Abu Dzar

Dia adalah Jundub bin Junadah Al Ghifari.
Menurut aku, dia termasuk salah satu As-Sabiqun Al Awwalun, dan juga sahabat Muhammad SAW yang terpandang.

Ada yang mengatakan bahwa dia orang kelima dari lima orang terkenal dalam Islam. Kemudian dia dikembalikan ke negrinya dan tinggal di sana atas perintah Nabi SAW. Ketika Nabi SAW hijrah, Abu Dzar juga ikut berhijrah, menemani dan berjihad dengan beliau.

Dia memberikan fatwa pada masa pemerintahan Abu Bakar, Umar, dan Utsman.
Selain itu, dia dikenal mempunyai sifat zuhud, jujur, cendekia, pekerja keras, selalu mengatakan kebenaran, dan tidak takut dicela siapa pun demi menegakkan kalimat Allah.

Abu Dzar juga ikut serta dalam penaklukkan Baitul Maqdis bersama Umar.
Diriwayatkan dari Abdullah bin Ash-Shamit, dia berkata: Abu Dzar berkata, “Suatu ketika kami pergi bersama kaum kami ke negeri Ghifar. Mereka kemudian melanggar pantangan pada bulan-bulan haram. Aku, saudaraku, Unais, dan Ibuku lalu pergi ke rumah paman. Di sana kami diperlakukan dengan baik dan mulia, hingga kaumnya merasa iri kepada kami, mereka berkata kepadanya, ‘Jika kamu keluar dari keluargamu maka Unais mengatakan sesuatu yang buruk tentangmu kepada mereka’.” Paman kami lalu menceritakan kabar tersebut kepada, maka aku berkata, “Segala kebaikan yang telah kamu lakukan pada masa lalu telah kamu nodai dan tidak ada lagi yang dapat mengumpulkanmu di kemudian hari.” Setelah itu kami menyodorkan sepotong daging unta dan membawanya saat pamanku menangis. Kami lalu pergi hingga ke Makkah. Unais lantas memperkarakan daging unta kami dan yang serupa dengan itu, kemudian keduanya mendatangi dukun dan dukun itu memberikan pilihan kepada Unais. Kemudian Unais datang lagi kepada kami dan menaiki lagi unta kami. Dia berkata, “Wahai Keponakanku, sebenarnya aku telah mengerjakan shalat selama 3 tahun, sebelum aku bertemu Rasulullah.” Aku lalu bertanya, “Untuk siapa?” Dia menjawab, “Untuk Allah.” Aku bertanya lagi, “Ke arah mana kamu menghadap?” Dia menjawab, “Aku menghadap kepada Allah, dan ketika aku sedang mengerjakan shalat Isya hingga akhir malam, aku mendapati diriku seperti pakaian yang dilempar ke dalam bejana, lalu disengat matahari.” Unais berkata, “Sesungguhnya aku mempunyai hajat di Makkah, maka kabulkanlah aku.” 

Unais pun pergi ke Makkah tetapi tidak segera datang kepadaku. Ia kemudian datang kepadaku. Aku lalu bertanya, “Apa yang kamu lakukan?” Dia menjawab, “Aku telah bertemu dengan orang yang beragama sepertimu dan dia mengaku sebagai rasul.” Kemudian aku berkata, “Apa yang dikatakan orang-orang?” Mereka mengatakan bahwa dia adalah seorang penyair, dukun, dan penyihir.” Abu Dzar berkata, “Sementara Unais adalah seorang penyair.” Lalu Unais berkata, “Aku telah mendengar perkataan dukun itu, tetapi aku tahu bahwa perkataan orang-orang itu tidak benar. Aku menganggap perkataannya jauh lebih tinggi dibandingkan perkataan para penyair. Tidak pantas seorang mengatakan bahwa dia seorang penyair. Demi Allah, dia benar (jujur) dan mereka salah (dusta).” Aku berkata, “Beri aku kesempatan untuk melihatnya.”

