berkata, ‘Wa’alaikum Salam.’ Kemudian dia membaca papan itu berkali-kali dan berkata, ‘Siapa yang menulis ini?’ Aku menjawab, ‘Hamba.’ Khalifah berkata, ‘Celaka kamu. Kenapa terdapat kalimat yang kau buang?’ Aku menjawab, Itu yang Engkau lihat dalam mimpi wahai Amirul Mukminin. Khalifah berkata, ‘Celakalah kamu Aku tunjukkan mimpi itu sekarang.’ Aku berkata, ‘Tuanku, tak ada yang lebih benar dari mimpimu.’ Khalifah berkata, ‘Celakalah kamu, menurutmu Rasulullah SAW berbohong! tak ada waktu untuk mundur. Allah telah tentukan apa yang Dia kehendaki.’ Pada hari kedua atau ketiga terjadilah apa yang terjadi. Khalifah kalah, ditawan dan akhirnya dibunuh’.”
Ibnu Nashir berkata, “Al Mustarsyid Billah keluar ke Hamadzan pada tahun 529 H untuk mendamaikan antara dua penguasa dan perselisihan antar tentara. Dia pergi bersama pasukan Turki dalam jumlah besar. Mereka bertemu dengan Mas’ud bin Muhammad bin Malik Syah. Kedua pasukan saling perang. Pasukan Al Mustarsyid Billah kalah dan dia sendiri beserta para panglimanya ditangkap. Mereka dibawa ke sebuah benteng di sana. Mereka ditahan, sedangkan Khalifah bersama Sultan Mas’ud. Mereka dibawa ke Maraghah. Orang-orang Bathiniyyah berkonspirasi dengan orang-orang atheis untuk membunuh Khalifah. Khalifah tinggal di perkemahan sebelah. Mereka masuk ke perkemahan itu dan membunuh Khalifah dan orang-orang yang ada di pintu Kharakah.72 Mereka terbunuh semua.
Kabar tersebut sampai ke Baghdad. Banyak yang berduka cita. Upacara bela sungkawa pun diadakan.
Aku berpendapat, “Al Mustarsyid dibaiat ketika ayahnya meninggal pada tahun 512 H. Dia berkuasa selama tujuh belas tahun tujuh bulan. Dia hidup selama 46 tahun. Sebuah pendapat mengatakan bahwa orang-orang yang membunuhnya telah dipersiapkan oleh Mas’ud. Mereka berjumlah tujuh belas orang. Mereka ditangkap dan dibunuh Sultan Mas’ud, dan Sultan menunjukkan rasa bela sengkawanya.”
Sebuah pendapat mengatakan bahwa Sultan Sanjar bin Malik Syah mengutus kepada putra saudaranya Mas’ud, mengecamnya karena membunuh Al Mustarsyid. Sultan Sanjar menyuruhnya untuk memulangkan Al Mustarsyid ke istananya dan menyuruhnya agar santun kepadanya. Sultan Mas’ud pura-pura melakukan itu dan akhirnya membunuh Al Mustarsyid.
-------------
siyar alam an-nubala
pustakaazzam.com

Al Batha‘ihi


Dia adalah menteri negeri Mesir daulah Ubaidiyyah, namanya adalah Al Malik Abu Abdillah Al Makmun bin Al Batha‘ihi. Di antara kisahnya adalah bahwa ayahnya seorang pemberi khabar negeri Irak bagi orang-orang Mesir. Dia adalah pengikut paham Ar-Rafidhah. Ayahnya meninggal dan Al Makmun hidup dalam kefakiran. Dia adalah kuli di sebuah pasar di Mesir. Pada suatu kesempatan, dia masuk ke rumah Al Afdhal Amir Al Juyusy bersama kuli-kuli yang lain. Al Afdhal berpendapat bahwa dia adalah pemuda yang menyenangkan dan cepat gerakannya. Al Afdhal bertanya, “Siapa ini?” Pengawalnya menjawab, “Dia adalah anak fulan.” Al Afdhal mempekerjakannya sebagai pembantu bersama yang lain, hingga dia mencapai kemajuan dan peningkatan. Reputasinya menjadi lebih baik di hadapan Raja. Dialah yang menggagalkan usaha Al Amir Billah untuk membunuh Amir Al Juyusy. Dia ditunjuk menggantikannya. Dia adalah sosok yang terhormat, pemberani, pandai mengelola uang, pengucur darah dan tokoh penting. Dia menyuruh saudara Khalifah yang menjadi Amir untuk membunuh seorang Amir. Amir tersebut terbongkar kedoknya dan ditangkap di hadapan Al Makmun. Al Makmun menyalib dan membuangnya pada tahun 519 H.
------------
siyar alam an-nubala
pustakaazzam.com

Ibnu Tumart


Dia adalah Seorang ahli fikih, ushul, seorang yang zuhud, julukannya adalah Asy-Syaikh Al Imam Abu Abdillah Muhammad bin Abdullah bin tumart Al Barbari Al Mashmudi Al Harghi. Dia muncul di Maroko, mengaku sebagai keturunan Ali dari Hasan, dia adalah Imam Mahdi yang ma’shum dan dia adalah Muhammad bin Abdullah bin Abdurrahman bin Hud bin Khalid bin Tamam bin Adnan bin Shafwan bin Jabir bin Yahya bin Rabah bin Yasar bin Al Abbas bin Muhammad bin Al Hasan bin Al Imam Ali bin Abu Thalib.
