Aisyah Ummul Mukminin


Dia adalah putri seorang imam yang jujur, agung, dan khalifah Rasulullah SAW, Abu Bakar bin Quhafah. 
Aisyah hijrah bersama kedua orang tuanya setelah Rasulullah SAW menikahinya dan wafatnya Khadijah binti Khuwailid, sekitar 10 bulan sebelum hijrah. Rasulullah SAW kemudian menggaulinya pertama kali pada bulan Syawal tahun 2 Hijriyah, setelah pulang dari perang Badar, saat dia berusia 9 tahun. 

Dia banyak meriwayatkan ilmu yang bermanfaat dan berkah dari Nabi SAW. Hadits yang diriwayatkan Aisyah mencapai 2210 hadits.

Aisyah termasuk orang yang dilahirkan pada masa Islam dan lebih muda 8 tahun dari Fatimah. Dia pernah berkata, “Aku belum memahami apa-apa tentang kedua orang tuaku kecuali keduanya memeluk agama Islam.” 

Dia sosok wanita cantik, yang dijuluki Humaira`,130 satu-satunya perawan yang dinikahi Nabi SAW, yang sangat dicintai beliau melebihi istri-istri beliau yang lain, bahkan wanita secara keseluruhan. 

Sebagian ulama berpendapat bahwa dia lebih mulia dari ayahnya, Abu Bakar, tetapi pendapat ini dibantah, karena Allah SWT telah menciptakan setiap sesuatu dengan ukurannya sendiri-sendiri. Kita bersaksi bahwa beliau adalah istri Rasulullah SAW di dunia dan akhirat. Apakah ada kebanggaan yang lebih besar dari ini? Walaupun Khadijah memiliki keistimewaan yang tidak tertandingi, tetapi aku tidak bisa mengatakan mana di antara mereka yang lebih utama. Memang betul, aku mengakui keutamaan Khadijah atas Aisyah, tetapi dalam beberapa hal yang tidak bisa dijelaskan di sini. 

Diriwayatkan dari Aisyah, dia berkata: Rasulullah SAW bersabda, 

“Aku selalu bermimpi tentangmu selama tiga malam berturut-turut, seorang malaikat datang kepadamu dan kamu memakai penutup dari kain sutra. Malaikat itu berkata, ‘Ini adalah istrimu’. Lalu ketika aku menyingkap wajahnya, ternyata dia adalah kamu. Aku pun berkata, ‘Jika ini berasal dari sisi Allah, maka Dia pasti akan memberikannya’.”

Nabi SAW menikahi Aisyah setelah wafatnya Khadijah. Beliau menikahinya dan Saudah dalam waktu yang sama. Beliau lalu hanya menggauli Saudah, selama tiga tahun, baru menggauli Aisyah pada bulan Syawwal setelah perang Badar. 

Beliau sangat mencintainya, dan kecintaannya itu terlihat jelas. 
Amr bin Al Ash, orang yang masuk Islam pada tahun 8 Hijriyah, bertanya kepada Nabi, “Siapa orang yang paling engkau cintai wahai Rasulullah?” Beliau bersabda, “Aisyah.” Dia lanjut bertanya, “Lalu siapa dari kalangan laki-laki?” Beliau menjawab, “Ayahnya.”

Hadits ini shahih walaupun banyak kalangan yang menolaknya, tetapi Rasulullah SAW tidak mencintai sesuatu kecuali yang baik. Beliau pernah bersabda, “Seandainya aku boleh mengambil seseorang sebagai kekasih dari umat ini, maka aku akan menunjuk Abu Bakar sebagai kekasihku, akan tetapi ukhuwah Islam lebih utama.” 

Jadi, Rasulullah SAW mencintai orang yang paling utama dari umatnya, baik dari kalangan laki-laki maupun perempuan. Oleh karena itu, siapa pun yang membenci kedua kekasih Rasulullah itu, sama saja membenci Allah dan Rasul-Nya.

Diriwayatkan dari Aisyah, dia berkata, “Istri-istri Rasulullah SAW terbagi menjadi dua kelompok, kelompok pertama terdiri dari Aisyah, Hafshah, Shafiyah, dan Saudah, sedangkan kelompok kedua terdiri dari Ummu Salamah dan istri-istri lainnya. Jika ada salah seorang di antara mereka akan memberikan hadiah kepada Rasulullah SAW, maka mereka menunda pemberiannya itu hingga beliau berada pada giliran di rumah Aisyah, baru mereka memberikannya di rumah Aisyah. Sampai-sampai kelompok Ummu Salamah berkata, “Berbicaralah kepada Rasulullah SAW agar beliau berbicara kepada orang-orang, ‘Barangsiapa ingin memberikan hadiah kepada Rasulullah SAW maka hendaknya memberikannya di tempat Rasulullah SAW menggilir istri-istrinya’.” (tidak harus menunggu sampai Rasulullah SAW berada di rumah Aisyah). 

Ummu Salamah berbicara kepada beliau tentang permasalahan yang mereka katakan itu, tetapi Rasulullah SAW tidak berkomentar apa-apa. Ketika istri-istri beliau bertanya kepada Ummu Salamah, dia menjawab, “Beliau tidak menjawab apa-apa.” Mereka lalu berkata lagi kepadanya, “Bicaralah dengan beliau sekali lagi.” Setelah itu Ummu Salamah berbicara lagi ketika beliau sedang di rumahnya, tetapi beliau tidak berkomentar apa-apa. Ketika itu Rasulullah SAW bersabda kepadanya, “Janganlah menyakitiku dengan cara menyakiti Aisyah, karena wahyu tidak pernah datang kepadaku ketika aku berada di dalam baju seorang wanita kecuali Aisyah.” Ummu Salamah lalu berkata, “Aku bertobat kepada Allah dari menyakitimu ya Rasulullah.” 

Mereka kemudian memanggil Fatimah binti Rasulullah, lalu dia pergi menghadap Rasulullah SAW dan berkata, “Sesungguhnya istri-istrimu menuntut keadilan dari Aisyah binti Abu Bakar.” Setelahitu Fatimah berbicara dengan beliau. Rasulullah SAW lalu bersabda, “Wahai Anakku, tidakkah kamu senang apa yang aku senangi?” Dia menjawab, “Ya.” Fatimah kemudian kembali menemui mereka lantas memberitahukan mereka, lalu mereka berkata, “Bicaralah dengannya sekali lagi!” Tetapi Fatimah enggan menurutinya. 

Selanjutnya mereka mengutus Zainab binti Jahasy. Dia kemudian menghadap beliau lalu bersikap berlebih-lebihan seraya berkata, “Istri-istrimu sebenarnya menuntut keadilan darimu atas perlakuanmu terhadap Aisyah binti Abu Quhafah.” Dia mengatakan itu sambil mengangkat suaranya sampai terdengar oleh Aisyah yang sedang duduk, maka Aisyah marah dan mencela Zainab, hingga Rasulullah SAW melihat Aisyah dan bersabda, “Apakah kamu ingin berbicara?” Aisyah pun berbicara untuk menyangkal perkataan Zainab hingga Zainab dibuatnya terdiam. Nabi SAW lalu menoleh ke Aisyah lantas bersabda, “Sesungguhnya dia putri Abu Bakar.”
Diriwayatkan dari Abu Musa, dari Nabi SAW, beliau bersabda, 

“Banyak kaum pria yang sempurna, tetapi di antara wanita yang sempurna hanya Maryam binti Imran dan Asiyah istri Fir’aun. Sedangkan keistimewaan Aisyah atas seluruh wanita seperti keistimewaan tsarid131 dari makanan yang lain.”

Diriwayatkan dari Aisyah, ia berkata: Aku pernah berkata, “Ya Rasulullah, siapa di antara istri-istrimu yang masuk surga?” Beliau bersabda, “Kamu termasuk salah satu dari mereka.” Aku menduga hal itu karena beliau tidak pernah menikah dengan seorang perawan selainku.

Diriwayatkan dari Az-Zuhri, dia berkata: Abu Salamah menceritakan kepadaku bahwa Aisyah berkata: Rasulullah SAW bersabda, “Wahai Aisyah, ini adalah Jibril, dia menyampaikan salam kepadamu.” Aisyah lalu berkata, “Wa’alaihissalam warahmatullah, engkau melihat apa yang tidak kami lihat ya Rasulullah.”

Diriwayatkan dari Amr bin Ash, dia mengatakan bahwa Rasulullah SAW pernah mengangkatnya sebagai pemimpin pasukan Dzatu As-Salasil. Kemudian ketika bertemu dengan beliau, aku bertanya, “Ya Rasulullah, siapakah orang yang paling engkau cintai?” Beliau menjawab, “Aisyah.” Aku bertanya lagi, “Llalu siapa lagi dari kalangan laki-laki?” Beliau menjawab, “Ayahnya.”

Diriwayatkan dari Aisyah, dia berkata, “Rasulullah SAW menikahiku setelah Khadijah meninggal, sementara aku pada saat itu berusia 6 tahun. Beliau kemudian menggauliku pada saat aku berusia 9 tahun. Setelah itu beberapa orang wanita datang menemui saat aku sedang bermain-main di atas ayunan dengan rambut terurai ke bahu. Mereka lalu mendandaniku dan merias diriku, kemudian membawaku menemui Rasulullah SAW.”

