Showing posts with label Shahabiyah. Show all posts
Showing posts with label Shahabiyah. Show all posts

Ummu Kultsum


Dia adalah putri Uqbah bin Mu’ith dan termasuk wanita yang ikut hijrah ke Madinah.
Dia masuk Islam dan berbai’at, tetapi dia tidak siap untuk hijrah sampai tahun 7 Hijriyah. Dia hijrah pada saat terjadi perdamaian Hudaibiyyah. Setelah itu diikuti oleh saudaranya, Al Walid dan Umarah. Ketika sampai di Madinah mereka berkata, “Ya Muhammad, kami mempunyai persyaratan.” Ummu Kultsum berkata, “Ya Rasulullah, apakah engkau akan mengembalikanku kepada orang-orang kafir yang menyesatkanku dari agamaku sehingga aku tidak sabar, sedangkan keadaan perempuan sangat lemah.” 

Allah SWT pun menurunkan firman-Nya,   “Jika datang kepada kalian orang-orang mukminat yang hijrah maka ujilah mereka ….” (Qs. Al Mumtahanah [60]: 10-11). 

Beliau lalu bersabda “Allah tidak mengeluarkanmu sekalian kecuali karena cinta kepada Allah, Rasulullah, dan agama Islam. Apakah kalian keluar karena suami atau harta? Jika kalian berkata seperti itu berarti kalian tidak kembali kecuali kepada kekafiran.”

Ketika berada di Makkah, Ummu Kultsum belum bersuami. Oleh karena itu, Zaid bin Al Harits menikahinya, tetapi lalu menceraikannya. Kemudian Abdurrahman bin Auf menikahinya, lalu dikaruniai putra bernama Ibrahim dan Humaid. Ketika Abdurrahman meninggal, Amr bin Al Ash menikahinya, dan Ummu Kultsum meninggal di sisinya.

Ummu Kultsum wafat pada masa kekhalifahan Ali RA.

Ummu Kultsum


Dia adalah putri Uqbah bin Mu’ith dan termasuk wanita yang ikut hijrah ke Madinah.
Dia masuk Islam dan berbai’at, tetapi dia tidak siap untuk hijrah sampai tahun 7 Hijriyah. Dia hijrah pada saat terjadi perdamaian Hudaibiyyah. Setelah itu diikuti oleh saudaranya, Al Walid dan Umarah. Ketika sampai di Madinah mereka berkata, “Ya Muhammad, kami mempunyai persyaratan.” Ummu Kultsum berkata, “Ya Rasulullah, apakah engkau akan mengembalikanku kepada orang-orang kafir yang menyesatkanku dari agamaku sehingga aku tidak sabar, sedangkan keadaan perempuan sangat lemah.” 

Allah SWT pun menurunkan firman-Nya,   “Jika datang kepada kalian orang-orang mukminat yang hijrah maka ujilah mereka ….” (Qs. Al Mumtahanah [60]: 10-11). 

Beliau lalu bersabda “Allah tidak mengeluarkanmu sekalian kecuali karena cinta kepada Allah, Rasulullah, dan agama Islam. Apakah kalian keluar karena suami atau harta? Jika kalian berkata seperti itu berarti kalian tidak kembali kecuali kepada kekafiran.”

Ketika berada di Makkah, Ummu Kultsum belum bersuami. Oleh karena itu, Zaid bin Al Harits menikahinya, tetapi lalu menceraikannya. Kemudian Abdurrahman bin Auf menikahinya, lalu dikaruniai putra bernama Ibrahim dan Humaid. Ketika Abdurrahman meninggal, Amr bin Al Ash menikahinya, dan Ummu Kultsum meninggal di sisinya.

Ummu Kultsum wafat pada masa kekhalifahan Ali RA.

Shafiyyah (Bibi Rasulullah SAW)


Dia adalah putri Abdul Muththalib dari bani Hasyim. Dia saudara kandung Hamzah, ibu penolong Nabi SAW, Az-Zubair, dan ibunya berasal dari bani Zuhrah. 

Dia menikah dengan Al Harits, saudara Abu Sufyan bin Harabi, tetapi dia meninggal dunia. Kemudian dia dinikahi oleh Al Awwam, saudara Khadijah binti Khuwailid, lalu melahirkan seorang putra bernama Az-Zubair, As-Sa‘ib, dan Abdul Ka’bah. 