Dia pergi dari Sus Al Aqsha menuju timur. Dia menunaikan ibadah haji, belajar fikih dan menguasai beberapa disiplin ilmu. Dia adalah sosok yang gemar menegakkan amar ma’ruf nahi munkar. Dia orang yang besar jiwanya, berani, berwibawa, pejuang kebenaran, bersikeras untuk mendapat kekuasaan, dan menyimpang dalam kepemimpinannya. Dia sosok yang berwibawa, agung, dan disegani. Para pengikutnya mematuhinya. Mereka menguasai banyak kota dan mengalahkan banyak raja.
Dia belajar dari Ilkiya Al Harrasi dan Abu Hamid Al Ghazali. Dia juga belajar dari Ath-Thurthusyi selama setahun.
Dia sangat paham dengan ilmu kalam. Dia menulis kitab tentang akidah yang dia beri nama Al Mursyidah. Di dalam kitab tersebut terdapat ajaran tauhid. Pengikutnya menjadikan buku tersebut sebagai sandaran sehingga Ibnu Tumart menjuluki mereka sebagai Al Muwahhidun (orang-orang yang mengesakan Allah), menjuluki orang-orang yang menolak kitab Al Mursyidah sebagai pengikut paham tajsim (mempercayai Tuhan berbadan sebagaimana makhluk) dan dia menghalalkan darah mereka. Kita berlindung kepada Allah SWT dari kesesatan dan godaan hawa nafsu. 
Ibnu Tumart menjalani hidup yang keras. Dia orang yang fakir, menerima apa adanya dan senantiasa berpakaian sebagaimana orang fakir. Dia tidak merasakan kelezatan makanan, rumah tangga, harta dan yang lainnya. Dia hanya menikmati sebagai pemimpin hingga dia wafat.
Tetapi dia telah banyak menumpahkan darah untuk mendapatkan tampuk kepemimpinan. 
Tujuannya tidak lain adalah untuk memerangi yang mungkar dan menolong yang haq. Dia selalu tersenyum kepada orang yang ditemuinya.
Dia sangat fasih dalam bahasa Arab dan Barbar. Dia selalu disakiti, dipukul tapi dia bersabar. Dia pernah disakiti di Makkah kemudian dia pindah ke Mesir. Dia sangat keras terhadap kemungkaran hingga orang-orang mengusir dan menyakitinya. 
Dia tinggal di pelabuhan, kemudian dia naik kapal menuju Maroko. Dia minum air laut dua kali. Dia mulai memerangi kemungkaran orang-orang di kapal. Dia menyuruh mereka melaksanakan shalat, namun mereka justru menyiksanya. Dia datang ke Al Mahdiyyah67 di mana Ibnu Badis tinggal. Dia tinggal di sebuah masjid. Kapan saja dia melihat kemungkaran atau minuman keras, dia bertindak melawan. Orang-orang mengerumuninya lalu Ibnu Badis mengundangnya. Ketika dia melihatnya dan mendengarkan kata-katanya, dia meminta doa darinya. Ibnu Tumart berdoa, “Semoga Allah memberimu petunjuk bagi rakyatmu.”
Ibnu Tumart berjalan menuju Bajayah (sebuah kota di Al Jazair). Seperti biasanya, dia melawan kemungkaran hingga dia diusir. Kemudian dia pergi ke sebuah desa tempat para prajurit. Dia bertemu dengan Abdul Mukmin penguasa desa itu. Dia adalah orang yang cerdas lagi pandai. Ibnu Tumart berkata, “Wahai anak muda, siapa namamu?” Dia menjawab, “Abdul Mukmin.” Ibnu Tumart berkata, “Allahu Akbar, kamu muridku. Ke mana tujuanmu?” Dia berkata, “Mencari ilmu.” Ibnu Tumart berkata, “Kamu telah temukan ilmu dan kemuliaan. Ikutlah denganku!”
Ibnu Tumart sangat menyukai pemuda itu hingga dia menceritakan hal-hal yang detail. Al Faqih Abdullah Al Wansyarisi juga ikut berguru kepadanya. Dia orang yang berilmu dan pakar ilmu nahwu. Keduanya sepakat agar Al Faqih menyembunyikan ilmunya dan kefasihannya. Dia berpura-pura sebagai orang yang tidak tahu selama beberapa waktu. Kemudian dia menunjukkan jati dirinya dan semua terheran-heran.