Diriwayatkan dari Hisyam, dari ayahnya, dari Aisyah, dia berkata, “Ketika aku sedang bermain-main dengan anak-anak perempuan, tiba-tiba Rasulullah SAW datang, sehingga teman-temanku lari bersembunyi dari beliau. Setelah beliau keluar, mereka kembali lagi kepadaku secara diam-diam lalu bermain-main denganku.”
Riwayat lain menyebutkan, “...tetangga kami mempunyai anak-anak perempuan yang suka bermain-main denganku. Namun ketika mereka melihat Rasulullah SAW, mereka bersembunyi, lalu datang kepadaku secara diam-diam.”

Diriwayatkan dari Aisyah, dia berkata, “Rasulullah SAW pernah mendatangiku saat aku sedang bermain-main dengan anak-anak. Beliau lalu berkata, ‘Apa ini wahai Aisyah?’ Aku menjawab, ‘Kuda Sulaiman yang bersayap’. Setelah itu beliau tertawa.”

Diriwayatkan dari Aisyah, dia berkata, “Aku melihat Rasulullah SAW berdiri di depan pintu kamarku saat orang-orang Habasyah sedang bermain-main dengan tombak di masjid. Beliau kemudian menutupiku dengan serbannya supaya aku bisa melihat permainan mereka, lalu beliau berdiri menemaniku sampai aku akhirnya pulang. Ketika itu mereka menganggapku layaknya seorang gadis muda yang hanya ingin bermain-main.

Kabar Bohong yang Menimpa Aisyah
Peristiwa tersebut terjadi pada saat perang Al Muraisi’, tahun 5 Hijriyah, saat Aisyah RA berusia 12 tahun.
Diriwayatkan dari Ibnu Syihab, dia berkata: Urwah, Ibnu Al Musayyib, Alqamah bin Waqqash, dan Abidullah bin Abdullah menceritakan kepadaku dari Aisyah RA, dia berkata, “Orang-orang yang menyebarkan berita bohong untuk memfitnahku. Tetapi Allah SWT kemudian membebaskanku dari tuduhan tersebut. Semuanya menceritakan beberapa perkataan kepadaku, sedangkan yang lain membenarkan perkataan sebagian yang lain, walaupun ada dari mereka yang lebih paham dari yang lain.” 
Aisyah lanjut berkata, “Apabila Rasulullah SAW ingin bepergian maka beliau biasanya mengundi istri-istri beliau. Jika undian tersebut jatuh pada salah seorang istri beliau, maka dialah yang akan keluar bersama Rasulullah SAW. 

Suatu ketika Rasulullah SAW mengundi kami untuk memilih siapa yang akan ikut bersama beliau ke medan perang. Tanpa diduga aku memenangi undian tersebut. Peristiwa ini terjadi setelah turunnya ayat hijab. Aku lantas dibawa di dalam Haudaj.132 Di dalam bilik inilah aku ditempatkan selama berada di medan perang. Setelah Rasulullah SAW selesai berperang, kami langsung pulang. Kami kemudian berhenti untuk beristirahat sesaat di sebuah tempat yang terletak dekat dengan Madinah. Ketika waktu malam tiba, kami diminta supaya meneruskan perjalanan. Pada waktu yang sama aku bangkit dan berjalan jauh dari rombongan pasukan untuk membuang hajat. Setelah membuang hajat, aku kembali ke tempat rombongan. Namun tatkala aku menyentuh dadaku memegangi kalung, ternyata kalungku dari manik Zafar (berasal dari Zafar, Yaman) hilang, maka aku kembali lagi ke tempat tadi untuk mencari kalungku, hingga akhirnya aku ditinggalkan oleh rombongan. Beberapa orang sahabat yang ditugaskan membawa Haudaj-ku mengira aku telah berada di dalamnya. Wanita pada waktu itu semuanya bertubuh ringan, tidak terlalu tinggi, dan tidak terlalu gemuk kerena mereka hanya memakan sedikit makanan, agar para sahabat tidak merasa berat ketika membawa dan mengangkat Haudaj. Apalagi aku pada waktu itu masih gadis. 

Setelah berhasil menemukan kalungku, aku kembali ke tampat tersebut, namun tidak seorang pun yang ada di sana, sehingga aku kembali ke tempat pemberhentianku, dengan harapan mereka menyadari bahwa tidak ada di Haudaj lantas kembali mencariku. Aku lalu mengantuk dan tertidur. 

Kebetulan Shafwan bin Al Mu’aththal As-Sulami Az-Zakwani muncul. Ia ditinggal pasukan yang berangkat pada awal malam dan sampai ke tempat istirahatku pada pagi hari. Dia kemudian melihat seseorang (aku) sedang tidur.  Dia lalu menghampiriku lantas menemukanku sedang tidur. Dia mengenaliku karena pernah melihatku sebelum kewajiban hijab diturunkan. Aku kemudian terbangun karena dia mengucapkan innaa lillaahi wa inaa ilaihi raaji’uun saat mengetahui bahwa aku sedang tidur di situ. Aku lalu segera menutup wajahku dengan kain tudung. Demi Allah, dia tidak berkata apa pun kepadaku dan aku juga tidak mendengar sepatah kata pun darinya selain ucapannya innaa lillaahi wa inaa ilaihi raaji’uun. Setelah itu dia memintaku menunggang untanya. Tanpa membuang waktu aku pun menerima tawaran tersebut dan terus naik dengan berpijak ditangannya, lalu pergi, sedangkan dia menarik unta. Hingga akhirnya kami bisa mengejar pasukan yang sedang berhenti istirahat karena panas terik. 

Celakanya, ada orang yang ingin agar aku hancur dengan memfitnahku, yaitu Abdullah bin Ubai bin Salul. Setelah sampai di Madinah, aku jatuh sakit selama sebulan. Sementara itu orang-orang terus menyebarkan fitnah tentang diriku, tetapi aku sendiri tidak mengetahuinya. Aku kemudian mulai resah setelah sikap Rasulullah SAW berubah. Aku tidak lagi merasakan kelembutan Rasulullah SAW yang biasanya kurasakan ketika aku sakit. Rasulullah SAW hanya masuk untuk mengucapkan salam dan bertanya, “Bagaimana keadaanmu?” Suasana ini menyebabkanku semakin gelisah, karena menurutku aku tidak pernah melakukan keburukan.

Setelah penyakitku berangsur-angsur sembuh, aku keluar bersama Ummu Misthah ke tempat kami biasa buang air besar, dan kami hanya keluar pada waktu malam. Keadaan ini terus berlanjut hingga kami membangun bilik yang berdampingan dengan rumah kami. Kamilah orang Arab yang pertama kali membuat bilik untuk bersuci. Akhirnya kami merasa terganggu dengan bilik tersebut yang dibangun berdampingan dengan rumah kami. 

Suatu hari aku keluar bersama Ummu Misthah binti Abu Ruhmi bin Al Muththalib bin Abdul Manaf. Ibunya adalah putri Sakhrin bin Amir, bibi Abu Bakar Ash-Shiddiq RA, anaknya bernama Misthah bin Usasah bin Abbad bin Al Muththalib. Setelah kami selesai buang air besar, aku berjumpa dengan putri Abu Ruhmi yang tinggal berdampingan dengan rumahku. Tiba-tiba Ummu Misthah terinjak pakaiannya lalu latah sambil berkata, “Celaka kamu Misthah!” Aku berkata kepadanya, “Buruk sekali yang kau ucapkan! Apakah engkau mencela seorang lelaki yang syahid dalam peperangan Badar?” Dia menjawab, “Wahai Aisyah, tidakkah engkau mendengar perkataannya?” Aku menjawab, “Tidak, apakah yang dia katakan?” Ummu Misthah lalu menceritakan kepadaku tuduhan tersebut. Mendengar cerita itu, sakitku semakin parah. 

Setelah sampai di rumah, Rasulullah SAW masuk menjengukku. Beliau mengucapkan salam dan bertanya, “Bagaimana keadaanmu?” Aku menjawab, “Apakah engkau izinkan aku berjumpa dengan kedua orang tuaku?” Pada saat itu aku ingin kepastian tentang berita tersebut dari kedua orang tuaku. Setelah mendapat izin dari beliau, aku segera pulang ke rumah orang tuaku. Sesampainya di sana, aku bertanya kepada Ibuku, “Ibu, apakah cerita yang disebarkan oleh orang-orang mengenai diriku?” Ibuku menjawab, “Wahai Anakku, tabahkanlah hatimu! Demi Allah, berapa banyak wanita cantik berada di samping suami yang menyayanginya dan mempunyai beberapa orang selir (madu) tetapi tidak difitnah, tetapi justru fitnah itu dilontarkan kepada wanita.” Aku lantas berkata, “Maha Suci Allah, apakah sampai sebegitu tega orang memfitnahku?” Aku terus menangis pada malam tersebut dan tidak lagi mampu menahan air mata. Aku tidak dapat tidur, dan keesokan paginya aku tetap dalam keadaan demikian. 