Yang benar adalah, tidak ada di antara bibi-bibi Nabi SAW yang masuk Islam kecuali Shafiyyah. Dia pernah disakiti oleh saudaranya, Hamzah, tetapi dia tetap sabar dan tabah. Dia juga termasuk wanita yang pertama kali hijrah. 

Shafiyyah meninggal tahun 20 Hijriyah dan dimakamkan di Baqi’ saat berusia sekitar 70 tahun.

Shafiyyah (Bibi Rasulullah SAW)


Dia adalah putri Abdul Muththalib dari bani Hasyim. Dia saudara kandung Hamzah, ibu penolong Nabi SAW, Az-Zubair, dan ibunya berasal dari bani Zuhrah. 

Dia menikah dengan Al Harits, saudara Abu Sufyan bin Harabi, tetapi dia meninggal dunia. Kemudian dia dinikahi oleh Al Awwam, saudara Khadijah binti Khuwailid, lalu melahirkan seorang putra bernama Az-Zubair, As-Sa‘ib, dan Abdul Ka’bah. 

Yang benar adalah, tidak ada di antara bibi-bibi Nabi SAW yang masuk Islam kecuali Shafiyyah. Dia pernah disakiti oleh saudaranya, Hamzah, tetapi dia tetap sabar dan tabah. Dia juga termasuk wanita yang pertama kali hijrah. 

Shafiyyah meninggal tahun 20 Hijriyah dan dimakamkan di Baqi’ saat berusia sekitar 70 tahun.

Saudah Ummul Mukminin


Dia adalah putri Zam’ah bin Qais Al Quraisyiyyah Al Amiriyyah. 

Dia orang yang pertama kali dinikahi oleh Nabi SAW setelah Khadijah dan beliau hanya menikah dengannya selama kurang lebih 3 tahun atau lebih, hingga beliau menggauli Aisyah. 
Saudah adalah sosok wanita yang baik dan mulia. Ia bertubuh gemuk. 

Saudah pertama kali menikah dengan As-Sakran bin Amr, saudara Suhail bin Amr Al Amiri.
Saudah juga istri Nabi SAW yang selalu memberikan gilirannya kepada Aisyah untuk membahagiakan hati Rasulullah SAW, dan dia memang wanita yang tidak begitu tertarik dengan laki-laki. 

Diriwayatkan dari Aisyah, dia berkata, “Aku tidak pernah melihat seorang wanita yang aku senangi untuk dijadikan pendampingku selain Saudah.”

Diriwayatkan oleh Ibrahim, bahwa Saudah pernah berkata, “Wahai Rasulullah, tadi malam saat aku shalat di belakangmu, lalu engkau ruku, aku memegang hidungku, karena aku takut darah menetes dari hidungku.” Mendengar itu, Rasulullah SAW tertawa. Dia sering membuat Rasulullah SAW tertawa lantaran kata-katanya.
Aisyah berkata, “Saudah pernah meminta izin —pada malam Muzdalifah— untuk pergi lebih dahulu sebelum orang-orang, karena dia wanita yang lemah. Rasulullah SAW pun mengizinkannya.”

Saudah Ummul Mukminin


Dia adalah putri Zam’ah bin Qais Al Quraisyiyyah Al Amiriyyah. 

Dia orang yang pertama kali dinikahi oleh Nabi SAW setelah Khadijah dan beliau hanya menikah dengannya selama kurang lebih 3 tahun atau lebih, hingga beliau menggauli Aisyah. 
Saudah adalah sosok wanita yang baik dan mulia. Ia bertubuh gemuk. 

Saudah pertama kali menikah dengan As-Sakran bin Amr, saudara Suhail bin Amr Al Amiri.
Saudah juga istri Nabi SAW yang selalu memberikan gilirannya kepada Aisyah untuk membahagiakan hati Rasulullah SAW, dan dia memang wanita yang tidak begitu tertarik dengan laki-laki. 

Diriwayatkan dari Aisyah, dia berkata, “Aku tidak pernah melihat seorang wanita yang aku senangi untuk dijadikan pendampingku selain Saudah.”

Diriwayatkan oleh Ibrahim, bahwa Saudah pernah berkata, “Wahai Rasulullah, tadi malam saat aku shalat di belakangmu, lalu engkau ruku, aku memegang hidungku, karena aku takut darah menetes dari hidungku.” Mendengar itu, Rasulullah SAW tertawa. Dia sering membuat Rasulullah SAW tertawa lantaran kata-katanya.
Aisyah berkata, “Saudah pernah meminta izin —pada malam Muzdalifah— untuk pergi lebih dahulu sebelum orang-orang, karena dia wanita yang lemah. Rasulullah SAW pun mengizinkannya.”