Ibnu Tumart pergi menuju Aghmat (kota kuno di Maroko). Dia dan murid-muridnya singgah di tempat Al Faqih Abdul Haq Al Mashmudi. Al Faqih Abdul Haq memuliakan dan mengajak mereka berdiskusi. Dia berkata, “Tempat ini tidak aman untuk kalian. Tinggallah di Tinamal. Itu tempat yang paling aman. Tinggallah di sana sementara agar kalian merasa nyaman. Ketika penduduk gunung itu melihat mereka sedang belajar, mereka tahu bahwa mereka adalah penuntut ilmu. Mereka mengundang dan menemui mereka. Penduduk berbondong-bondong belajar dari Ibnu Tumart. Ibnu Tumart adalah orang yang keras. Dia menyampaikan apa yang ada di benaknya. Jika mereka antusias, dia akan menjadikan mereka murid khususnya (khawash). Jika mereka hanya diam, dia memalingkan pandangannya. Orang-orang tua desa itu melarang dan memberi peringatan kepada yang muda (tentang ajaran Ibnu Tumart). Keadaan ini berjalan dalam waktu yang lama. Pengikut Ibnu Tumart dari gunung Daran semakin banyak. Gunung Daran adalah gunung es yang jalannya tidak rata dan sempit.
Al Yasa’ berkata di dalam kitab tarikhnya, “Aku tidak temukan tempat yang lebih aman dari Tinamal, karena tempat itu terletak di antara dua gunung. Hanyak pengendara kuda yang dapat mencapainya. Bahkan mereka harus turun dari kudanya di medan yang sulit dan tempat yang harus dilewati dengan kayu. Jika kayu tersebut dibuang, maka jalan terputus. Membutuhkan waktu sehari untuk mencapai sana. Para pengikutnya mulai berubah dan membunuh. Mereka semakin banyak dan kuat. Ibnu Tumart mengkhianati penduduk Tinamal yang telah memberinya tempat tinggal. Dia membekali murid-murid khususnya (khawash) dengan pedang. Al Faqih Al Ifriqi salah seorang murid khusus Ibnu Tumart berkata kepadanya, “Apa ini! Kaum yang telah memuliakan dan memberi kita tempat tinggal, dan kita lantas membunuh mereka!” Ibnu Tumart berkata kepada para muridnya, “Dia meragukan kemuliaanku. Bunuhlah dia!” Kemudian orang itu pun dibunuh.”
Al Yasa’ berkata, “Semua berita yang aku sebutkan tentang orang-orang Mashmud, telah kusaksikan dan aku meriwayatkannya secara mutawatir. Wasiat Ibnu Tumart kepada kaumnya adalah jika mereka bertemu dengan orang Murabith atau Tilimsan agar mereka membakarnya.”
Pada tahun 519 H Ibnu Tumart keluar dan berkata, “Kalian tahu bahwa Al Basyir (yang dia maksud adalah Al Wansyarisi) adalah laki-laki yang buta huruf. Dia tidak lihai naik kuda. Allah telah menjadikannya sebagai pembawa berita gembira bagi kalian dan mengetahui rahasia-rahasia kalian. Dia adalah ayat bagi kalian. Dia telah hafal Al Qur`an dan belajar naik kuda.” Ibnu Tumart berkata, “Bacalah!” kemudian Al Basyir membaca Al Qur`an hingga khatam selama empat hari dengan naik kuda. Mereka terheran-heran tanda kebodohan mereka. Ibnu Tumart menyampaikan khuthbah dan membaca firman Allah SWT:
 “Supaya Allah memisahkan (golongan) yang buruk dari yang baik.” (Qs. Al Anfaal [8]: 37)
Dan firman-Nya:
“Di antara mereka ada yang beriman, dan kebanyakan mereka adalah orang-orang yang fasik.” (Qs. Aali Imraan [3]: 110)
Ini adalah Al Basyir, orang yang bersih jiwanya dan orang yang mendapatkan ilham. Nabi SAW bersabda, “Di dalam umat ini ada para pembaharu dan Umar adalah di antara mereka. Ada bersama kita kaum yang Allah buka rahasia mereka. Kita harus perhatikan mereka dan bersikap adil terhadap mereka. Kemudian ada panggilan di gunung mashmad, ‘Barangsiapa taat kepada imam, kemarilah!’ mereka bergegas. Mereka menjauh dari Al Basyir. Al Basyir menjadikan kaum di sebelah kanannya -dia menyebut mereka sebagai ahli surga- dan kaum di sebelah kirinya. Dia berkata, ‘Dia telah bertobat bawa dia ke sebelah kanan. Dia telah bertobat tadi malam.’ Orang itu mengakui apa yang dikatakan oleh Al Basyir. Tampaklah keajaiban Al Basyir di hadapan mereka. Dia membiarkan ahlul yasar. Mereka tahu bahwa nasib mereka adalah mati terbunuh, dan tak seorang pun di antara mereka dapat lari dari itu. Ketika mereka berkumpul kerabat mereka membunuh mereka hingga saudara pun saling membunuh.”
Alyasa’ berkata, “Yang benar menurutku, jumlah mereka yang terbunuh dengan cara seperti itu sebanyak 70 ribu jiwa. Mereka menyebutnya sebagai “At-tamyiz”. Ketika “at-tamyiz” itu selesai, Ibnu Tumart mengarahkan mereka bersama Al Basyir menuju ke Aghmat. Orang-orang Murabithun memerangi mereka dan akhirnya mengalahkan mereka. Beberapa orang Mashmad tetap bertahan hingga mereka dibunuh. Leher mereka dibelenggu. Umar Al Hintani menderita banyak luka. Al Basyir berkata kepada mereka, ‘Dia takkan mati hingga negeri ini ditaklukkan.’ Setelah beberapa saat Umar Al Hintani membuka kedua matanya dan mengucapkan salam. Ketika mereka datang, Ibnu Tumart menyambut mereka dan berkata, ‘Hari demi hari, seperti itulah perang para rasul’.”