Tak lama kemudian Rasulullah SAW memanggil Ali bin Abu Thalib dan Usamah bin Zaid untuk mendiskusikan perceraian beliau dengan istrinya. Ketika itu wahyu belum diturunkan. Usamah bin Zaid lalu memberi saran kepada Rasulullah SAW tentang penjagaan Allah terhadap istri beliau dan kemesraan beliau terhadap mereka, “Wahai Rasulullah, mereka adalah keluargamu. Kami cuma mengetahui apa yang baik.” Sementara Ali bin Abu Thalib berkata, “Allah tidak akan menyulitkanmu. Wanita yang lain masih banyak. Jika engkau bertanya kepada pembantu rumah pun, tentu dia akan memberikan keterangan yang benar.” 

Setelah itu Rasulullah SAW memanggil Barirah (pembantu rumah) kemudian bertanya, “Wahai Barirah, apakah engkau pernah melihat sesuatu yang meragukan tentang Aisyah?” Barirah menjawab, “Demi Allah yang telah mengutusmu dengan membawa kebenaran, sekiranya aku melihat sesuatu padanya, niscaya aku tidak akan menyembunyikannya. Dia tidak lebih dari seorang gadis muda yang sering tertidur di samping adonan roti keluarganya sehingga binatang ternak seperti ayam dan burung datang memakannya.” 

Rasulullah SAW kemudian berdiri di atas mimbar untuk meminta pertolongan, guna membersihkan segala fitnah yang dilontarkan oleh Abdullah bin Ubai bin Salul. Dalam ceramahnya Rasulullah SAW bersabda, “Wahai umat Islam, siapakah yang ingin menolongku dari orang yang sanggup melukai hati keluargaku? Demi Allah, apa yang aku ketahui hanyalah kebaikan. Beberapa orang telah menyebut tentang seorang lelaki yang aku ketahui bahwa dia orang yang baik. Dia tidak pernah masuk untuk berjumpa dengan istriku kecuali bersamaku.” 
Mendengar itu, Sa’ad bin Mu’adz Al Anshari langsung bangkit dan berkata, “Aku yang akan menolongmu dari orang itu wahai Rasulullah. Jika dia berasal dari golongan Aus maka aku akan memenggal lehernya, sedangkan jika dia dari kalangan saudara kami, Khazraj, perintahkanlah aku maka aku akan melaksanakan segala perintahmu itu.” 

Mendengar kata-kata tersebut Sa’ad bin Ubadah lantas bangkit. Dia adalah tokoh Khazraj, yang dikenal shalih tetapi kadang-kadang cepat marah karena congkak. Dia berkata kepada Sa’ad bin Mu’adz, “Engkau bohong! Demi Allah, engkau tidak dapat membunuhnya dan tidak mampu membunuhnya!” Usaid bin Hudhair, sepupu Sa’ad bin Mu’adz, lalu bangun dan berkata kepada Sa’ad bin Ubadah, “Engkau yang bohong! Demi Allah, kami akan membunuhnya. Engkau orang munafik yang membela orang-orang munafik.” Terjadilah pertengkaran hebat antara golongan Aus dengan Khazraj, sampai-sampai pertumpahan darah nyaris tidak bisa dihindarkan. 

Sementara itu Rasulullah SAW yang masih berdiri di atas mimbar tidak henti-hentinya menenangkan mereka hingga mereka terdiam karena melihat Rasulullah SAW diam. 

Melihat keadaan itu, aku menangis sepanjang hari. Air mataku tidak berhenti mengalir dan aku tidak dapat tidur hingga malam berikutnya. Kedua orang tuaku menganggap tangisanku itu bisa menyebabkan jantungku pecah. Ketika orang tuaku menungguku, datanglah seorang wanita Anshar meminta izin menemuiku. Setelah aku mengizinkannya, dia masuk dan duduk sambil menangis. Ketika itu Rasulullah SAW masuk dan memberi salam, lalu duduk bersamaku. Beliau tidak pernah berbuat demikian sejak fitnah itu terjadi pada diriku sebulan yang lalu. Wahyu juga tidak diturunkan kepada beliau mengenai keadaanku. 

Setelah itu Rasulullah SAW mengucapkan dua kalimat syahadah saat duduk, kemudian bersabda, “Wahai Aisyah, aku tahu banyak cerita bohong yang dituduhkan pada dirimu. Jika engkau memang tidak bersalah, Allah pasti akan membuktikan kebenaran dirimu. Tetapi seandainya engkau bersalah, maka mohonlah ampunan kepada Allah dan bertobatlah kepada-Nya karena apabila seorang hamba mengaku berdosa, kemudian bertobat, niscaya Allah menerima tobatnya.” 

Mendengar sabda beliau tersebut, aku bertambah sedih sehingga tidak terasa air mataku menetes. Aku kemudian berkata kepada Ayahku, “Jelaskanlah kepada Rasulullah SAW mengenai perkataan beliau.” Ayahku menjawab, “Demi Allah, Aku tidak tahu apa yang harus dijelaskan kepada Rasulullah SAW.” Aku lalu berkata kepada Ibuku, “Jelaskanlah kepada Rasulullah SAW.” Namun Ibuku juga menjawab, “Demi Allah, aku tidak tahu apa yang harus dijelaskan kepada Rasulullah.” Aku pun berkata, “Aku adalah seorang gadis muda. Aku tidak banyak membaca Al Qur`an. Demi Allah, aku tahu kalian telah mendengar semua itu hingga berita itu diterima hati kalian dan mempercayainya. Jika aku mengatakan bahwa aku tidak bersalah, maka Allah yang mengetahui bahwa aku tidak bersalah, tetapi kalian tetap tidak mempercayaiku. Begitu juga jika aku mengaku bersalah, maka Allah yang mengetahui bahwa aku tidak bersalah dan kalian tentu akan mempercayaiku. Demi Allah, aku hanya menemukan satu ucapan yang tepat untuk menghadapi kasusku ini, yaitu kata-kata yang dilontarkan Ayah Nabi Yusuf AS, ‘Kalau begitu bersabarlah aku dengan sebaik-baiknya dan Allah jualah yang dimintai pertolongan mengenai apa yang kamu katakan itu’.” (Qs. Yuusuf [12]: 18) 

Aku kemudian pulang lalu berbaring di atas tempat tidurku. Demi Allah, pada saat itu aku yakin diriku tidak bersalah dan Allah akan menunjukkan bahwa aku tidak bersalah. Tiba-tiba Rasulullah SAW melihat dalam mimpinya bahwa Allah membersihkanku dari fitnah tersebut. 

Demi Allah, belum lagi Rasulullah SAW beranjak dari tempat duduk beliau dan tidak ada seorang pun dari keluarga kami yang keluar, Allah akhirnya menurunkan wahyu kepada Nabi-Nya, sehingga beliau terlihat berubah. Beliau lalu duduk membungkuk sambil berpeluh bagaikan mutiara pada musim dingin karena beratnya menerima firman Allah yang diturunkan. Setelah itu Rasulullah SAW terus tertawa. Ucapan pertama yang terlepas dari mulut beliau setelah menerima wahyu tersebut adalah sabdanya, “Bergembiralah wahai Aisyah!, karena Allah telah membebaskanmu dari tuduhan tersebut.” Ibuku lantas berkata kepadaku, “Bangunlah dan temuilah Rasulullah!” Aku menjawab, “Demi Allah, aku tidak akan menjumpai beliau. Aku hanya akan memuji Allah karena Dia yang telah menurunkan ayat Al Qur`an yang menyatakan ketidakbersalahanku.”

Selanjutnya Allah menurunkan ayat,  “Sesungguhnya orang-orang yang membawa berita yang amat dusta itu adalah segolongan dari kalangan kamu ....” (Qs. An-Nuur [24]: 11-)

Ketika Allah menurunkan ayat tentang kebebasanku dari tuduhan tersebut, Abu Bakar —yang dulunya memberi nafkah kepada Misthah karena kedekatan beliau dengannya dan karena kemiskinannya— berkata, “Demi Allah, aku tidak akan memberikan nafkah lagi sedikit pun kepada Misthah setelah dia memfitnah Aisyah.” Lalu turunlah firman Allah, 

“Dan janganlah orang-orang yang mempunyai kelebihan dan kelapangan di antara kamu bersumpah bahwa mereka (tidak) akan memberi (bantuan) kepada kaum kerabat(nya), orang-orang yang miskin dan orang-orang yang berhijrah pada jalan Allah, dan hendaklah mereka memaafkan dan berlapang dada. Apakah kamu tidak ingin bahwa Allah mengampunimu?”  (Qs. An-Nuur [24]: 22) 

Abu Bakar pun berkata, “Demi Allah, aku senang jika Allah mengampuniku.” Beliau lalu memberikan kembali nafkah itu kepada Misthah seperti biasanya, seraya berkata, “Demi Allah, aku tidak akan mencabutnya darinya selamanya.” 