Setelah itu aku pergi ke kota Makkah. Di sana aku bertanya  kepada salah satu penduduknya, “Siapakah orang yang kalian panggil dengan Shabi` itu?” Orang itu menunjuk kepadaku dan berkata, “Shabi`.” Kemudian para penduduk lembah itu melihatku dengan penuh keheranan dan kekaguman, hingga aku jatuh pingsan. Ketika aku sadar, aku merasa seakan-akan menjadi batu (patung) merah.117 Selanjutnya aku mendatangi air zamzam kemudian membersihkan darah yang menempel di badanku, lalu meminum air zamzam itu.

Aku lalu berkata, “Wahai Keponakanku, sudah 30 hari aku melewati siang dan malam, tetapi aku tidak makan apa pun kecuali air zamzam, maka lambungku terasa kembung. Tetapi aku tidak mendapati apa pun dalam lambungku yang menunjukkan bahwa aku lapar.”

Tatkala penduduk Makkah sedang menikmati cahaya bulan purnama, datang dua orang perempuan melakukan thawaf dan berdoa kepada patung Isaf dan Nailah.118 Keduanya lalu mendatangiku di tengah-tengah thawaf mereka. Aku kemudian mengatakan kepada mereka bahwa ada orang yang ingin menikahi salah seorang dari mereka. Tetapi mereka saling melarang. Setelah itu mereka mendatangiku lagi, kemudian aku berkata, “Mereka seperti kayu, akan tetapi aku tidak tahu nama mereka.” Namun mereka pergi dan berpaling seraya berkata, ‘Andaikan di sini ada orang yang berasal dari golongan kami’.” 

Mereka kemudian bertemu dengan Rasulullah SAW, sementara Abu Bakar yang baru saja turun berkata, “Ada apa dengan kalian?” Mereka menjawab, “Ada orang Shabi`ah di antara Ka’bah dan penutupnya.” Abu Bakar bertanya lagi, “Apa yang dia katakan kepada kalian?” Mereka menjawab, “Dia mengatakan sebuah kalimat yang membuat mulut terkunci.”

Setelah itu Rasulullah SAW dan sahabat beliau datang mengucapkan salam kepada Hajar Aswad, lalu melakukan thawaf di Ka’bah, lantas shalat. Aku adalah orang yang pertama kali mendapat salam Islam dari beliau, ketika itu beliau bersabda, “Alaika warahmatullaah (semoga rahmat Allah dilimpahkan atas dirimu), dari mana kamu?” Aku menjawab, “Dari Ghifar.” Mendengar jawabanku, Rasulullah SAW merentangkan tangannya dan meletakkan jari-jarinya di atas dahinya. Selanjutnya aku berkata dalam diriku bahwa Rasulullah SAW tidak suka jika aku menisbatkan diriku kepada kaum Ghifar, maka aku berusaha mendekat lalu menarik tangan beliau, tetapi sahabat beliau menolakku karena dia lebih tahu tentang beliau dibanding diriku. Rasulullah SAW kemudian mengangkat kepalanya dan berkata, “Sejak kapan kamu di sini?” Aku menjawab, “Sejak 30 hari yang lalu.” Kemudian beliau bertanya lagi, “Siapakah yang memberimu makan?” Aku menjawab, “Aku tidak pernah makan apa pun kecuali air zamzam, hingga tubuhku menjadi gemuk dan aku tidak pernah merasa lapar.” Beliau lalu bersabda, “Sesungguhnya air zamzam adalah air yang diberkahi dan merupakan sari dari semua makanan.” Tak lama kemudian Abu bakar berkata, “Ya Rasulullah, izinkanlah aku untuk memberinya makan malam ini.” 

Kami kemudian pergi ke rumah Abu Bakar, dan sesampainya di sana ia memberiku satu porsi buah anggur dari Tha`if, dan ini merupakan makanan yang pertama kali aku makan selain air zamzam.

Ketika aku mendatangi Rasulullah SAW, beliau bersabda, “Sesungguhnya telah ditunjukkan kepadaku tanah yang memiliki banyak pohon kurma, yang tidak lain adalah Yatsrib (Madinah). Maukah kamu menyampaikan risalahku kepada kaummu? Semoga melalui dirimu, Allah memberi mereka manfaat dan Allah memberikan balasan kepadamu karena mereka.” 