Juwairiyyah Ummul Mukminin


Dia adalah putri Al Harits bin Abu Dhirar, yang berasal dari keturunan bani Mushthaliq. Dia ditawan dalam perang Al Muraisi’ tahun 5 Hijriyah dan namanya adalah Barrah, lalu diganti. Dia termasuk wanita yang cantik dan ayahnya seorang tokoh yang ditaati. 

Ibnu Sa’ad dan lainnya berkata, “Dia keturunan bani Mustaliq dari Khuza’ah dan suaminya, sebelum masuk Islam, adalah keponakannya sendiri bernama Musafi’ bin Sofwan bin Abu As-Syufar.

Ayahnya yang bernama Al Harits menemui Nabi SAW kemudian menyatakan masuk Islam. Diriwayatkan dari Juwairiyah, dia berkata, “Rasulullah SAW menikahiku ketika aku berumur 20 tahun.” Dia wafat tahun 50 Hijriyah. 

Diriwayatkan dari Juwairiyah, bahwa Nabi SAW menemuinya pada hari Jum’at ketika dia (Juwairiyah) sedang berpuasa. Rasululllah SAW bertanya kepadanya, “Apakah kemarin kamu puasa?” Dia berkata, “Tidak.” Kemudian beliau bertanya, “Apakah kamu besok ingin berpuasa?” Juwairiyah menjawab, “Tidak.” Beliau pun bersabda, “Kalau begitu berbukalah!” 

Diriwayatkan dari Juwairiyah, dia berkata, “Rasulullah SAW datang menemuiku pada waktu pagi ketika aku sedang bertasbih, kemudian beliau pergi untuk memenuhi kebutuhannya. Setelah itu beliau pulang pada waktu pertengahan siang. Beliau lantas bertanya, ‘Apakah kamu masih tetap duduk sejak tadi?’ Aku menjawab, ‘Ya’. Rasulullah SAW bersabda, ‘Sesungguhnya aku ingin memberitahumu beberapa kalimat yang jika dibaca maka pahalanya sama dengan semua bacaan tasbih yang kamu baca tadi, yaitu subhaanallah adada khalqihi (sebanyak tiga kali), subhaanallah zinata arsyihi (sebanyak tiga kali), subhanallah ridha nafsihi (sebanyak tiga kali), dan subhanallah midaada kalimaatihi (sebanyak tiga kali)’.” 

Diriwayatkan dari Aisyah, dia berkata, “Ketika Rasulullah SAW membagikan para tawanan bani Mushthaliq, Juwairiyah jatuh pada bagian seorang sahabat, tetapi Juwairiyah tidak senang dengannya. Juwairiyah wanita yang manis dan cantik, sehingga setiap pria yang melihatnya pasti tertarik dengannya. Dia lalu mendatangi Rasulullah SAW untuk meminta pertolongan kepada beliau, ia berkata, ‘Wahai Rasulullah, aku bernama Juwairiyah binti Al Harits, pemimpin kaumku. Aku tertimpa musibah yang tidak ringan bagiku dan aku merasa tertekan, maka tolonglah aku!’ Rasulullah SAW kemudian menjawab, ‘Maukah kamu aku beri alternatif yang lebih baik dari itu? Bagiamana jika kamu aku tebus dan aku nikahi?’ Juwairiyah menjawab, ‘Ya’. Rasulullah SAW lalu melakukannya. 

Ketika berita itu diketahui oleh para sahabat, mereka berkata, ‘Bani Mutshthaliq adalah mertua Rasulullah SAW!’ Mereka pun membebaskan tawanan dari kalangan bani Mushthaliq yang berada di tangan mereka. Berkat pernikahannya dengan Rasulullah SAW, seratus orang tawanan dari bani Mushthaliq dibebaskan. Aku tidak mengetahui ada wanita yang memberikan berkah terbesar bagi kaumnya selain Juwairiyah.”

Juwairiyyah Ummul Mukminin


Dia adalah putri Al Harits bin Abu Dhirar, yang berasal dari keturunan bani Mushthaliq. Dia ditawan dalam perang Al Muraisi’ tahun 5 Hijriyah dan namanya adalah Barrah, lalu diganti. Dia termasuk wanita yang cantik dan ayahnya seorang tokoh yang ditaati. 