Ibnu Tumart adalah sosok yang banyak diam, sering bersedih dan berwibawa. Dia mengikuti akidah Syi’ah (tasyayyu’)68 dan membedakan murid-muridnya dalam derajat. Di antara mereka adalah sepuluh murid. Mereka adalah murid-murid yang pertama kali dipanggil oleh Ibnu Tumart. Kemudian lima puluh murid, oleh Ibnu Tumart mereka dipanggil “Al Mu’minun”. Ibnu Tumart berkata, “Di antara makhluk di bumi ada orang yang beriman sebagaimana iman kalian. Kalian adalah kelompok yang dimaksud Nabi SAW dalam sabdanya, ‘Orang-orang barat adalah orang-orang yang senantiasa menang.’69 Kalian menaklukkan Romawi, membunuh Dajjal dan di antara kalian ada yang mengikuti  Nabi Isa.’ 
Ibnu Tumart menceritakan kepada mereka hal-hal kecil, kebanyakan di antaranya terjadi sesuai perkatannya. Bencana semakin merajalela hingga mereka membunuh anak-anak dan saudara mereka karena kerasnya tabiat dan tradisi mereka dalam mengalirkan darah. Ibnu Tumart mengutus pasukan dan berkata, ‘Carilah mereka yang telah mengganti agama. Ajaklah mereka untuk memerangi kemungkaran, menghanguskan bid’ah dan percaya kepada Al Mahdi Al Muntazhar. Jika mereka menjawab ajakan kalian, maka mereka menjadi saudara kalian. Jika tidak, maka sunnah telah membolehkan kalian untuk membunuh mereka.’ Abdul Mukmin berangkat bersama pasukan menuju Marakusy. Dia bertemu dengan Az-Zubair bin Amir Al Muslimin. Dia menyampaikan ajakan itu kepadanya. Namun dia menolaknya dengan kasar. Pasukan Mashmad kalah dan banyak di antara mereka terbunuh mengenaskan. Ketika kabar itu sampai kepada Ibnu Tumart, dia bertanya, ‘Apakah Abdul Mukmin selamat?’ Dijawab, ‘Ya.’ Dia berkata, ‘Tak seorang pun mati sia-sia.’ Ibnu Tumart mengecam musuh dan berkata, ‘Pasukan kita yang meninggal adalah para syahid.’
Amir Aziz di dalam kitab Akhbar Al Qairuwan berkata, “Ibnu Tumart menamakan pengikutnya sebagai Al Muwahhidun dan menamakan orang-orang yang tidak mengikutinya sebagai Al Mujassimun. Penamaan itu terkenal pada tahun 515 H. Harghah membaiatnya bahwa dia adalah Al Mahdi Al Muntazhar. Orang-orang mulaststamun (tertutup mukanya) ingin membunuhnya, namun pengikut Ibnu Tumart menaklukkan mereka dan mendapatkan banyak harta rampasan. Mereka menjadi percaya diri. Kabilah-kabilah lain datang kepada mereka dan menyatukan Hantanah yang merupakan kabilah paling kuat.”
Aziz berkata, “Mereka mempunyai kasih sayang, adab dan keriangan. Mereka memakai pakaian pendek dan murah. Hari-hari mereka penuh dengan penjelajahan dan perjuangan. Di antara kabilah ada kelompok yang suka merusak. Ibnu Tumart mengundang para pimpinan kabilah dan menasihat mereka. Dia berkata, “Agama kalian tidak akan berdiri kecuali dengan melarang yang mungkar. Carilah setiap pembuat kerusakan, lalu laranglah dia membuat kerusakan. Jika dia tidak berhenti membuat kerusakan, catatlah namanya.” Kemudian Ibnu Tumart memperingatkan untuk kedua kalinya. Dia melihat nama-nama yang berulangkali melakukan kejahatan. Dia menyisihkan nama-nama tersebut. Kemudian dia mengumpulkan semua kabilah dan menghimbau agar tak satupun di antara mereka absen. Ibnu Tumart menyerahkan nama-nama itu kepada Al Basyir. Al Basyir melihat dengan seksama nama-nama itu. Kemudian dia mengurutkan anggota kabilah satu per satu. Jika dia temukan namanya di dalam daftar, dia jadikan di sebelah kiri. Dan ketika dia tidak temukan namanya di dalam daftar, dia jadikan di sebelah kanan. Kemudian dia memerintahkan untuk mengikat orang-orang di sebelah kirinya dan berkata kepada kerabat mereka, “Mereka adalah orang-orang malang dari ahli neraka.” Kemudian setiap kabilah mengatakan sesuatu kepada anggota mereka yang malang dan membunuhnya. Itu adalah kejadian luar biasa. Ibnu Tumart berkata, “Dengan begini, agama kalian menjadi benar dan perkara kalian menjadi kuat.”