Aisyah berkata, “Rasulullah SAW kemudian bertanya kepada Zainab binti Jahsy tentang masalahku. Dia berkata, ‘Menurut perasaanku, pendengaranku, dan penglihatanku, aku tidak mengetahuinya kecuali baik’. Dialah wanita yang mengungguliku di antara istri-istri Nabi, maka Allah menjaganya dengan kewara’an. Ketika saudara perempuannya, Hamnah, berusaha untuk menentangnya, dia pun binasa bersama kalangan yang membuat cerita bohong itu.

Diriwayatkan dari Aisyah, dia berkata: Aku lalu berkata, “Wahai Rasulullah SAW, bagaimana pendapat engkau jika engkau turun ke sebuah lembah yang di dalamnya ada pohon yang sudah dimakan dan belum dimakan, mana yang lebih engkau pilih untuk menggembala untamu?” Beliau menjawab, “Pohon yang belum dimakan.” Aisyah berkata lagi, “Akulah dia.” 

Maksudnya, Rasulullah SAW belum pernah menikah dengan perawan selainnya.
Aisyah berkata, “Aku tidak pernah cemburu dengan seorang perempuan melebihi kecemburuanku terhadap Khadijah, karena Rasulullah SAW sering menyebut dirinya.”

Menurut aku, sesuatu yang paling mengherankan jika Aisyah cemburu kepada seorang wanita yang sudah meninggal lama sebelum Nabi SAW menikah dengannya. Kemudian Allah menjaganya dari kecemburuan dari istri-istri Nabi lainnya. Ini terjadi karena kasih sayang Allah SWT kepadanya dan kepada Nabi, supaya kehidupan mereka berdua tidak keruh. Mungkin Aisyah menyembunyikan kecemburuan itu karena besarnya rasa cinta kepada Nabi SAW sehingga Allah meridhainya.

Diriwayatkan dari Aisyah, bahwa suatu ketika seorang perempuan berkulit hitam datang menghadap Nabi SAW, dan beliau menyambutnya dengan sambutan yang hangat. Aku pun berkata, “Ya Rasulullah, apakah engkau menyambut wanita berkulit hitam itu dengan sambutan yang seperti itu?” Beliau bersabda, “Sesungguhnya dia dulu pernah berjumpa dengan Khadijah dan janji yang baik adalah sebagian dari iman.”
Ada yang mengatakan bahwa setiap hadits yang di dalamnya ada lafazh “Ya Humaira`” tidaklah shahih.133 
Kata humaira‘ dalam konteks penduduk Hijaz berarti putih dan ini jarang digunakan. Diantaranya seperti yang ditulis dalam hadits رَجُلٌ أَحْمَر كَأَنَّهُ مِنَ الْمَوَالِي “Seorang laki-laki berkulit kemerah-merah, seakan-akan berasal dari kalangan budak yang dimerdekakan.” Yang dimaksud adalah kulitnya para budak dari kalangan Nashrani Syam, Romawi, dan non-Arab.

Kemudian jika orang Arab berkata,  maka maksudnya adalah orang yang berkulit sawo matang. Adapun untuk kulit orang India, orang Arab biasanya menyebutnya  dan  “Coklat tua.” Sedangkan untuk menyebut orang yang berkulit sangat hitam, orang Arab biasa mengungkapnya dengan kata  “Hitam.” Begitu juga dengan orang yang berkulit sangat hitam atau gelap, mereka menggunakan kata  atau  “Hitam.” Contohnya sabda Rasulullah SAW,  “Aku diutus kepada orang yang berkulit terang dan gelap.” Artinya untuk seluruh keturunan anak Adam, tidak terbatas pada salah satu ras. Dengan demikian, warna yang dimaksud pada hadits itu adalah seputar warna hitam dan putih, yang memiliki konotasi makna warna terang atau cerah. 

Diriwayatkan dari Aisyah, dia berkata, “Kami pernah keluar bersama Rasulullah SAW dalam sebagian perjalanannya hingga ketika kami sampai di tanah yang lapang atau di Dzatil Jaisy, kalungku putus sehingga Rasulullah SAW berusaha mencarinya. Sementara para sahabat yang tinggal bersama beliau tidak memiliki persediaan air, sehingga mereka menemuii Abu Bakar dan berkata, ‘Bagaimana pendapatmu tentang perbuatan Aisyah, dia bermukim bersama Rasulullah SAW sementara yang lain tidak memiliki air’.

Abu Bakar kemudian menegurku. Dia mengatakan banyak hal lalu menekan tangannya pada lambungku dan aku ketika itu tidak bisa bergerak karena Nabi SAW berada di pahaku. Rasulullah SAW tidur hingga Subuh tanpa air. Allah kemudian menurunkan ayat tayamum sehingga mereka pun bertayamum.”

Usaid bin Hudhair —salah seorang pemimpin— berkata, “Ini tidak lain adalah berkah kalian yang pertama wahai keluarga Abu Bakar!” Lalu kami mengirim unta yang kami tunggangi. Ternyata tali itu ada di bawahnya (HR. Muttafaq ‘Alaih)

Diriwayatkan dari An-Nu’man bin Basyir, dia berkata, “Abu Bakar pernah meminta izin kepada Nabi SAW, tiba-tiba Aisyah mengangkat suaranya lebih keras daripada suara Nabi, sehingga Abu Bakar berkata, ‘Wahai binti fulanah, apakah kamu mengangkat suaramu lebih keras daripada suara Rasulullah?’ Nabi SAW lalu menengahi Abu Bakar dan Aisyah, hingga akhirnya Abu Bakar keluar. Nabi SAW lantas meminta keridhaan Aisyah seraya berkata, ‘Tidakkah kamu melihat bahwa aku menjadi penengah antara orang itu dengan kamu?’ Setelah itu Abu Bakar meminta izin sekali lagi, lalu beliau mendengar tawa mereka berdua. Rasulullah SAW bersabda, ‘Kalian berdua ikut bersama kami dalam damai seperti halnya kalian ikut bersama kami dalam peperangan’.”

Diriwayatkan dari Urwah, dia berkata: Aisyah berkata, “Aku tidak tahu hingga Zainab menemuiku tanpa izin dan dia marah kepadaku, kemudian dia berkata kepada Rasulullah SAW, ‘Aku mengira kamu lebih berpihak kepada keturunan Abu Bakar karena lengannya yang kecil’. Zainab kemudian menghadapku dan aku melawannya, maka Nabi SAW bersabda, ‘Sudah, sekarang pergilah kamu’. Aku kemudian melawannya hingga aku melihat air liur di mulutnya kering dan tidak lagi melawan. Setelah itu aku melihat wajah Nabi SAW nampak gembira.”

Diriwayatkan dari Aisyah, dia berkata, “Rasulullah SAW pernah memberiku tulang, lalu aku membuatkan kuah untuknya. Kemudian beliau mengambilnya, lalu memutarnya hingga beliau meletakkan bibirnya pada tempat (tulang) yang sudah aku gigit sebelumnya.”

Diriwayatkan dari Aisyah, bahwa jika Nabi SAW keluar maka beliau mengadakan undian antara istri-istrinya. Ternyata undian jatuh pada Aisyah dan Hafshah. Jika datang waktu malam, Rasulullah SAW berbincang-bincang dengan Aisyah sehingga Hafshah berkata, “Tidakkah kamu naik untaku malam ini dan aku naik untamu, kamu melihat dan aku melihat.” Aisyah menjawab, “Ya.” Aku pun naik. Tiba-tiba Nabi SAW pergi ke unta Aisyah yang di atasnya ada Hafshah, lalu beliau mengucapkan salam kepadanya, kemudian berjalan hingga turun. Sementara Aisyah ketika itu sedang mencari-cari Nabi SAW. Ketika mereka turun, Aisyah meletakkan kakinya di antara tumbuh-tumbuhan. Tiba-tiba dia berkata, “Ya Rabb, aku disengat kalajengking atau ular. Wahai utusanmu, dan aku tidak bisa mengatakan apa-apa kepadanya.” (HR. Muslim)

Diriwayatkan dari Ashim bin Kulaib, dari ayahnya, dia berkata, “Kami pernah datang mengunjungi Ali RA, lalu ketika dia menceritakan tentang Aisyah, dia berkata, ‘Dia adalah kekasih Rasulullah SAW’.”
Hadits ini hasan karena Mush’ab orang yang shalih dan periwayatannya tidak bermasalah. 

Hal ini dikatakan oleh Amirul Mukminin tentang hak Aisyah dengan apa yang terjadi pada mereka berdua. Tidak diragukan lagi bahwa Aisyah sangat menyesali perjalanannya ke Bashrah dan hadirnya dia pada waktu perang Jamal. Dia tidak mengira masalahnya sampai sebesar itu.