Ibnu Sa’ad dan lainnya berkata, “Dia keturunan bani Mustaliq dari Khuza’ah dan suaminya, sebelum masuk Islam, adalah keponakannya sendiri bernama Musafi’ bin Sofwan bin Abu As-Syufar.

Ayahnya yang bernama Al Harits menemui Nabi SAW kemudian menyatakan masuk Islam. Diriwayatkan dari Juwairiyah, dia berkata, “Rasulullah SAW menikahiku ketika aku berumur 20 tahun.” Dia wafat tahun 50 Hijriyah. 

Diriwayatkan dari Juwairiyah, bahwa Nabi SAW menemuinya pada hari Jum’at ketika dia (Juwairiyah) sedang berpuasa. Rasululllah SAW bertanya kepadanya, “Apakah kemarin kamu puasa?” Dia berkata, “Tidak.” Kemudian beliau bertanya, “Apakah kamu besok ingin berpuasa?” Juwairiyah menjawab, “Tidak.” Beliau pun bersabda, “Kalau begitu berbukalah!” 

Diriwayatkan dari Juwairiyah, dia berkata, “Rasulullah SAW datang menemuiku pada waktu pagi ketika aku sedang bertasbih, kemudian beliau pergi untuk memenuhi kebutuhannya. Setelah itu beliau pulang pada waktu pertengahan siang. Beliau lantas bertanya, ‘Apakah kamu masih tetap duduk sejak tadi?’ Aku menjawab, ‘Ya’. Rasulullah SAW bersabda, ‘Sesungguhnya aku ingin memberitahumu beberapa kalimat yang jika dibaca maka pahalanya sama dengan semua bacaan tasbih yang kamu baca tadi, yaitu subhaanallah adada khalqihi (sebanyak tiga kali), subhaanallah zinata arsyihi (sebanyak tiga kali), subhanallah ridha nafsihi (sebanyak tiga kali), dan subhanallah midaada kalimaatihi (sebanyak tiga kali)’.” 

Diriwayatkan dari Aisyah, dia berkata, “Ketika Rasulullah SAW membagikan para tawanan bani Mushthaliq, Juwairiyah jatuh pada bagian seorang sahabat, tetapi Juwairiyah tidak senang dengannya. Juwairiyah wanita yang manis dan cantik, sehingga setiap pria yang melihatnya pasti tertarik dengannya. Dia lalu mendatangi Rasulullah SAW untuk meminta pertolongan kepada beliau, ia berkata, ‘Wahai Rasulullah, aku bernama Juwairiyah binti Al Harits, pemimpin kaumku. Aku tertimpa musibah yang tidak ringan bagiku dan aku merasa tertekan, maka tolonglah aku!’ Rasulullah SAW kemudian menjawab, ‘Maukah kamu aku beri alternatif yang lebih baik dari itu? Bagiamana jika kamu aku tebus dan aku nikahi?’ Juwairiyah menjawab, ‘Ya’. Rasulullah SAW lalu melakukannya. 

Ketika berita itu diketahui oleh para sahabat, mereka berkata, ‘Bani Mutshthaliq adalah mertua Rasulullah SAW!’ Mereka pun membebaskan tawanan dari kalangan bani Mushthaliq yang berada di tangan mereka. Berkat pernikahannya dengan Rasulullah SAW, seratus orang tawanan dari bani Mushthaliq dibebaskan. Aku tidak mengetahui ada wanita yang memberikan berkah terbesar bagi kaumnya selain Juwairiyah.”

Ummu Kultsum binti Rasulullah SAW


Dia adalah putri keempat Rasulullah SAW.
Ada yang mengatakan bahwa Utbah bin Abu Lahab pernah menikahinya kemudian menceraikannya. 
Dia masuk Islam, lalu hijrah setelah Nabi SAW. Ketika saudara perempuannya (Ruqayyah) meninggal, dia dinikahi oleh Utsman —saat itu dia masih perawan— pada bulan Rabi’ul Awal tahun 3 Hijriyah, tetapi tidak menghasilkan keturunan. 
Dia meninggal pada bulan Sya’ban tahun 9 Hijriyah.