Pada awal tahun 524 H, Ibnu Tumart menyiapkan dua puluh ribu pasukan yang dipimpin oleh Al Basyir dan Abdul Mukmin. Perang meletus dan kelompok Al Muwahhidun merasa kewalahan. Al Basyir tewas. Perang berlanjut hingga malam hari. Abdul Mukmin shalat bersama pasukannya agar dijauhkan dari ketakutan (shalat al Khauf). Pasukan yang masih bertahan tinggal di sebuah taman yang disebut Al Buhairah. Sebanyak tiga belas ribu pasukan lari. Kala itu Ibnu Tumart sedang sakit. Dia mewasiatkan para pengikutnya agar mereka mengikuti Abdul Mukmin. Ibnu Tumart memberi gelar kepada Abdul Mukmin Amirul Mukminin dan berkata, “Dialah yang akan menaklukkan negeri itu. Belalah dia dengan jiwa dan harta kalian!” Ibnu Tumart meninggal pada tahun 524 H.
Alyasa’ bin Hazm berkata, “Ibnu Tumart menamakan kelompok Al Murabithun sebagai Al Mujassimun. Penduduk Maroko hanya beragama dengan menyucikan Allah dari sifat yang tidak wajib bagi-Nya, menetapkan sifat yang wajib bagi-Nya dan tidak membahas sesuatu yang tidak dapat dipahami oleh akal.” Hingga Alyasa’ berkata, “Lalu Ibnu Tumart mengafirkan mereka karena tidak tahun makna inti aradh (zat sifat) dan esensi (jauhar). Barangsiapa yang tidak tahu keduanya, maka dia tidak tahu antara makhluk dan Pencipta (Al Khaliq). Barangsiapa tidak hijrah dan berperang bersamanya, maka halal darahnya karena marahnya Ibnu Tumart adalah karena Allah.”
Ibnu Khallikan berkata, “Makam Ibnu Tumart di gunung Mashmad dihormati. Dia meninggal pada usia tua. Dia makan roti dengan minyak dan sedikit lemak dari hasil jahitan saudara perempuannya. Dia tidak berubah dari makan roti tersebut ketika dia kaya. Pada suatu hari dia melihat para pengikutnya senang dengan harta rampasan yang banyak, lalu dia memerintahkan untuk membakar mereka semua. Dia berkata, ‘Barangsiapa menginginkan dunia, maka ini bagiannya. Barangsiapa menginginkan akhirat, maka dia akan mendapatkan balasan di sisi Allah.’ Ibnu Tumart banyak mengucapkan banyak pepatah:
Jauhilah dunia karena sesungguhnya kamu
Keluar menuju dunia dengan keadaan tak membawa apa-apa
Ibnu Tumart tidak pernah menaklukkan satu negeri pun. Tapi dia membuat aturan-aturan dan persiapan, kemudian tiba-tiba ajal menjemputnya. Abdul Mukmin menaklukkan banyak negeri setelahnya.
Sebuah pendapat mengatakan, “Bahwasanya Ibnu Tumart menyembunyikan beberapa orang di kuburan para pendeta. Dia datang kepada sekelompok orang untuk menunjukkan tanda kepada mereka. Dia menyeru, ‘Wahai orang-orang yang telah mati, jawablah!’ Mereka menjawab, ‘Engkaulah Al Mahdi yang ma’shum. Engkau dan engkau.’ Ibnu Tumart khawatir kalau tipuannya terbongkar. Kemudian dia mengubur mereka di kuburan itu hingga mereka mati.”
Bagaimanapun juga, Ibnu Tumart adalah salah seorang ahli ilmu. Dia menginginkan sesuatu dan akhirnya dia mendapatkannya. Dia mengambil perhatian orang-orang Barbar dengan klaim tidak pernah berdosa atau bersalah. Dia menumpahkan darah sebagaimana orang-orang Khawarij. 
-----------------
siyar alam an-nubala
pustakaazzam.com

As-Sulthan

Dia adalah penguasa Irak, Mughits Ad-Din Mahmud bin As-Sulthan Muhammad bin Malik Syah bin Alb Arsalan.
Dia berkuasa setelah ayahnya pada saat masih muda pada awal tahun 512 H. Dia orang yang pandai dan cerdas. Dia mempunyai pengetahuan tentang ilmu Nahwu. Dia sangat cinta dengan ilmu dan mengerti tentang sejarah. Daulah Bani Saljuk melemah pada akhir pemerintahannya. Pamannya Sultan Sanjar lebih tinggi derajatnya daripadanya.
Dia meninggal di Hamadzan pada bulan Syawal tahun 525 H.
-----------
siyar alam an-nubala
pustakaazzam.com

Thughtikin


Dia adalah Al Malik Abu Manshur Thughtikin Al Atabik, penguasa Damaskus, salah seorang Amir Sultan Tutusy bin Alb Arsalan dari dinasti Turki Saljuk. Sultan Tutusy terbunuh dan digantikan oleh putranya Duqaq. Tughtikin menjadi panglima garda depan Sultan Duqaq. Kemudian dia menjadi berkuasa setelah Duqaq. Dia adalah orang yang murah hati, pemberani, berwibawa, pejuang melawan bangsa Eropa dan pengawal keadilan. Dia dijuluki Zhahir Ad-Din.
