Nuruddin


Dia adalah Penguasa Syam, raja yang Adil, dia adalah Nuruddin Nasir pemimpin kaum mukmin, seorang raja yang bertakwa, singa Islam, Abu Al Qasim Mahmud bin Al Atabak, penguasa negeri Abi Sa’id Zanki bin Al Amir Al Kabir Aqsunkur As-Sulthani Al Maliksyah.

Dilahirkan pada tahun 511 H.

Nuruddin adalah seorang pembawa panji keadilan dan perjuangan, sedikit orang seperti dirinya, pengepung Damaskus lalu menguasainya dan mendudukinya selama 20 tahun.

Dia telah membangun madrasah di Halb, Hamash, Albak. Membangun masjid dan menyulap negeri Damaskus menjadi daerah yang disegani dan ditakuti. Dia membangun benteng, memperluas pasar, kemudian merebut Banias dan Al Munaithir.134 Beberapa kali mengalahkan pasukan asing (penjajah) serta membuat mereka takluk dan hina.

Dia seorang pahlawan pemberani nan berwibawa, pandai memanah, berpenampilan menarik yang taat ibadah, takwa dan wara’ menolak untuk bersaksi, juru tulisnya bernama Abu Al Yusr pernah mendengarnya memohon kepada Allah untuk dikumpulkan bersama kelompok binatang dan burung. 

Dia mendirikan lembaga peradilan, bersikap adil terhadap rakyatnya, memberi perhatian lebih kepada kaum lemah, yatim dan yang terpinggirkan. Dia perintahkan untuk menyempurnakan pagar Madinah Nabawiah, mengeluarkan barang-barang sisa uhud yang terkubur oleh banjir, membuka jalan menuju Hijaz, membangun lembah, jalan, jembatan, saluran di Damaskus dan lainnya. Dia juga melakukan itu ketika menjadi penguasa Harran, Sanjar, Ruha, Riqqah, Manbaj, Syaizar, Hamsha, Hamat, Sharkhad, Ba’labak, Tadmur, dan dia mewakafkan banyak buku-buku berharga, mengalahkan pasukan asing dan Armenia dimana mereka berjumlah 30 ribu orang, hanya sedikit dari mereka yang selamat, begitu pula pasukan Banias.

Ketika itu pasukan asing telah mengancam Damaskus, dan mereka menjadikannya menjadi beberapa kelompok kecil, maka datanglah pemimpin pasukan Syawur untuk meminta perlindungan, dia kemudian diterima dengn hormat dan diutus bersamanya pasukan untuk mengembalikannya kepada kedudukannya dan menang, namun dia berbuat jahat dengan meminta bantuan asing, maka Nuruddin menyiapkan pasukan dengan wakilnya Asaduddin Syarikuh dan berhasil menaklukkan Mesir dan memaksa negeri yang melawan, maka pasukan asingpun terusir, Syawur terbunuh dan diserahkan penguasaan Mesir kepada wakil Nuruddin, lalu kepada Shalahuddin, dan diteruskan Al Ubaidiyyin yang dikokohkan olehnya dan didirikanlah dakwah Abbasiah.

Nuruddin seorang yang pandai menulis, gemar membaca, senantiasa shalat berjamaah dan banyak berpuasa. Membaca Al Qur’an, bertasbih, dan sangat menjaga makanan, menghindar dari sifat takabbur yang dekat dengan sifat para ulama dan orang-orang baik. Hal ini disebutkan oleh Al Hafizh bin Asakir. Dia berkata, “Meriwayatkan hadits dan memberinya gelar, setiap yang melihatnya dia seperti syahid (malaikat) karena kebesaran kekuasaannya dan wibawa kerajaannya yang diserahkan kepadanya. dia terlihat lembut dan rendah hati, tidak ada yang menyangkalnya siapapun yang bersamanya baik ketika tinggal maupun ketika bepergian bahwa tidak pernah terdengar darinya keluar kata-kata kotor yang dia suka ataupun yang tidak, dia senantiasa dekat dengan orang-orang shalih, mengunjungi mereka, jika para budaknya mengiba dia membebaskan mereka dan menikahkan mereka dengan para selirnya. Ketika mereka memberontak atas kekuasaannya dia mengucilkan mereka. Ketika berhasil menaklukkan suatu negeri dia menyerahkannya dengan aman, dan setiap kali dia menguasai sebuah kota muncullah keadilan di tengah rakyatnya.”