Istri–Istri Nabi SAW
Az-Zuhri mengatakan bahwa Nabi SAW menikahi 12 wanita Arab yang sudah berstatus janda. 
Diriwayatkan dari Qatadah, dia berkata, “Beliau menikahi 15 wanita: 6 dari golongan Quraisy (salah satunya dari sekutu Quraisy) dan 7 wanita Arab (salah satunya dari bani Israil).”
Istri beliau adalah Khadijah, Saudah, Aisyah, Ummu Salamah, Hafshah, Zainab binti Jahsy, Juwairiyah, Ummu Habibah, Shafiyyah, Maimunah, Fatimah binti Syuraih, kemudian beliau menikahi Zainab binti Khuzaimah, Hindun binti Yazid, Asma` binti An-Nu’man, Qutailah (saudari Al Asy’ats), dan Sana binti Asma` As-Sulamiyah.

Ummu Kultsum binti Rasulullah SAW


Dia adalah putri keempat Rasulullah SAW.
Ada yang mengatakan bahwa Utbah bin Abu Lahab pernah menikahinya kemudian menceraikannya. 
Dia masuk Islam, lalu hijrah setelah Nabi SAW. Ketika saudara perempuannya (Ruqayyah) meninggal, dia dinikahi oleh Utsman —saat itu dia masih perawan— pada bulan Rabi’ul Awal tahun 3 Hijriyah, tetapi tidak menghasilkan keturunan. 
Dia meninggal pada bulan Sya’ban tahun 9 Hijriyah.

Istri–Istri Nabi SAW
Az-Zuhri mengatakan bahwa Nabi SAW menikahi 12 wanita Arab yang sudah berstatus janda. 
Diriwayatkan dari Qatadah, dia berkata, “Beliau menikahi 15 wanita: 6 dari golongan Quraisy (salah satunya dari sekutu Quraisy) dan 7 wanita Arab (salah satunya dari bani Israil).”
Istri beliau adalah Khadijah, Saudah, Aisyah, Ummu Salamah, Hafshah, Zainab binti Jahsy, Juwairiyah, Ummu Habibah, Shafiyyah, Maimunah, Fatimah binti Syuraih, kemudian beliau menikahi Zainab binti Khuzaimah, Hindun binti Yazid, Asma` binti An-Nu’man, Qutailah (saudari Al Asy’ats), dan Sana binti Asma` As-Sulamiyah.

Ruqayyah binti Rasulullah SAW


Ibunya bernama Khadijah.
Ibnu Said berkata, “Utbah bin Abu Lahab menikahi Ruqayyah sebelum kenabian.” 
Yang benar adalah sebelum hijrah.

Ketika firman Allah SWT  “Celakalah wahai tangan Abu Lahab dan celakah”  turun, ayahnya berkata, “Kita putus hubungan jika kamu tidak menceraikan putrinya.” Abu Lahab kemudian menceraikannya sebelum digauli.

Ketika dia dan saudara-saudaranya masuk Islam, Utsman menikahinya. 
Ibnu Sa’ad berkata, “Utbah pernah hijrah dengan Ruqayyah ke Habasyah sebanyak dua kali secara bersama-sama.”

Dia melahirkan Abdullah dari hasil pernikahannya dengan Utsman, dan dengan nama itu dia diberi gelar. Ketika Abdullah berumur 6 tahun dia dicucuk oleh ayam jago pada bagian wajahnya hingga memar, dan akhirnya meninggal. 

Ruqayyah kemudian hijrah ke Madinah setelah Utsman, lalu sakit di dekat Badar. Setelah itu Nabi SAW menyuruh Utsman untuk menyusulnya, tetapi dia telanjur meninggal di sana, dan pada saat itu orang-orang Islam ada di Badar.

Ruqayyah binti Rasulullah SAW


Ibunya bernama Khadijah.
Ibnu Said berkata, “Utbah bin Abu Lahab menikahi Ruqayyah sebelum kenabian.” 
Yang benar adalah sebelum hijrah.

Ketika firman Allah SWT  “Celakalah wahai tangan Abu Lahab dan celakah”  turun, ayahnya berkata, “Kita putus hubungan jika kamu tidak menceraikan putrinya.” Abu Lahab kemudian menceraikannya sebelum digauli.

Ketika dia dan saudara-saudaranya masuk Islam, Utsman menikahinya. 
Ibnu Sa’ad berkata, “Utbah pernah hijrah dengan Ruqayyah ke Habasyah sebanyak dua kali secara bersama-sama.”

Dia melahirkan Abdullah dari hasil pernikahannya dengan Utsman, dan dengan nama itu dia diberi gelar. Ketika Abdullah berumur 6 tahun dia dicucuk oleh ayam jago pada bagian wajahnya hingga memar, dan akhirnya meninggal. 