Diriwayatkan dari Ismail, dia berkata: Qais menceritakan kepada kami, dia berkata: Ketika Aisyah pergi dan sampai di sumur bani Amir pada malam hari, anjing-anjing menggonggong, maka dia berkata, “Sumur apa ini?” Mereka menjawab, “Sumur Hau`ab.” Aisyah berkata, “Aku tidak mengira kecuali aku akan kembali.” Sebagian orang yang bersamanya lalu berkata, “Tetapi sebaiknya kamu maju supaya orang-orang Islam melihatmu sehingga mereka bisa berdamai.” Setelah itu Aisyah berkata, “Pada suatu hari Rasulullah SAW bersabda, ‘Bagaimana dengan salah satu dari kalian yang akan digonggongi oleh anjing-anjing Hau`ab’.” 
Sanad hadits ini shahih.

Diriwayatkan dari Shalih bin Kaisan dan yang lain, bahwa Aisyah berkata, “Ketika Utsman terbunuh secara zhalim, aku menyeru kalian untuk membalas dendam atas kematiannya dan mengembalikan kepemimpinan dengan cara bermusyawarah.”

Diriwayatkan dari Ibnu Abbas, bahwa dia pernah berkata kepada Az-Zubair pada waktu perang Jamal, “Inilah Aisyah, dia mencalonkan kerabatnya sendiri sebagai pemimpin, yaitu Thalhah. Lalu ada dasar apa kamu memerangi kerabatmu sendiri, Ali!” Setelah itu Az-Zubair kembali dan bertemu dengan Ibnu Jurmuz, lantas membunuhnya.
Mengenai perang Jamal, aku telah mengutipnya secara ringkas ketika membahas keutamaan perilaku Ali, bahwa Ali berdiri di depan kemah Aisyah mencela perjalanan yang dilakukannya. Aisyah lalu berkata, “Wahai Ibnu Abu Thalib, kamu memiliki kekuatan, maka buatlah permasalahan ini menjadi mudah dan maafkanlah!” Ali  kemudian menyiapkan Aisyah pergi ke Madinah dan memberinya dua belas ribu dirham. Semoga Allah meridhai mereka berdua.

Diriwayatkan dari Abu Wa‘il, bahwa dia mendengar Ammar —ketika Ali mengutusnya ke Kufah untuk mengusir orang-orang— berkata, “Kami benar-benar tahu bahwa dia istri Nabi di dunia dan akhirat, tetapi Allah telah menguji kami dengannya supaya kalian mengikuti-Nya atau mengikuti Aisyah.”

Diriwayatkan dari Abu Musa, dia berkata, “Setiap kali kami menemukan masalah dengan hadits yang diriwayatkan oleh seorang sahabat, kami pasti mendapatkan jawabannya dari Aisyah.”

Diriwayatkan dari Ibnu Abu Mulaikah, dia mengatakan bahwa Dzakwan, Abu Amr, menceritakan kepadanya, dia berkata: Suatu ketika Ibnu Abbas RA meminta izin kepada Aisyah ketika dia sedang sakaratul maut. Aku kemudian datang dan di bagian kepalanya ada Abdullah bin Abdurrahman, keponakannya, aku lalu berkata, “Ini Ibnu Abbas, dia meminta izin.” Aisyah lalu berkata, “Jauhkan Ibnu Abbas dariku, aku tidak membutuhkannya dan tidak membutuhkan tazkiyahnya.” Mendengar itu, Abdullah berkata, “Wahai ibu, Ibnu Abbas termasuk putramu yang shalih, mengucapkan kata perpisahan dan salam kepadamu.” Aisyah lalu berkata, “Izinkan dia jika kamu mau.” Tak lama kemudian Ibnu Abbas datang. Setelah duduk, dia berkata, “Bergembiralah, demi Allah, engkau tidak akan segera bertemu dengan Muhammad SAW dan para kekasih, kecuali rohmu meninggalkan jasadmu.” Aisyah berkata, “Cukup wahai Ibnu Abbas!” Ibnu Abbas lanjut berkata, “Engkau adalah istri Rasulullah yang paling beliau cintai, sementara beliau tidak senang kecuali sesuatu yang baik. Ketika kalungmu jatuh pada malam Abwa`, Rasulullah SAW mencarinya, sampai-sampai ketika memasuki waktu malam, yang lain tidak mempunyai persediaan air, sehingga Allah menurunkan firman-Nya,  ‘Maka bertayamumlah kalian dengan debu yang bersih’, (Qs. An-Nisaa` [4]: 42), semua itu disebabkan karenamu. Padahal Allah tidak pernah menurunkan rukhshah134 kepada umat ini sebelumnya. Kemudian Allah menurunkan firman-Nya dari langit ketujuh tentang ketidakbersalahan dirimu dari tuduhan bohong tersebut, sehingga tidak ada masjid yang di dalamnya disebut nama Allah, kecuali kebebasanmu itu dibaca pada tengah malam dan siang hari.” Mendengar itu, Aisyah berkata, “Pergilah dariku wahai Ibnu Abbas! Demi Allah, aku berharap seandainya aku dilupakan.”
Jika Masruq meriwayatkan hadits dari Aisyah, dia berkata, “Ash-Shiddiqah binti Shiddiq, kekasih dari kekasih Allah, yang telah mendapat jaminan kebebasan dari langit ketujuh dan aku tidak mendustakannya, menceritakan kepadaku....”

Diriwayatkan dari Abu Adh-Dhuha, dari Masruq, dia berkata: Kami pernah berkata kepadanya, “Apakah Aisyah pandai ilmu faraidh?” Dia menjawab, “Demi Allah, aku telah melihat para pembesar sahabat Muhammad bertanya kepadanya tentang faraidh.”

Diriwayatkan dari Hisyam, dari ayahnya, dia berkata, “Aku telah menemani Aisyah, tetapi aku tidak melihat seorang pun yang lebih tahu tentang ayat-ayat yang diturunkan, tentang kewajiban, Sunnah, syair, riwayat, hari-hari Arab, nasab, begini, begitu, masalah hukum, dan pengobatan, daripada Aisyah’. Aku lalu bertanya kepadanya, ‘Wahai bibi, tentang pengobatan, darimana engkau mempelajarinya?’ Dia menjawab, ‘Ketika sakit, aku diobati dengan sesuatu dan jika ada orang sakit, dia juga diobati dengan sesuatu itu. Aku lalu menyuruh orang-orang agar saling mengobati dengan sesuatu itu, sehingga akhirnya aku hafal’.”

Az-Zuhri —dari riwayat Ma’mar dan Al Auza’i dan ini redaksi Auza’i— berkata: Auf bin Ath-Thufail bin Al Harits Al Azdi —keponakan Aisyah— berkata: Suatu ketika Aisyah mendapat berita bahwa Abdullah bin Az-Zubair berada di rumahnya yang dijualnya, lalu Abdullah marah karena penjualan rumah itu, ia berkata, “Demi Allah, cegahlah Aisyah menjual kekayaannya atau aku akan menekannya.”

Aisyah lalu bertanya, “Apakah dia berkata begitu?” Mereka menjawab, “Begitulah kiranya.” Aisyah berkata, “Demi Allah, aku tidak mau berbicara dengannya hingga kami dipisahkan oleh maut.”

Lama Aisyah tidak mau berbicara dengan Abdullah bin Az-Zubair, sehingga itu membuatnya sedih dan banyak orang yang telah menjelaskan kepada Aisyah bahwa Abdullah bin Az-Zubair merasa berat menanggung hal tersebut, tetapi Aisyah tetap tidak mau berbicara dengannya.

Ketika permasalahan tersebut semakin berlarut-larut, Al Al Miswar bin Makhramah dan Abdurrahman bin Al Aswad bin Abdul Yaghuts meminta izin kepada Aisyah untuk menghadap. Ketika mereka berdua diizinkan, keduanya bertanya, “Kami semua diizinkan?” Aisyah menjawab, “Ya, masuklah kalian semua.” Tetapi Aisyah tetap tidak merasa. Tak lama kemudian Ibnu Az-Zubair masuk bersama keduanya. Lalu Abdullah bin Az-Zubair membuka kain penghalang, lantas memeluknya kemudian menangis. Aisyah pun menangis tersedu-sedu. Ibnu Az-Zubair, Al Miswar, dan Abdullah mengingatkannya tentang Allah dan kemurkaan-Nya. Mereka juga menyebutkan sabda Rasulullah, “Tidak halal bagi seorang muslim untuk mendiamkan saudaranya lebih dari tiga hari.” Ketika mereka banyak menyebutkan hadits itu kepada Aisyah, akhirnya dia mau berbicara dengan Ibnu Az-Zubair, setelah sekian lama tidak mau berbicara. Setelah itu Aisyah pergi ke Yaman dengan membawa harta, kemudian dia dibelikan empat puluh budak, lalu dia memerdekakannya.

Auf berkata, “Selanjutnya aku mendengar Aisyah menceritakan tentang nadzarnya itu dan menangis hingga membasahi kerudungnya.”

Az-Zuhri berkata, “Seandainya ilmu Aisyah dikumpulkan dan dibandingkan dengan semua ilmu wanita di dunia, maka ilmu Aisyah lebih banyak.”

Diriwayatkan dari Atha`, bahwa Mu’awiyah pernah mengirim kalung kepada Aisyah dengan harta seratus ribu dirham, lalu Aisyah membaginya kepada istri-istri Rasulullah SAW.