Abu Al Fajar bin Al Jauzi berkata, “Dia berjuang dan merebut dari tangan musuh lebih dari 50 kota dan benteng. Dia membangun di Al Maushil sebuah masjid yang menelan biaya sebesar 70 ribu dinar. Dia membebaskan pajak sebelum meninggal, mengirim pasukan untuk menaklukkan Mesir. Dia seorang yang rendah hati dan dekat dengan para ulama serta orang-orang shalih, dia kerap menyuratiku bahwa dia ingin menaklukkan Baitul Maqdis. Dia meninggal pada tahun 569 H.

Al Mufiq Abdul Latif berkata, “Nuruddin tidak pernah kendur semangatnya untuk berjihad, dia memakan dari hasil tangannya sendiri, memakai baju wol, dekat dengan sajadah dan mushaf. Dia seorang pengikut madzhab Hanafi dan mentolelir madzhab Syafi’i dan Maliki. Anaknya bernama Ash-Shalih Ismail termasuk yang terbaik pada masanya.”

Ibnu Al Atsir berkata, “Aku telah membaca banyak riwayat hidup, aku tidak menemukan setelah khulafa’ rasyidin dan Umar bin Abdul Aziz seseorang yang lebih baik darinya, selalu menjaga keadilan. Ia tidak makan, berpakaian dan memenuhi kebutuhannya kecuali dari harta miliknya yang diambil dari rampasan perang. Suatu kali istrinya meminta darinya maka dia berikan tiga kedai dagang, dia berkata, ‘Aku tidak punya apapun kecuali ini dan seluruh apa yang ada di tanganku adalah perbendaharaan kaum muslimin.’ Dia rajin bertahajjud dikenal sebagai pengikut madzhab Hanafi.

Al Qathbu An-Naisaburi berkata, “Demi Allah jangan sekali-kali engkau membahayakan dirimu, sesungguhnya jika engkau terluka di medan perang tidak ada seorangpun kaum muslimin kecuali telah kau ambil darinya pedang, dia lantas berkata, Dari manakah pujian itu hingga dikatakan demikian?! Allah telah menjaga negeri ini sebelumku, tidak ada tuhan selain Dia.

Majduddin Ibnu Al Atsir berkata dari riwayat Sabth Al Jauzi tentangnya, “Tidak pernah sekalipun Nuruddin mengenakan sutera dan emas, dia melarang keras penjualan khabar di negerinya. Dia seorang yang gemar berpuasa, dia selalu membaca wirid di malam dan siang hari, banyak bermain dengan bola, seorang fakir tidak senang dengan perbuatan Nuruddin, maka dia menulis surat untuknya, ‘Demi Allah aku tidak bermaksud untuk bermain-main, sesungguhnya kita sedang dalam benteng (kepungan) yang bisa menimbulkan suara yang menjadikan kuda terbiasa untuk berbelok, maju-mundur’.”

Suatu kali dia mendapat hadiah dari Mesir berupa mahkota dari emas, dia berikan barang itu kepada Ibnu Hamuwaih seorang Syaikh sufi yang dijual dengan seribu dinar.

Dia berkata, “Seorang laki-laki mendatanginya menuntut hukum syar’i, maka dia datang bersamanya ke majelis Kamaluddin Asy-Syahrazwari, dia menyampaikan permasalahan kepada hakim, maka hakim berkata kepadanya,  ‘Dia telah menyampaikan kepadamu: Berjalanlah bersamanya seperti engkau berjalan bersama orang-orang, ketika dirinya dan lawannya disamakan dan dihukumi, dia belum mendapat kebenaran, dia adalah seorang budak, kemudian sulthan berkata, ‘Saksikanlah bahwa aku telah menyerahkannya kepadanya’.”

Al Imad berkata dalam kitab Al Barq Asy-Syami, “Pada masa akhir hidup Nuruddin dia banyak melakukan kebaikan, menyerahkan wakaf, membangun masjid, menghilangkan apa yang haram dan tidak ada yang tersisa kecuali jizyah, pajak dan sebagainya. Dia menuliskan itu ke seluruh negeri. Aku tulis untuknya lebih dari seribu surat.

Cucu Al Jauzi berkata, “Dia seorang yang bersemangat, menjahit pakaian, membuat manisan, menjualnya secara sembunyi dan memakan dari hasilnya.”

Ibnu Washil berkata, “Dia seorang yang paling kuat hati dan fisiknya. Tidak ditemukan seseorang di atas kuda perang sekuat dirinya yang kokoh, dia berkata, ‘Setiap kali aku berniat untuk mati syahid aku tidak pernah mendapatinya’.” 

Aku katakan, “Dia wafat di atas kasurnya, dan orang-orang berkata: Nuruddin seorang syahid.”