Ruqayyah kemudian hijrah ke Madinah setelah Utsman, lalu sakit di dekat Badar. Setelah itu Nabi SAW menyuruh Utsman untuk menyusulnya, tetapi dia telanjur meninggal di sana, dan pada saat itu orang-orang Islam ada di Badar.

Zainab binti Rasulullah SAW


Dia adalah pemimpin muhajirat yang paling mulia.
Pada waktu ibunya masih hidup, Zainab dinikahi oleh keponakannya sendiri, Abu Al Abbas, lalu dia dikaruniai seorang putra bernama Umamah yang menikah dengan Ali bin Abu Thalib setelah Fatimah. Dia juga melahirkan seorang putra bernama Ali bin Abu Al Ash, yang disebut-sebut bahwa Rasulullah SAW pernah memboncengnya di belakang tunggangannya pada waktu penaklukkan kota Makkah. 
Aku mengira dia wafat saat masih belia.

Zainab masuk Islam dan hijrah 6 tahun sebelum suaminya masuk Islam.
Diriwayatkan dari Abu Hurairah bahwa suatu ketika Rasulullah SAW mengirim pasukan dan aku termasuk di antara mereka. Ketika itu beliau bersabda, “Jika kalian bertemu dengan Habbar bin Aswad dan Nafi’ bin Abdul Umar maka bakarlah mereka berdua.” Itu karena keduanya pernah menjangkitkan penyakit sopak pada Zainab binti Rasulullah SAW ketika dia sedang keluar, hingga akhirnya dia sakit dan meninggal.

Beliau kemudian bersabda, “Jika kalian bertemu mereka berdua maka bunuhlah mereka, karena tidak seorang pun boleh menyiksa dengan adzab Allah (yakni dengan cara membakar).”

Diriwayatkan dari Yazid bin Ruman, dia berkata, “Ketika Rasulullah SAW mengerjakan shalat Subuh berjamaah dengan para sahabat, saat sedang berdiri dalam shalat, Zainab berkata, ‘Aku telah menganiaya Abu Al Abbas bin Ar-Rabi’. Setelah salam, Nabi SAW bersabda, ‘Aku tidak tahu hal ini, bahwa dia telah menganiaya orang yang paling lemah’.”

Asy-Sya’bi berkata, “Zainab masuk Islam, lalu hijrah, kemudian suaminya masuk Islam setelah itu dan keduanya tidak dipisahkan.”

Qatadah berkata, “Kemudian turun firman Allah SWT “Baraa`atun”, yaitu jika seorang wanita masuk Islam sebelum suaminya, maka dengan sendirinya dia tercerai darinya, kecuali dipinang sekali lagi.”
Zainab meninggal pada awal tahun 8 Hijriyah.

Diriwayatkan dari Ummu Athiyyah, dia berkata, “Ketika Zainab binti Rasulullah SAW meninggal, beliau bersabda, “Mandikan dia dengan basuhan ganjil, tiga atau lima, lalu masukkan ke dalam bilasan terakhir wangi-wangian seperti kapur barus atau sejenisnya. Jika kalian memandikannya maka beritahukanlah aku.” Ketika mereka telah memandikannya, beliau memberikan sarung beliau kepada kami lalu berkata, “Pakaikan ini kepadanya!”

Zainab binti Rasulullah SAW


Dia adalah pemimpin muhajirat yang paling mulia.
Pada waktu ibunya masih hidup, Zainab dinikahi oleh keponakannya sendiri, Abu Al Abbas, lalu dia dikaruniai seorang putra bernama Umamah yang menikah dengan Ali bin Abu Thalib setelah Fatimah. Dia juga melahirkan seorang putra bernama Ali bin Abu Al Ash, yang disebut-sebut bahwa Rasulullah SAW pernah memboncengnya di belakang tunggangannya pada waktu penaklukkan kota Makkah. 
Aku mengira dia wafat saat masih belia.

Zainab masuk Islam dan hijrah 6 tahun sebelum suaminya masuk Islam.
Diriwayatkan dari Abu Hurairah bahwa suatu ketika Rasulullah SAW mengirim pasukan dan aku termasuk di antara mereka. Ketika itu beliau bersabda, “Jika kalian bertemu dengan Habbar bin Aswad dan Nafi’ bin Abdul Umar maka bakarlah mereka berdua.” Itu karena keduanya pernah menjangkitkan penyakit sopak pada Zainab binti Rasulullah SAW ketika dia sedang keluar, hingga akhirnya dia sakit dan meninggal.