Abu Ya’la Al Qalanisi berkata, “Tughtikin sakit, berat badannya turun dan meninggal pada tahun 522 H. Kematiannya membuat orang bersedih menangis, mengharukan hati dan menggetarkan jiwa.” 
Aku katakan, “Andaikata Allah tidak menciptakan Thughtikin sebagai pembela Islam melawan pasukan Eropa, maka mereka akan menguasai Damaskus. Dia telah berkali-kali mengalahkan pasukan Eropa. Tentara Mosul telah menyelamatkanya bersama Maudud dan Al Bursuqi.”
Ibnu Al Atsir berkata, “Putra pertamanya Taj Al Muluk berkuasa setelahnya.”
Ibnu Al Jauzi berkata, “Dia menguasai Syam selama 35 tahun. putranya meneruskan kebijakannya kemudian berubah menjadi zhalim.”
Aku katakan, “Thughtikin bagaikan pedang yang menghunus bagi pasukan Eropa, tapi dia juga punya kelemahan. Keadaan kritis terjadi dengan datangnya Bahram seorang da’i Syi’ah Ismailiyyah di Syam. Dia berkeliling ke kota-kota dan benteng dengan sembunyi-sembunyi. Dia merayu orang-orang cerdik pandai. Dia ditolong oleh orang-orang bodoh hingga dia tampil di Damaskus karena keputusan yang dikeluarkan oleh penguasa Mardin Ilghazi dengan Thughtikin. Dia menghormati Thughtikin agar terhindar dari penindasannya. Pengikutnya semakin banyak, meliputi rakyat kecil, orang-orang bodoh dan para petani. Menteri Thahir Al Mazdaqani pun sepakat dengannya dan menceritakan rahasia kepadanya. Kemudian dia bertemu dengan Raja Thughtikin untuk mencari perlindungan. Dia diberi wilayah Baniyas pada tahun 520 H. Orang-orang baik merasa terusik. Mereka bersembunyi dari hujatan orang baik. Mereka telah membunuh banyak pejabat. Taj Al Muluk tak lengah. Dia membunuh menteri Kamaluddin Thahir bin Sa’ad pada tahun 523 Hijriyyah di benteng. Dia memenggal kepalanya. Para prajurit bertolak untuk menyerang kaum atheis Ismailiyyah di Damaskus. Mereka menumpas sebanyak enam ribu jiwa di jalan-jalan seketika itu juga. Keadaan menjadi genting. 
Sedangkan Bahram, dia menjadi murtad. Dia membunuh seorang pemuda dari penduduk wadi At-Taim yang bernama Burq. Keluarganya mencari sekutu untuk membalas dendam. Bahram memerangi mereka tapi dia kalah. Dan mereka membunuh Bahram. Orang-orang atheis menyerahkan Baniyas kepada bangsa Eropa dan nasib mereka merana.
Sebuah pendapat mengatakan bahwa Al Mazdaqani bernegosiasi dengan bangsa Eropa untuk menyerahkan Damaskus. Mereka memberinya Shur dan menduduki Damaskus pada hari Jum’at. Al Mazdaqani memerintahkan orang-orang atheis untuk menutup masjid bagi publik. Oleh karena perbuatannya ini, Taj Al Muluk membunuhnya. Taj Al Muluk bertempur dengan pasukan Eropa dan mengalahkan mereka. Ini adalah perang yang hebat.
Pada tahun 520 Hijriyyah pasukan Eropa bertolak untuk menguasai Damaskus. Mereka tinggal di daerah Syaqhab. Thughtikin mengumpulkan orang-orang Turkmenistan dan penduduk Damaskus. Pasukannya bertemu dengan pasukan Eropa pada akhir tahun dan meletuslah perang. Thughtikin dan pasukannya mundur karena tak mampu melanjutkan perang. Beberapa orang menyelinap ke tenda musuh. Mereka membunuh beberapa pasukan eropa. Mereka mendapatkan harta rampasan. Pasukan Eropa kalah dan kemenangan pun diraih.
------------
siyar alam an-nubala
pustakaazzam.com

Amir Al Juyusy


Dia adalah Al Malik Al Afdhal Abu Al Qasim Syahinsyah bin Al Malik Amir Al Juyusy Badr Al Jamali Al Armini.