Cucu Al Jauzi berkata, “Najmuddin bin Salam menceritakan kepadaku dari bapaknya bahwa ketika pasukan asing menduduki Dimyat, Nuruddin ketika itu sedang berpuasa selama 20 hari, dia tidak berbuka kecuali dengan air, maka dia lemah dan hampir-hampir jatuh, dikarenakan wibawanya, tidak ada seorangpun yang berani untuk memperingatinya, maka imamnya Yahya berkata, ‘Dia melihat Nabi SAW ketika tidur, beliau bersabda, ‘Hai Yahya kabarkan kepada Nuruddin akan kepergian pasukan asing dari Dimyat!’ maka aku katakan, ‘Wahai Rasulullah, barangkali dia tidak akan percaya, beliau bersabda, ‘Katakan kepadanya dengan tanda-tanda hari kemenangan!’ Yahya kemudian terbangun, ketika melihat Nuruddin selesai menunaikan shalat dan berdoa, Yahya diliputi rasa gentar, maka Nuruddin bertanya, ‘Hai Yahya..kamu yang akan berbicara  kepadaku atau aku yang akan berbicara?’ Yahya terlihat gugup dan gemetar, lalu dia berkata, ‘Aku yang akan berbicara kepadamu, benarkah tadi malam engkau melihat Nabi SAW? dan berkata kepadamu begini dan begitu?’ dia menjawab, ‘Benar, demi Allah yang mulia apa yang dimaksud dengan tanda-tanda hari kemenangan?’ Dia menjawab, ‘Ketika kita berhadapan dengan musuh, aku sempat khawatir akan Islam, lalu aku menyendiri dan turun, melumuri wajahku dengan pasir.’ Aku katakan, ‘Wahai tuanku siapakah yang terpuji di sana, agama ini adalah agamamu dan tentara in adalah tentaramu, hari ini lakukanlah apa yang pantas dengan kehormatanmu,’ maka dia berkata, ‘Allah akan memberi kita kemenangan atas mereka.’

Kekuasaan itu kemudian dilanjutkan oleh anaknya seorang raja yang shalih dan terkenal, dia menyerahkan Damaskus kepada sultan Shalahuddin dan berpindah ke Halb untuk menetap selama sembilan tahun, dia meninggal di Al Qulang pada usia duapuluh tahun. Dia seorang pemuda yang taat beragama, semoga Allah merahmatinya.

Ibnu Al Khasysyab


Dia adalah seorang syaikh, imam para ulama, ahli Hadits, Imam Nahwu, dia adalah Abu Muhammad Abdullah bin Ahmad bin Ahmad Al Baghdadi bin Al Khasysyab, dialah pencetus matsal dalam bahasa arab sampai dikatakan bahwa dirinya sederajat dengan Ali Al Farisi.

Pada masanya dia unggul dalam Ilmu bahasa, dia telah menulis banyak karya dengan indah dan baik, mempunyai pendengaran yang baik hingga dia sering membacakan untuk temannya. Dia memiliki sejumlah karya yang tidak terhitung yang telah menelurkan banyak ahli Nahwu.

As-Sam’ani berkata, “Dia seorang pemuda yang sempurna dan unggul. Mempunyai pengetahuan yang sempurna dalam adab, bahasa, nahwu dan ilmu hadits. Membaca hadits dengan baik, benar, cepat dan dapat dipahami dan didengarkan oleh banyak orang. Dia telah menguasai kaidah-kaidah dasar dari berbagai segi yang sulit. Aku banyak mendengar bacaannya, dia sangat gemar membaca sepanjang hari tanpa makan.”

Aku mendengar Abu Syuja’ Al Basthami berkata, “Ali bin Al Khasysyab membaca kitab Gharib Al Hadits karya Abu Muhammad Al Qutabi dengan baik dan benar yang tidak pernah aku dengar sebelumnya. Ketika berada di tengah-tengah kelompok para ahli mereka hendak mencari-cari kesalahannya dalam membaca namun mereka tidak mampu. Dia seorang yang humoris.”

Dikatakan bahwa suatu ketika dibacakan kepadanya dua buah syair, ketika baru mendengar satu syair, dia berkata, “Syairmu lebih buruk dari yang itu.” Penyair tersebut heran dan berkata kepadanya, “Bagaimana engkau bisa menilai demikian padahal engkau belum mendengar yang satu lagi?” Dia menjawab, “Karena yang ini tidak lebih buruk dari yang itu.”

Suatu saat dia mengatakan kepada seseorang, “Ada apa dengan dirimu?” Orang tersebut menjawab, “Pikiranku sedang kacau,” dia berkata, “Jika kamu tidak guncangkan pikiranmu itu ia tidak akan mencederaimu.”

Hamzah bin Al Qubbaithi berkata, “Ibnu Al Khasysyab seorang yang gemar memakai serban dalam waktu lama hingga terlihat menghitam dan kotor yang di atasnya terdapat kotoran burung.