Diriwayatkan dari Urwah, dari Aisyah, bahwa dia pernah bersedekah dengan tujuh puluh ribu dirham, tetapi dia sendiri menambal bagian samping bajunya.

Diriwayatkan dari Ummu Dzurrah, dia berkata, “Ibnu Az-Zubair pernah mengirim harta kepada Aisyah dalam dua peti sebanyak seratus ribu dirham. Lalu dia meletakkannya di dalam wadah lalu membagikannya kepada orang-orang. Ketika sore tiba, dia berkata, ‘Wahai budak perempuanku, siapkan makanan berbukaku!’ Ummu Dzurrah lalu berkata, ‘Wahai Ummul Mukminin, apakah engkau tidak bisa membeli daging dengan satu dirham?’ Aisyah menjawab, ‘Jangan menyalahkanku, jika kamu tadi mengingatkanku, tentu aku akan melakukannya’.”

Diriwayatkan dari Mush’ab bin Sa’ad, dia berkata, “Umar pernah mewajibkan untuk memberi kepada masing-masing Ummahatul Mukminin sepuluh ribu dirham dan dia menambahkan untuk Aisyah dua ribu dirham lalu berkata, ‘Karena dia kekasih Rasulullah SAW’.”

Diriwayatkan dari Syu’bah, dia berkata, “Abdurrahman bin Wasim menceritakan kepada kami dari ayahnya, bahwa Aisyah pernah berpuasa sepanjang masa.”

Diriwayatkan dari Amr bin Abu Amr, bahwa dia mendengar Al Qasim berkata, “Aisyah memakai dua perhiasan emas dan perak pada waktu sedang ihram.”

Diriwayatkan dari Ibnu Abu Mulaikah, dia berkata: Aisyah berkata, “Rasulullah SAW meninggal di rumahku, pada hari giliranku, saat berada di atas pangkuanku. Tak lama kemudian Abdurahman bin Abu Bakar masuk sambil membawa siwak kering, lalu beliau melihatnya terus hingga aku mengira beliau menginginkannya, maka siwak itu kemudian aku ambil, lalu aku kupas dan aku beri wewangian. Aku lantas memberikannya kepada beliau, lalu beliau bersiwak dengan cara yang tidak pernah aku sebelumnya. Setelah itu beliau mengangkat tangannya kepadaku (memberikan siwak), lalu tangannya jatuh. Aku kemudian mendoakannya dengan doa yang dibacakan oleh Jibril kepadanya, yang sering beliau baca ketika sedang sakit, tetapi beliau tidak pernah lagi berdoa dengannya selama sakit yang terakhir. Ketika itu beliau mengangkat pandangannya ke langit seraya berkata, ‘Ar-rafiq al a’laa’, lalu jiwanya melayang. Segala puji bagi Allah yang telah menyatukan dadaku dengan dadanya pada akhir kehidupannya di dunia.” 
Hadits ini shahih.

Aisyah meninggal tahun 57 Hijriyah.
Diriwayatkan dari Qais, dia berkata: Aisyah pernah berkeinginan agar jasadnya disemayamkan di rumahnya, maka dia berkata, “Aku sesungguhnya ingin melakukan sesuatu yang baru setelah Rasulullah wafat, ‘Kuburlah aku bersama istri-istri beliau’. Maka dia pun dikuburkan di Baqi`.” 

Menurutku yang dimaksud sesuatu yang baru adalah perjalanan yang dilakukannya pada saat perang Jamal. Kemudian dia amat menyesali tindakannya itu dan bertobat, meskipun dia melakukan hal itu untuk tujuan baik, seperti halnya ijtihad Thalhah bin Ubaidullah, Zubair bin Awam dan beberapa orang dari kalangan pembesar. Semoga Allah meridhai mereka.

Aisyah meninggal dalam usia 63 tahun satu bulan.
Diriwayatkan dari Aisyah RA, bahwa dia pernah membunuh seorang jin, lalu dia didatangi dalam mimpinya, “Demi Allah, kamu telah membunuh seorang muslim.”

Aisyah berkata, “Seandainya dia seorang jin muslim, tentu dia tidak akan masuk rumah istri-istri Nabi.” Lalu ada yang berkata, “Bukankah ketika dia masuk kamu memakai pakaian?” Tiba-tiba Aisyah gemetar, lalu dia menyuruh menyedekahkan dua belas ribu dirham untuk diinfakkan di jalan Allah.

Diriwayatkan dari Aisyah binti Thalhah, dia berkata, “Ada seorang jin menampakkan diri di depan Aisyah. Jin itu kemudian sering sekali menampakkan diri di hadapan dirinya dan yang hanya jin itu inginkan adalah menampakkan diri. Aisyah lantas menyerangnya dengan besi hingga membunuhnya. Aisyah kemudian bermimpi. Dalam mimpinya, ada yang berkata, ‘Kamu telah membunuh seseorang yang menyaksikan perang Badar, tetapi dia tidak dapat dilihat oleh dirimu, tidak beralas, dan tidak sendirian, tetapi dia bisa mendengar hadits Rasulullah SAW lalu mengambilnya dari awal hingga akhir’. Ketika Aisyah menceritakan mimpi itu kepada ayahnya, ayahnya berkata, ‘Sedekahkanlah dua belas ribu dirham sebagai ganti diyatnya’.”

Sanad hadits yang pertama shahih. Pada saat ini, aku tidak lagi mendapatkan adanya kewajiban membayar diyat semacam itu.

Diriwayatkan dari Ibnu Abbas, dia berkata, “Rasulullah SAW bersabda, 

‘Siapa pun di antara kalian yang nantinya mengendarai unta besar, maka akan banyak korban yang dibunuh di sekelilingnya, dan dia selamat setelah nyaris binasa’.”

Ibnu Abdul Barr berkata, “Hadits ini diambil dari kitab A’lam An-Nubuwwah.”

------------------
siyar alam an-nubala
pustakaazzam.com

Fatimah binti Rasulullah SAW


Fatimah adalah pemimpin wanita dunia pada zamannya, yaitu pada masa kenabian.
Dia adalah wanita pilihan, Ummu Abiha,126 putri Rasulullah SAW, Al Qurasyiyah, Al Hasyimiyah, dan Ummu Al Husain.

Dilahirkan beberapa saat sebelum Rasulullah SAW diutus sebagai nabi.
Dia dinikahi oleh Ali bin Abu Thalib pada bulan Dzulqa’dah, atau sebelumnya dua tahun setelah perang Badar.

Nabi SAW sangat mencintainya dan memuliakannya. Dia memiliki banyak keistimewaan. Dia sosok yang sabar, baik hati, menjaga diri, menerima, dan bersyukur kepada Allah. Nabi SAW pernah marah kepadanya ketika sampai berita bahwa Abu Hasan (Ali bin Abu Thalib) ingin menikahi putri Abu Jahal. Ketika itu beliau bersabda, “Demi Allah, putri Nabiyullah tidak boleh dicampur dengan putri musuh Allah. Sesungguhnya Fatimah merupakan bagian dariku. Sesuatu yang meragukanku berarti meragukannya dan sesuatu yang menyakitiku berarti menyakitinya.”

Ali akhirnya tidak jadi meminang putri Abu Jahal karena menjaga kehormatan Fatimah. Oleh karena itu, Ali tidak menikah dengan wanita lain dan tidak membeli budak perempuan. Setelah Fatimah meninggal, Ali menikah lagi dan membeli budak perempuan.

Ketika Rasulullah SAW meninggal, dia sangat terpukul lalu menangis, seraya berkata, “Wahai Ayahku, kepada Jibril aku mengeluh. Wahai Ayahku, yang doanya dikabulkan oleh Tuhan jika berdoa, semoga surga Firdaus menjadi tempat tinggalmu.”

Setelah Rasulullah SAW dikubur, Fatimah berkata, “Wahai Anas, mengapa jiwamu biasa-biasa saja ketika engkau menimbun tanah ke jasad Rasulullah?”

Rasulullah SAW bersabda kepada Fatimah ketika beliau sakit, “Sesungguhnya aku akan meninggal karena sakitku ini.” Mendengar itu, Fatimah menangis. Namun beliau menenangkan dirinya dengan memberitahukan bahwa dia adalah keluarga Rasulullah yang pertama kali bertemu dengan beliau.” Ketika itu dia adalah pemimpin wanita dunia ini.” Dia pun terima dan menyembunyikannya. Ketika Rasulullah SAW telah wafat, Aisyah bertanya kepadanya, lalu dia bercerita kepadanya tentang berita itu.

Aisyah RA berkata, “Jika Fatimah datang sambil berjalan, gaya jalannya terlihat sama dengan gaya berjalan Rasulullah SAW. Lalu beliau berdiri seraya berkata, ‘Selamat datang wahai putriku!’.”

Ketika ayahnya meninggal, Fatimah berharap dirinya mendapat harta warisan, maka dia menemui Abu Bakar untuk memintah haknya. Abu Bakar lalu memberitahukan kepadanya bahwa dia mendengar Nabi SAW bersabda,  “Kami tidak mewariskan, dan apa yang kami tinggalkan adalah sedekah.”  Setelah itu dia nampak sedikit marah kepadanya lalu meratapi dirinya.