Ayahnya adalah seorang pejabat di Akka. Dia berjalan menuju pesisir untuk merenovasi negeri Al Mustanshir Al Ubaidi dan menguasai daerah itu. Dia membasmi banyak Amir dan raja-raja menyerangnya hingga dia meninggal. Putranya (Al Afdhal) menggantikan posisinya. Dia adalah tokoh besar. Dia membunuh Nazar putra Al Mustanshir seorang da’i Bathiniyyah dan Atabik Aftakin penguasa pelabuhan. Dia adalah pahlawan pemberani, berwibawa dan mempunyai derajat tinggi. Ketika Al Musta’li meninggal, kepemimpinan dipegang oleh putranya Al Amir. Al Amir adalah sosok fasik. Dia beberapa kali berusaha membunuh Al Afdhal. Dia mengutus orang untuk membunuhnya hingga mereka berhasil melukainya. Al Amir datang ke Al Afdhal menaruh belas kasihan kepadanya atas apa yang terjadi padanya. Ketika Al Afdhal meninggal, Al Amir mengambil semua hartanya. Al Amir tinggal di rumah Al Afdhal selama empat puluh hari. Para sekretaris Al Amir mencatat harta dan kekayaan Al Afdhal. Anak-anak Al Afdhal dipenjara. Al Afdhal berkuasa selama 28 tahun. Para Amir membencinya karena dia orang sunni. Dia pernah menyakiti mereka. Dulu dia orang yang adil, tapi setelah itu muncullah sifat zhalim dan bid’ah. Pemerintahan selanjutnya dipegang oleh Al Makmun Al Batha‘ihi.
Mereka membunuh Al Afdhal pada tahun 515 Hijriyyah ketika dia berusia lima puluh delapan tahun.
Ibnu Khallikan di dalam buku sejarahnya berkata, “Penguasa negeri yang terpecah belah berkata, ‘Al Afdhal meninggalkan 600 juta dinar, 250 dirham, 70 ribu pakaian sutera, tiga puluh hewan tunggangan, perhiasan permata senilai dua belas ribu dinar dan sepuluh aula. Di dalam setiap aula terdapat kelipatan sepuluh paku emas. Di atas paku-paku itu ada sapu tangan yang dikencangkan, di situ terdapat stelan pakaian dan lima ratus kotak. Di dalam kotak tersebut terdapat kiswah dan barang berharga. Dia tidak meninggalkan budak, sapi dan kambing. Susu binatang peliharaannya dijual pada tahun itu dengan harga 30.000 dinar. 
Aku katakan, “Ini semua mungkin kecuali uang dinar dan dirham. Aku tidak sependapat dengan hal di atas. Tak diragukan lagi bahwa dia mengumpulkan uang sebanyak itu pasti dapat melemahkan tentara Mesir. Pada masa itu pasukan Eropa menguasai Quds, Akka, Shur, Tripoli dan daerah pesisir. Seandainya Amir Al Juyusy menggunakan seperempat hartanya saja, dia dapat mengumpulkan banyak tentara dan mampu menumpas bala tentara eropa. Tapi apa yang telah ditetapkan Allah pasti terjadi.
Abu Ya’la bin Al Qalanisi berkata, “Al Afdhal adalah orang yang lurus akidahnya. Dia seorang sunni yang baik reputasinya dan mulia etikanya.”
Setelah meninggalnya Al Amir, Amir Al Juyusy Abu Ali Ahmad bin Al Afdhal diangkat sebagai wazir. Dia sosok yang murah hati, ditaati, pahlawan pemberani dan penguasa sunni seperti ayah dan kakeknya. Dia bersikap keras terhadap Al Hafizh dan membatasi ruang geraknya. Orang Al Hafizh yang merupakan keturunan Eropa menentangnya, mencela dan akhirnya membunuhnya. Kemudian Yanis Al Hafizhi diangkat sebagai menteri. Abu Ali Ahmad sudah terlalu jauh membatasi ruang gerak Al Hafizh. Dia memindahkan barang-barang berharga istana ke rumahnya dan mengklaim bahwa itu harta ayahnya.
Sebuah pendapat mengatakan bahwa dia menyisihkan nama Al Hafizh dalam khuthbah dan melakukan khuthbah sendiri. Rakyat yang mayoritas Syi’ah lari darinya. Dia dibunuh ketika bermain bola pada tahun 526 H dan rakyat membai’at Al Hafizh. Yanis meninggal tiga tahun setelah itu. Kemudian Al Hafizh mengangkat Pangeran Hasan bin Al Hafizh sebagai menteri
----------
siyar alam an-nubala
pustakaazzam.com

Al Qalanisi


Dia adalah seorang imam agung, gurunya para qari, Abu Al Izz Muhammad bin Al Husain bin Bundar Al Wasithi Al Qalanisi, seorang penulis kitab-kitab qira‘at.
Dia dilahirkan pada tahun 435 H.
As-Sam’ani berkata, “Banyak orang dari penjuru negeri yang berguru kepadanya. Aku mendengar Abdul Wahhab Al Anmathi menjelek-jelekkannya dan menisbatkannya ke kelompok Ar-Rafidhah.61 Kemudian aku menemukan Abu Al Izz mempunyai bait-bait tentang keutamaan sahabat. 
Aku berpendapat, “Al Qalanisi mengambil emas (upah) untuk mengajar qira`at sepuluh.”
Ibnu An-Najjar berkata, “Aku mendengar Ahmad Al Bandaniji berkata, ‘Aku bertanya kepada Abu Ja’far Ahmad bin Ahmad bin Al Qash, ‘Apakah kamu belajar qira`ah dari Abu Al Izz?’ Dia menjawab, ‘Ketika dia datang ke Baghdad, aku ingin belajar qira`ah darinya. Dia meminta emas (upah) dariku.’ Aku (Ibnu An-Najjar) berkata, ‘Demi Allah sesungguhnya aku sanggup membayar. Tapi aku takkan memberimu upah untuk belajar Al Qur`an. Jadi, aku tidak belajar qira`ah darinya’.”