Ibnu Al Akhdar berkata, “Ibnu Al Khasysyab diketahui tidak pernah menikah dan tidak pula menggundik. Dia terlihat kotor, minum dengan gelas pecah, kami menjenguknya ketika dia jatuh sakit. Kami menemukannya dalam keadaan buruk maka Qadhi Abu Al Qasim bin Al Fira’ memindahkannya ke rumahnya, memberinya pakaian bersih, menghidanginya dengan makanan dan minuman. Kami lihat ketika kitab-kitabnya dirapikan kembali berserakan, anak penjual rempah banyak menjual bukunya sampai tersisa sepersepuluh saja yang ditinggal di Rabath Al Ma’muniah.”

Ibnu An-Najjar berkata, “Dia seorang yang bakhil dan tidak punya malu, bermain catur di pinggir jalan, terkadang berperilaku layaknya tukang sulap sambil bercanda. Dia menulis kitab untuk membantah karya Al Hariri dalam kitab Maqaamaatahu, mensyarah kitab Al-Luma’ dan menulis kitab untuk membantah Abu Zakaria At-Tabrizi.

Al Qifthi berkata, “Penjelasannya lebih baik dari tulisannya yang kerap tidak sempurna.”

Ibnu An-Najjar berkata, “Aku mendengar Al Mubarak bin Al Mubarak An-Nahwi berkata, ‘Jika Ibnu Al Khasysyab tertarik pada sebuah kitab, dia mengambil dan membacanya, mengikat kertasnya lalu berkata, kitab ini terpisah-pisah, dan dibelilah kitab tersebut dengan harga murah’.”

Aku katakan, “Andai saja dia bertobat” Abdullah bin Abu Al Faraj Al Jubba`i pernah berkata, “Aku pernah bermimpi bertemu Ibnu Al Khasysyab berpakaian putih dengan wajah bersinar-sinar, aku lantas bertanya, Apa yang telah Allah perbuat atas dirimu? Dia menjawab, ‘Dia telah mengampuniku dan memasukkanku ke dalam surga, tetapi Allah menghalangiku dan sebagian besar dari para ulama yang tidak beramal.

Dia meninggal pada tahun 567.

As-Sam’ani


Dia adalah seorang imam, hafizh, satu-satunya yang terpercaya, seorang ahli hadits dari Khurasan, dia adalah Abu Sa’ad Abdul Karim bin Al Imam Al Hafizh An-Naqid Abu Bakar Muhammad bin Al Alamah, mufti Khurasan Abu Al Muzhaffar Manshur  At-Tamimi As-Sam’ani Al Khurasani Al Marwazi, pemilik karya yang banyak.

Dia dilahirkan di Marwa pada tahun 506. Tidak terhitung negeri dan Syaikh  tempat dia menimba ilmu.

Dia belajar di Amul Thabaristan, Abiward, Isfirayin, Al Anbar, Bukhara, Bastham, Bashrah, Baghsyur, Balakh, Tarmidz, Jurjan, Halb, Hamat, Hamshin, Khartank di dekat makam Al Bukhari, Khusriwajird, Ar-Rayy, Sarkhas, Samarkand, Hamadzan, Harat, Al Haramain, Kufah, Thus, Al Madain, Biqa’ dan beberapa daerah lain yang panjang untuk disebutkan, dia sempat mengunjungi Al Quds dan Al Khalil dimana daerah tersebut berada di bawah kekuasaan asing. Menyusun strategi untuk mengancam mereka, dimana hal tersebut tidak pernah dilakukan oleh para ulama salaf dan tidak pula oleh Ibnu Asakir.

Dia dikenal memiliki watak yang baik, ingatan yang tajam, pemahaman yang cepat, tulisan yang kuat dan cepat. Dia meluangkan waktu untuk mengajar, memberi fatwa dan petuah serta membimbing keluarganya. Mereka memberinya gelar bapaknya Taaj Al Islam. Bapaknya juga bergelar Mu’in Ad-Din.

Ibnu An-Najjar berkata, “Aku mendengar seseorang menyebutkan bahwa jumlah guru Abu Sa’ad sekitar tujuh ribu Syaikh. Dia berkata, ‘Jumlah ini belum pernah dicapai oleh seorangpun. Dia seseorang yang memiliki karya indah, syair dan lirik lagu. Mempunyai sifat lembut, baik, hafizh, sering melakukan perjalanan, terpercaya, jujur dan taat agama. Banyak di antara para Syaikh  dan sahabatnya yang belajar darinya’.”

Al Hafizh Abu Sa’ad meninggal pada tahun 562 H, di Marwa pada usia 56 tahun.