Beliau kemudian bersabda, “Jika kalian bertemu mereka berdua maka bunuhlah mereka, karena tidak seorang pun boleh menyiksa dengan adzab Allah (yakni dengan cara membakar).”

Diriwayatkan dari Yazid bin Ruman, dia berkata, “Ketika Rasulullah SAW mengerjakan shalat Subuh berjamaah dengan para sahabat, saat sedang berdiri dalam shalat, Zainab berkata, ‘Aku telah menganiaya Abu Al Abbas bin Ar-Rabi’. Setelah salam, Nabi SAW bersabda, ‘Aku tidak tahu hal ini, bahwa dia telah menganiaya orang yang paling lemah’.”

Asy-Sya’bi berkata, “Zainab masuk Islam, lalu hijrah, kemudian suaminya masuk Islam setelah itu dan keduanya tidak dipisahkan.”

Qatadah berkata, “Kemudian turun firman Allah SWT “Baraa`atun”, yaitu jika seorang wanita masuk Islam sebelum suaminya, maka dengan sendirinya dia tercerai darinya, kecuali dipinang sekali lagi.”
Zainab meninggal pada awal tahun 8 Hijriyah.

Diriwayatkan dari Ummu Athiyyah, dia berkata, “Ketika Zainab binti Rasulullah SAW meninggal, beliau bersabda, “Mandikan dia dengan basuhan ganjil, tiga atau lima, lalu masukkan ke dalam bilasan terakhir wangi-wangian seperti kapur barus atau sejenisnya. Jika kalian memandikannya maka beritahukanlah aku.” Ketika mereka telah memandikannya, beliau memberikan sarung beliau kepada kami lalu berkata, “Pakaikan ini kepadanya!”

Maimunah Ummul Mukminin


Dia adalah putri Al Harits bin Khazan Al Hilaliyah, istri Nabi SAW, saudara Ummul Fadhal, istri Abbas dan bibi Khalid bin Al Walid serta bibi Ibnu Abbas.

Dia menikah pertama kali dengan Mas’ud bin Amr Ats-Tsaqafi sebelum masuk Islam, kemudian mereka bercerai. Setelah itu dia menikah lagi dengan Abu Ruhum bin Abdul Uzza, namun kemudian suaminya meninggal. Selanjutnya dia menikah dengan Nabi SAW setelah selesai melakukan umrah pada bulan Dzul Qa’dah tahun 7 Hijriyyah.

Dia juga termasuk salah seorang tokoh wanita yang meriwayatkan banyak hadits. 
Mujahid berkata, “Namanya adalah Barrah, lalu Rasulullah SAW menggantinya dengan panggilan Maimunah.”
Diriwayatkan dari Yazid bin Al Asham, bahwa Maimunah pernah mencukur rambutnya pada waktu ihram, kemudian dia wafat. Setelah itu diketahui bahwa rambutnya sangat hitam (tindakan Maimunah mencukur habis rambutnya karena dia belum mengetahui ritual mencukur bagi kaum wanita, yang semestinya cukup dengan memangkas beberapa bagian rambut).

Khalifah berkata, “Dia wafat tahun 51 Hijriyah.”

Maimunah Ummul Mukminin


Dia adalah putri Al Harits bin Khazan Al Hilaliyah, istri Nabi SAW, saudara Ummul Fadhal, istri Abbas dan bibi Khalid bin Al Walid serta bibi Ibnu Abbas.

Dia menikah pertama kali dengan Mas’ud bin Amr Ats-Tsaqafi sebelum masuk Islam, kemudian mereka bercerai. Setelah itu dia menikah lagi dengan Abu Ruhum bin Abdul Uzza, namun kemudian suaminya meninggal. Selanjutnya dia menikah dengan Nabi SAW setelah selesai melakukan umrah pada bulan Dzul Qa’dah tahun 7 Hijriyyah.

Dia juga termasuk salah seorang tokoh wanita yang meriwayatkan banyak hadits. 
Mujahid berkata, “Namanya adalah Barrah, lalu Rasulullah SAW menggantinya dengan panggilan Maimunah.”
Diriwayatkan dari Yazid bin Al Asham, bahwa Maimunah pernah mencukur rambutnya pada waktu ihram, kemudian dia wafat. Setelah itu diketahui bahwa rambutnya sangat hitam (tindakan Maimunah mencukur habis rambutnya karena dia belum mengetahui ritual mencukur bagi kaum wanita, yang semestinya cukup dengan memangkas beberapa bagian rambut).

Khalifah berkata, “Dia wafat tahun 51 Hijriyah.”