Al Qalanisi wafat pada tahun 521 H.
-----------
siyar alam an-nubala
pustakaazzam.com

Ath-Thurthusyi


Dia adalah seorang imam, ulama yang dijadikan panutan, seorang yang zuhud, syaikh madzhab Maliki, Abu Bakar Muhammad bin Al Walid bin Khalaf Al Fihri Al Andalusi. Dia adalah seorang ulama fikih di Alexandria. Thurthusyah adalah akhir perbatasan daerah umat Islam dari Utara Andalusia. Kemudian bangsa Eropa menguasainya dalam waktu yang lama.57
Tinggal di Baitul Maqdis selama beberapa tahun kemudian pindah ke daerah pesisir.
Ibnu Basykuwal berkata, “Ath-Thurthusyi adalah imam yang alim, zuhud, wara’, taat beragama, rendah diri, tidak tamak terhadap dunia dan menerima apa adanya. Al Qadhi Abu Bakar Al Arabi mengabarkan kepada kami tentangnya, bahwa dia orang yang berilmu, bersifat mulia, zuhud dan menerima apa yang menjadi bagiannya. Dia berkata kepadaku, ‘Jika ditampilkan di hadapanmu permasalahan dunia dan permasalahan akhirat, maka bersegeralah memilih akhirat sehingga kamu akan meraih dunia dan akhirat’.” 
Ibrahim bin Al Mahdi berkata, “Syaikh kita Abu Bakar, zuhud dan ibadahnya lebih banyak daripada ilmunya. Beberapa ulama menceritakan bahwa Abu Bakar Ath-Thurthusyi mencetak sekitar dua ratus ahli fikih dan mufti. Pada suatu hari dia mendatangi para fakih ketika mereka sedang tidur. Kemudian menaruh uang dinar di mulut mereka. Mereka terbangun dan melihat apa yang ada di mulut mereka.
Al Qadhi Syamsuddin Ibnu Khallikan berkata, “Ath-Thurthusyi menghadap Al Afdhal putra panglima tentara di Mesir. Al Afdhal menggelar sarungnya untuk Ath-Thurthusyi. Di samping Al Afdhal ada seorang nasrani. Kemudian dia menasihati Al Afdhal hingga membuatnya menangis.58 Lalu dia membacakan bait untuknya:
Wahai orang yang ketaatannya dekat
Haknya pasti dan menjadi keharusan
SesungguHnya orang yang karenanya kamu dimuliakan
Mengira bahwa ini semua adalah bohong
Ath-Thurthusyi menunjuk orang nasrani tersebut dan Al Afdhal memindahkannhya dari tempat duduknya.
Abu Bakar menulis kitab Siraj Al Muluk59 untuk Al Makmun Al Batha‘ihi yang ditunjuk untuk menjadi menteri wazir di Mesir setelah Al Afdhal. Dia mempunyai buku tentang metode menyelesaikan perbedaan pendapat. Al Makmun senantiasa memuji Ath-Thurthusyi dan sangat menghormatinya.
Sebuah pendapat mengatakan bahwa Ath-Thurthusyi lahir pada tahun 451 H.
Ath-Thurthusyi masuk kota Baghdad pada masa Abu Nashr Az-Zainabi. Aku berpendapat Ath-Thurthusyi belajar darinya. Dia berkata, “Aku melihat sebuah tanda di sana pada tahun 478 setelah Ashar. Kami mendengar suara keras dan hari mulai gelap. Tiba-tiba angin berhembus kencang sekali, hitam dan tebal hingga hari terlihat hitam tak terlihat. Cahaya matahari meredup seakan-akan kami berada dalam kegelapan yang pekat. Seseorang tak dapat melihat tangannya. Orang-orang panik. Kami tak ragukan lagi kalau itu adalah hari kiamat atau gempa atau azab yang sedang turun. Kejadian itu berlangsung selama roti yang dibakar telah masak. Hitamnya hari berubah menjadi merah seperti jilatan atau bara api. Kami tak meragukan lagi bahwa itu adalah api yang diturunkan Allah kepada hamba-Nya. Kami putus asa untuk menyelamatkan diri. Keadaan itu berlangsung lebih cepat dari gelapnya hari tadi. Dan Alhamdulillah kami selamat. Orang-orang saling menjarah satu sama lain di pasar. Mereka mengambil barang dagangan dan makanan. Kemudian matahari muncul beberapasan saat hingga akhirnya terbenam. 
Dia mempunyai kitab tentang pengharaman lagu, kitab tentang zuhud, komentar tentang perbedaan pendapat, kitab tentang bid’ah, kitab tentang hal-hal baru, berbakti kepada kedua orang tua, bantahan terhadap orang Yahudi, Kitab Al Amd fi Al Ushul dan kitab-kitab yang lain.
Ath-Thurthusyi wafat di Alexandria pada tahun 520 H. Semoga Allah SWT memberikan rahmat kepadanya.
---------------
siyar alam an-nubala
pustakaazzam.com