Setelah itu aku pergi, lalu bertemu Unais. Dia berkata, “Apa yang kamu lakukan?” Aku menjawab, “Aku telah menganut Islam dan aku membenarkanya.” Unais berkata, “Aku tidak membenci agamamu, karena itu aku pun masuk Islam dan membenarkannya.” 

Setelah itu Ibu kami pun masuk Islam. Kami terus berjalan membawa risalah Rasulullah SAW kepada kaum kami. Kemudian separuh dari mereka memeluk Islam, yang dipimpin oleh Ima‘ bin Rahadhah. Yang lain lantas berkata, “Apabila Rasulullah datang ke Madinah maka kami akan masuk Islam.” Tak lama kemudian Rasulullah SAW datang ke Madinah dan akhirnya mereka memeluk Islam.

Ketika Aslam datang, mereka berkata, “Ya Rasulullah, kami dan saudara-saudara kami masuk Islam lagi setelah dulu mereka memeluk Islam.” Rasulullah kemudian bersabda, 

“Kaum Ghifar, semoga Allah mengampuni dosa-dosanya, dan Aslam, semoga Allah memberikan keselamatan kepadanya.”

Al Waqidi berkata, “Orang yang membawa bendera (panji) kaum Ghifar pada waktu perang Hunain adalah Abu Dzar.”

Abu Dzar berkata ketika terjadi perang Tabuk, “Aku berjalan dengan lambat karena keledaiku sangat kurus.”
Diriwayatkan dari Abu Sirin, dia berkata, “Aku pernah bertanya kepada keponakan Abu Dzar, ‘Apa yang telah ditinggalkan oleh Abu Dzar?’ Dia berkata, ‘Dia meninggalkan 2 ekor keledai betina, seekor keledai jantan, kambing betina, dan beberapa binatang untuk alat transportasi’.”

Diriwayatkan dari Abu Harb bin Al Aswad, bahwa aku mendengar dari Abdullah bin Umar, dia mendengar Rasulullah SAW bersabda, “Tidak ada orang yang paling jujur perkataannya kecuali Abu Dzar.”

Diriwayatkan dari Abu Al Yaman dan Abu Al Mutsanna, bahwa Abu Dzar pernah berkata, “Rasulullah telah mengambil janji setia dariku atas lima perkara, dan mengikat perjanjian itu dengan tujuh perkara. Beliau menyaksikan tujuh perkara kepadaku, salah satunya aku tidak takut dicela untuk menegakkan agama Allah.”
Diriwayatkan dari Abu Dzar, dia berkata, “Rasulullah SAW berwasiat kepadaku dengan tujuh hal, yaitu: pertama, mencintai orang miskin dan dekat dengan mereka. Kedua, melihat orang di bawahku. Ketiga, tidak meminta apa pun kepada orang lain. Keempat, bersilaturrahim walaupun terlambat. Kelima, berkata benar sekalipun pahit. Keenam, tidak takut dicela karena Allah. Ketujuh, memperbanyak membaca laahaula wala quwwata illa billahil aliyyil adziim, karena kalimat ini termasuk harta simpanan di bawah Arsy.”

Diriwayatkan dari Zaid bin Khalid Al Juhani, dia berkata: Ketika aku bersama Utsman, tiba-tiba Abu Dzar datang, dan ketika Utsman melihatnya, dia berkata, “Selamat datang wahai saudaraku.” Abu Dzar menjawab, “Selamat datang saudaraku, engkau telah menguatkan cita-cita kami. Demi Allah, jika engkau menyuruhku merangkak maka aku akan melakukannya semampuku. Aku pernah keluar bersama Rasulullah SAW menuju benteng bani fulan, ketika itu beliau bersabda kepadaku, ‘Celakalah orang sesudahku’. Mendengar itu, aku menangis dan berkata, ‘Wahai Rasulullah, bukankah aku termasuk orang yang masih hidup setelahmu?’ Beliau lalu bersabda, ‘Ya, jika kamu melihat sebuah bangunan yang retak maka pergilah ke Maroko menuju negeri Qudha’ah’.”