Shafiyyah Ummul Mukminin


Dia adalah putri Huyaiy bin Akhtab bin Sa’yah, cucu Al-Lawi bin Nabiyullah Israil bin Ishak bin Ibrahim. Kemudian dari keturunan Harun AS.

Sebelum masuk Islam, dia dinikahi oleh Salam bin Abu Al Huqaiq, kemudian menikah lagi dengan Kinanah bin Abu Al Huqaiq, yang keduanya termasuk penyair Yahudi. Kinanah terbunuh dalam perang Khaibar, sehingga Shafiyyah menjadi tawanan dan dia dibagikan kepada Dihyat Al Kalbi. Setelah itu ada yang berkata kepada Nabi, “Sesungguhnya Shafiyyah tidak pantas kecuali diberikan kepadamu.” Beliau lalu mengambilnya dari Dihyah dan menggantinya dengan tujuh Arus. Setelah Shafiyyah suci, Nabi SAW menikahinya dan menjadikan status kemerdekaannya sebagai mahar.

Dia orang yang mulia, pandai, berkedudukan, cantik, dan taat beragama. 
Abu Umar bin Abdul Barr berkata, “Kami meriwayatkan bahwa suatu ketika seorang budak perempuan milik Shafiyyah mendatangi Umar bin Khaththab dan berkata, “Sesungguhnya Shafiyyah menyenangi hari Sabtu dan berkomunikasi dengan orang Yahudi.” Mendengar itu, Umar mengirim seorang utusan untuk menemuinya untuk menanyakan perihal dirinya. Dia menjawab, “Tentang hari Sabtu, aku tidak menyenanginya lagi sejak Allah menggantikannya dengan hari Jum’at kepadaku. Sedangkan tentang orang-orang Yahudi, karena aku mempunyai seorang kerabat di sana.” Hafshah kemudian bertanya kepada budak perempuan itu, “Apa yang mendorongmu berbuat seperti itu?” Dia menjawab, “Syetan.” Hafshah berkata, “Pergilah! Kamu telah merdeka.”

Hafshah meninggal tahun 50 Hijriyah. Dia dikenal sebagai sosok yang lembut dan teguh. Jenazahnya kemudian dikuburkan di Baqi’.

Shafiyyah Ummul Mukminin


Dia adalah putri Huyaiy bin Akhtab bin Sa’yah, cucu Al-Lawi bin Nabiyullah Israil bin Ishak bin Ibrahim. Kemudian dari keturunan Harun AS.

Sebelum masuk Islam, dia dinikahi oleh Salam bin Abu Al Huqaiq, kemudian menikah lagi dengan Kinanah bin Abu Al Huqaiq, yang keduanya termasuk penyair Yahudi. Kinanah terbunuh dalam perang Khaibar, sehingga Shafiyyah menjadi tawanan dan dia dibagikan kepada Dihyat Al Kalbi. Setelah itu ada yang berkata kepada Nabi, “Sesungguhnya Shafiyyah tidak pantas kecuali diberikan kepadamu.” Beliau lalu mengambilnya dari Dihyah dan menggantinya dengan tujuh Arus. Setelah Shafiyyah suci, Nabi SAW menikahinya dan menjadikan status kemerdekaannya sebagai mahar.

Dia orang yang mulia, pandai, berkedudukan, cantik, dan taat beragama. 
Abu Umar bin Abdul Barr berkata, “Kami meriwayatkan bahwa suatu ketika seorang budak perempuan milik Shafiyyah mendatangi Umar bin Khaththab dan berkata, “Sesungguhnya Shafiyyah menyenangi hari Sabtu dan berkomunikasi dengan orang Yahudi.” Mendengar itu, Umar mengirim seorang utusan untuk menemuinya untuk menanyakan perihal dirinya. Dia menjawab, “Tentang hari Sabtu, aku tidak menyenanginya lagi sejak Allah menggantikannya dengan hari Jum’at kepadaku. Sedangkan tentang orang-orang Yahudi, karena aku mempunyai seorang kerabat di sana.” Hafshah kemudian bertanya kepada budak perempuan itu, “Apa yang mendorongmu berbuat seperti itu?” Dia menjawab, “Syetan.” Hafshah berkata, “Pergilah! Kamu telah merdeka.”

Hafshah meninggal tahun 50 Hijriyah. Dia dikenal sebagai sosok yang lembut dan teguh. Jenazahnya kemudian dikuburkan di Baqi’.