Diriwayatkan dari Asy-Sya’bi, dia berkata, “Ketika Fatimah sakit, Abu Bakar datang lalu meminta izin. Ali lantas berkata, ‘Wahai Fatimah, ini ada Abu Bakar meminta izin menemui dirimu’. Fatimah berkata, ‘Apakah kamu ingin aku mengizinkannya?’ Ali menjawab, ‘Ya’.” 

Menurut aku, dia ketika itu mempraktekkan Sunnah Nabi SAW, tidak mengizinkan seorang pun masuk rumah suaminya kecuali atas izin suaminya.

Asy-Sya’bi berkata, “Setelah itu Fatimah mengizinkan Abu Bakar. Abu Bakar pun menemuinya untuk meminta ridhanya, ia berkata, ‘Demi Allah, aku tidak meninggalkan rumah, harta, keluarga, dan kerabat kecuali untuk mencari keridhaan Allah, Rasul-Nya, dan Ahlul Bait’.”

Asy-Sya’bi berkata, “Abu Bakar kemudian meminta ridha kepada Fatimah hingga dia pun meridhainya.”127
Fatimah meninggal dunia sekitar lima bulan setelah Nabi SAW wafat, saat berusia 24 atau 25 tahun.
Nasab Nabi SAW telah terputus kecuali nasab dari pihak Fatimah.

Diriwayatkan dalam hadits shahih bahwa Nabi SAW mengagungkan Fatimah, Ali bin Abu Thalib, dan kedua putranya dengan pakaian lalu berdoa, “Ya Allah, mereka adalah keluargaku, maka jauhkan segala yang keji dari mereka dan bersihkanlah mereka sebersih-bersihnya.”
Diriwayatkan dari Abu Sa’id, dia berkata, “Rasulullah SAW bersabda, 

‘Tidak seorang pun yang menjadikan Ahlul Bait (keluargaku) marah kecuali Allah akan memasukkannya ke dalam neraka’.”

Diriwayatkan dari Tsauban, dia berkata: Rasulullah SAW pernah menemui Fatimah saat aku bersamanya. Fatimah kemudian mengambil kalung emas dari lehernya lalu berkata, “Ini adalah kalung yang dihadiahkan Abu Hasan (Ali) kepadaku.” Nabi SAW lantas bersabda, “Wahai Fatimah, apakah engkau senang orang berkata, ‘Inilah Fatimah binti Muhammad yang di tangannya ada kalung dari api neraka?’.” Setelah itu beliau keluar. Tak lama kemudian Fatimah membeli seorang budak dengan kalung emas itu lalu memerdekakannya. Tatkala itu Nabi SAW bersabda, “Segala puji bagi Allah yang telah menyelamatkan Fatimah dari api neraka.” (HR. Abu Daud)

Fatimah mempunyai dua orang putri, yaitu Ummu Kultsum (istri Umar bin Khaththab) dan Zainab (istri Abdullah bin Ja’far bin Abu Thalib). 

Diriwayatkan dari Abu Al Bukhturi, dia berkata, “Ali berkata kepada ibunya, ‘Cegahlah Fatimah untuk mengabdi di luar rumah, tetapi cukuplah dia bekerja di dalam rumah, membuat adonan roti dan tepung’.” 

Diriwayatkan dari Aisyah Ummul Mukminin, dia berkata, “Aku tidak pernah melihat seorang pun yang perkataan dan pembicaraannya menyerupai Rasulullah SAW selain Fatimah, dan jika Fatimah menghadap Rasulullah SAW, maka beliau berdiri lalu menciumnya dan memanjakan dirinya. Begitu juga Fatimah memperlakukan Nabi SAW.”

Aisyah berkata, “Fatimah hidup selama enam bulan setelah Nabi SAW wafat. Kemudian dia dimakamkan pada malam hari.” 

Al Waqidi berkata, “Ini adalah pendapat yang paling kuat menurut kami. Al Abbas ikut menshalatinya. Kemudian Al Abbas, Ali, dan Al Fadhl turun ke liang lahadnya saat jasadnya dikubur.” 

Diriwayatkan dari Masruq, bahwa Aisyah pernah berkata kepadaku: Suatu hari istri-istri Rasulullah SAW berkumpul di sisinya, tidak satu pun di antara mereka yang pergi. Kemudian Fatimah datang dengan langkah yang jauh berbeda dengan langkahnya Rasulullah SAW. Ketika beliau melihatnya, beliau menyambutnya seraya bersabda, “Selamat datang Anakku!” Kemudian dia didudukkan di samping kanan atau kirinya, lalu berbisik kepadanya hingga dia menangis. Setelah itu Rasulullah SAW berbisik lagi kepadanya hingga Fatimah tertawa. Ketika beliau berdiri, aku berkata kepada Fatimah, “Hanya karena Rasulullah berbisik kepadamu, kamu menangis. Aku sebenarnya ingin tahu, apa yang dibisikkan beliau kepadamu dan aku punya hak untuk mengetahuinya darimu.” Ketika dia ingin menjelaskan kepadaku apa yang menjadikannya tertawa dan menangis, dia berkata, “Aku tidak akan menyebarluaskan rahasia Rasulullah SAW.”

Setelah Rasulullah SAW wafat, aku bertanya kepadanya, “Aku masih ingin mengetahui sesuatu yang berhak aku ketahui darimu.” Fatimah menjawab, “Kalau sekarang aku mau menceritakannya. Pertama, Rasulullah SAW mengatakan kepadaku bahwa biasanya malaikat Jibril turun menemui beliau dengan Al Qur`an setiap tahun sekali, namun kemudian beliau mengatakan bahwa Jibril mendatanginya pada tahun ini setahun dua kali. Lalu beliau bersabda, ‘Maka aku tidak mengira kecuali bahwa ajalku telah dekat. Oleh karena itu, bertakwalah kepada Allah dan bersabarlah’. Aku pun menangis. Ketika beliau melihatku sedih, beliau bersabda, ‘Apakah kamu tidak rela jika nanti kamu menjadi pemimpin wanita dunia atau pemimpin wanita umat ini?’ Aku pun tertawa.” (HR. Al Bukhari) 



-------------------------------
siyar alam an-nubala
pustakaazzam.com

Berita Islam

Masih dalam pengembangan

Bisnis

Masih dalam pengembangan

Dunia Buku


       
       
    


  