Ustman pernah berkata kepada Abu Dzar, “Aku senang engkau bergaul dengan teman-temanmu, tetapi aku takut orang-orang bodoh itu berbuat sesuatu yang tidak baik kepadamu.” 

Al Ma’ruf bin Suwaid berkata: Ketika kami singgah di Zabadzah, tiba-tiba seorang pria muncul dengan memakai selendang, begitu juga budaknya. Kami kemudian berkata kepadanya, “Seandainya kamu memakai keduanya maka hal itu akan menjadi aksesoris bagimu. Oleh karena itu, belilah selendang lain untuk budakmu!” Pria itu menjawab, “Aku akan bercerita kepada kalian, antara aku dan sahabatku pernah terlibat perang mulut, sedangkan ibunya adalah keturunan A’jami (non-Arab), lalu aku mencelanya. Namun ketika hal itu didengar Rasulullah SAW, beliau bertanya kepadaku, ‘Apakah engkau telah mencela seseorang?’ Aku menjawab, ‘Benar’. Beliau bersabda, ‘Apakah kamu mencela ibunya?’ Aku menjawab, ‘Siapa mencela seseorang niscaya dia akan mencela ayah dan ibunya’. Beliau bersabda, ‘Kamu adalah orang yang masih memiliki sifat-sifat jahiliyah dalam dirimu’.”

Dia kemudian menyebutkan redaksi hadits selanjutnya hingga sampai pada perkataan, “Allah menjadikan saudaramu berada di bawah tanggunganmu, barang siapa yang saudaranya berada di bawah tanggungannya maka dia harus memberinya makan dari makanannya, memberinya pakaian dari pakaiannya, dan tidak membebaninya dengan sesuatu yang tidak mampu dilakukan’.”

Diriwayatkan dari Ibnu Buraidah, dia berkata: Ketika Abu Musa berjalan, dia berpapasan dengan Abu Dzar, maka Abu Musa pun memberikan penghormatan kepadanya, meskipun Abu Dzar adalah pria berkulit hitam dan berambut kriting. Abu Dzar kemudian berkata, “Menjauhlah dariku!” Abu Musa menjawab, “Selamat datang saudaraku!” Abu Dzar berkata lagi, “Aku bukan saudaramu! Tetapi aku menjadi saudaramu sebelum kamu kaya.” 

Abu Dzar wafat pada tahun 23 Hijriyah.
Nabi SAW pernah berkata kepada Abu Dzar, lantaran kekuatan dan keberanian yang dimiliki Abu Dzar, “Wahai Abu Dzar, aku melihatmu lemah sekarang, dan aku mencintaimu sebagaimana aku mencintai diriku sendiri. Oleh karena itu, kamu tidak perlu bersikap kasar kepada orang lain dan jangan pernah berusaha menguasai harta anak yatim.”

Mungkin yang dimaksud Rasulullah SAW dalam hadits tersebut adalah lemah akal, sehingga seandainya dia diamanati untuk mengelola harta anak yatim, maka dia akan menafkahkan seluruhnya di jalan kebaikan dan membiarkan anak yatim menjadi fakir, karena Abu Dzar melarang untuk menyimpan harta benda. Sedangkan yang dimaksud dengan tidak bersikap kasar adalah agar Abu Dzar menjadi orang yang lembut dan belas kasih, karena Abu Dzar tipe sahabat yang temperamental, sebagaimana yang telah diceritakan. Oleh karena itu, Nabi SAW menasihatinya. 

Diriwayatkan dari Abu Utsman An-Nahdi, dia berkata, “Aku melihat Abu Dzar bersandar pada tunggangannya sambil menghadap ke arah terbitnya matahari. Aku mengira dia tidur, maka aku mendekatimya dan berkata, ‘Apakah kamu tidur wahai Abu Dzar?’ Dia menjawab, ‘Tidak, tetapi aku sedang shalat’.”

__________
siyar alam an-nubala
pustakaazzam.com

No comments:

Post a Comment

Post a Comment