Mustadrak

Al Mustadrak




Kitab Al Mustadrak karya Al Hakim telah menimbulkan perdebatan ketika Al Hakim mengaku telah mengoreksi Al Bukhari dan Muslim dalam hampir 9000 hadits yang seharusnya dinukil keduanya dalam kitab Shahih-nya, karena hadits-hadits tersebut sesuai syarat (kriteria) keduanya atau salah satunya, atau memiliki sanad yang shahih, tetapi tidak memenuhi kriteria salah satu dari keduanya.
Syarat (Kriteria) Al Bukhari dan Muslim
Imam Nawawi berkata, “Maksud perkataan para muhaddits, 'sesuai syarat (kriteria) keduanya atau salah satunya', adalah bahwa para periwayat sanad tersebut terdapat dalam kitab Al Bukhari dan Muslim atau salah satunya, karena keduanya tidak memiliki (tidak menetapkan) syarat dalam kitab keduanya dan tidak pula dalam selain kitab keduanya.”
Kitab Al Mustadrak dalam Timbangan
            Jika kita melihat kitab Al Mustadrak secara umum, maka akan mendapatkan bahwa Al Hakim terlalu mudah dalam menilai “shahih” hadits-hadits yang tidak shahih.
Adz-Dzahabi berkata, “Dalam kitab Al Mustadrak terdapat banyak hadits yang sesuai kriteria Al Bukhari dan Muslim atau salah satunya. Jumlahnya sekitar separuh dari isi kitab. Seperempatnya memiliki sanad yang shahih, sedangkan sisanya (seperempat lagi) merupakan hadits-hadits munkar yang lemah dan tidak shahih, yang sebagiannya maudhu’.”
Ini merupakan hal yang mengherankan, karena Al Hakim termasuk salah seorang ahli hadits yang brilian di bidangnya. Ada yang berkata, "Hal itu disebabkan bahwa dia menulisnya pada akhir masa hidupnya, yang saat itu dia sudah agak pelupa."
Al Hafizh Ibnu Hajar berkata, “Al Hakim bersikap menggampangkan karena dia mengkonsep kitab tersebut untuk diralat kemudian, tetapi dia meninggal sebelum sempat meralat dan membetulkannya.”
Banyak periwayat hadits yang berkata, “Sesungguhnya sikap Al Hakim yang menyendiri dari para Imam hadits dalam men-shahih-kan suatu hadits perlu dikaji, sehingga dapat diketahui mana yang shahihhasan, dan dha'if.”[1]
Metode tahqiq Kitab Al Mustadrak
Seperti diketahui, kitab Al Mustadrak ini dicetak di percetakan Da`irah Al Ma’arif An-Nizhamiyah, di Hyderabad Dakan, India. Pada halaman pingirnya dicantumkan kitab Talkhish Al Mustadrak karya Imam Adz-Dzahabi.
Pada mulanya aku ingin kitab At-Talkhish tetap berada di pinggir halaman Al Mustadrak, tetapi aku berubah pikiran agar tidak terkesan dobel dan pengulangan yang tidak bermanfaat, karena Adz-Dzahabi menyusun kitabnya seperti kitab tersendiri, lalu dia memberikan komentar terhadap setiap hadits, baik pembenaran terhadap hadits yang sudah dinilai shahih oleh Al Hakim, atau komentar yang menolaknya. Oleh karena itu, tidak perlu menampilkan kitab At-Talkhish secara penuh di pinggir halaman Al Mustadrak.
Hal terpenting bagi kami adalah meletakkan setiap komentar Adz-Dzahabi pada setiap hadits. Kami memilih metode ini, agar kitabnya tidak terlalu tebal.
Adapun metode tahqiq kitab ini adalah:
1.        Mengomparasikan kitab yang telah dicetak dengan manuskrip-manuskrip yang akan kami sebutkan, menyempurnakan kekurangan yang ada dalam kitab yang tercetak, dan membenarkan kesalahannya.
2.        Memberi nomor urut untuk setiap hadits, serta nomor khusus untuk setiap kitab (pembahasan).
3.        Memberi nomor jilid dan halaman yang terdapat pada cetakan sebelumnya untuk menggabungkan cetakan lama dengan cetakan ini. Juga untuk manfaat yang lain bagi peneliti.
4.        Menyertakan ringkasan perkataan Adz-Dzahabi dalam At-Talkhish untuk setiap hadits, tepatnya pada catatan kaki (foot note). Kami juga menyertakan perkataan Al Munawi dalam kitab Faidh Al Qadir, serta komentarnya terhadap apa yang kami temukan dalam kitab Al Jami’ Ash-Shaghir, dan Al Mustadrak. Perkataan Al Munawi dan komentar Adz-Dzahabi memuat komentar lain untuk Imam Al Iraqi dalam kitabnya Al Amali.
5.        Adapun hadits yang tidak dikomentari Adz-Dzahabi, maka kami berusaha semampunya untuk meneliti para periwayat dalam sanadnya. Kami juga menulis komentar Imam Adz-Dzahabi dalam kitab Mizan Al I’tidal tentang kritik terhadap periwayat tertentu jika terdapat dalam sanadnya.
6.        Kami menulis mukaddimah ini, yang berisi penjelasan tentang biografi Al Hakim dan Adz-Dzahabi, serta memperkenalkan kitab ini dan metode tahqiq yang digunakan.
7.        Membuatkan daftar isi penting untuk kitab ini, yang akan kami jelaskan.
Akhirnya, hanya kepada Allah aku berharap upaya yang ikhlas dan semata-mata karena-Nya, dapat bermanfaat bagi para penuntut ilmu yang menekuni hadits Nabi SAW. Semoga Allah mengampuni kesalahanku dan memberi pahala atas kebenaran yang aku berikan. Cukuplah Allah menjadi Penolong kami dan Allah adalah sebaik-baik Pelindung.
Shalawat dan salam semoga senantiasa tercurahkan untuk Nabi Muhammad SAW, keluarga dan sahabatnya. Akhir doa kami adalah, segala puji bagi Allah, Tuhan seru semesta alam.


[1]     Tarikh Funun Al Hadits karya Muhammad Abdul Aziz Al Khauli, hal. 98, cet. Dar Al Qalam.
-----------------
ref. al mustadrak ala shahihaini
terb. pustaka azzam

Khadijah Ummul Mukminin


 Dia adalah pemimpin wanita dunia pada masanya.
Dia bernama Ummu Al Qasim binti Khuwailid bin Asad Al Qurasyiyah Al Asadiyyah. 
Dia ibu dari putra-putri Rasulullah SAW, wanita yang pertama kali beriman kepada beliau dan membenarkannya sebelum orang lain. Dia memiliki jiwa yang teguh dan sempat menemui keponakannya yang bernama Waraqah.

Dia memiliki banyak keistimewaan, diantaranya dia adalah sosok wanita yang sempurna, pandai, terpandang, terjaga, mulia, dan ahli surga. Nabi SAW banyak memujinya dan lebih mengutamakan dirinya daripada istri-istri beliau lainnya, bahkan berlebihan memujinya, sampai-sampai Aisyah berkata, “Aku tidak pernah cemburu kepada seorang wanita pun seperti kecemburuanku kepada Khadijah, karena Nabi SAW selalu menyebutnya.”

Di antara tanda kemuliaan Khadijah adalah: 
Pertama, ketika menikah dengan Nabi SAW, beliau belum menikah dengan wanita lain. 
Kedua, dia melahirkan banyak anak dari beliau. 
Ketiga, Nabi SAW tidak menikah lagi selama Khadijah hidup. 
Keempat, Nabi SAW tidak pernah kesusahan selama Khadijah masih hidup.
Kelima, Khadijah adalah tipe pasangan yang paling baik, karena dia rela menginfakkan hartanya demi memuluskan dakwah. 
Keenam, Nabi SAW memperdagangkan hartanya.
Allah SWT memerintahkan Nabi SAW agar memberinya kabar gembira berupa istana permata di surga yang luas, tidak bising, dan tidak ada kesulitan.

Az-Zubair bin Bakkar berkata, “Pada masa jahiliyah, Khadijah disebut wanita suci, karena ibunya bernama Fatimah binti Za`idah Al Amiriyah.”

Khadijah adalah mantan istri Abu Halah bin Zurarah At-Tamimi, lalu dia menikah lagi dengan Atik bin Abid bin Abdullah bin Umar bin Makhzum, kemudian menikah dengan Nabi SAW yang pada saat itu baru berusia 25 tahun. Ketika itu Nabi SAW lebih muda lima belas tahun darinya.

Diriwayatkan dari Aisyah, bahwa Khadijah meninggal sebelum shalat lima waktu diwajibkan. Ada yang mengatakan bahwa dia meninggal dunia pada bulan Ramadhan dan dikuburkan di Hajun123 saat berusia 65 tahun.

Diriwayatkan dari Abdullah Al Bahi, dia berkata: Aisyah berkata, “Jika Rasulullah SAW bercerita tentang Khadijah, beliau tidak pernah bosan memujinya dan memintakan ampunan untuknya. Pada suatu hari, beliau bercerita tentang Khadijah hingga aku dibuatnya cemburu, aku berkata, ‘Allah telah memberikan pengganti orang tua itu dengan yang lebih muda’. Seketika itu beliau terlihat marah besar, hingga menusuk hatiku, sampai-sampai aku berkata dalam hatiku, ‘Ya Allah, seandainya Engkau dapat mengenyahkan kemarahan Rasulullah terhadapku maka aku tidak akan membuat diri beliau tersinggung lagi’. Ketika Nabi SAW mengetahui perkataanku, beliau bersabda, ‘Apa katamu? Dia selalu percaya kepadaku ketika semua orang tidak mempercayai diriku, dia menerimaku ketika semua orang menolakku, dan dia memberiku anak sedangkan kalian tidak’. Setelah itu Rasulullah SAW pergi dan menghindari diriku selama satu bulan.”

Al Waqidi berkata, “Setelah orang-orang kafir Makkah memusuhi keluarga bani Hasyim tiga tahun sebelum hijrah, Abu Thalib meninggal. Setelah satu bulan lima hari, Khadijah meninggal dunia.”

Diriwayatkan dari Abu Zur’ah, bahwa dia mendengar Abu Hurairah berkata, “Jibril pernah mendatangi Nabi SAW dan berkata, ‘Khadijah akan menemuimu dengan membawa wadah berisi lauk, makanan, dan minuman. Jika dia telah datang menemuimu, sampaikan salam Tuhannya dan diriku untuk dirinya serta kabar gembira dari Tuhannya dan dariku, bahwa dia akan memperoleh surga dari permata yang tidak pernah ada kebisingan dan rasa lelah di dalamnya’.”

Diriwayatkan dari Abdullah bin Ja’far, dia berkata: Aku mendengar Ali berkata, “Aku mendengar Rasulullah SAW bersabda, ‘Sebaik-baik istri adalah Khadijah binti Khuwailid dan  Maryam binti Imran’.”

Ibnu Ishaq berkata, “Musibah menimpa Rasulullah SAW secara bertubi-tubi, setelah wafatnya Abu Thalib dan Khadijah, karena Khadijah orang pertama yang mempercayai beliau, dan nasabnya lebih dekat kepada Qushai daripada Nabi SAW, hanya selang satu orang. Dia juga wanita kaya. Sebelum menikah dengan Nabi, dia menawarkan kepada Nabi SAW agar mengelola hartanya untuk diperdagangkan ke negeri Syam, maka beliau keluar ke negeri Syam bersama pembantu Khadijah bernama Maisarah. Ketika datang, Khadijah mendapatkan banyak keuntungan berlipat ganda. Akhirnya dia jatuh cinta kepada Muhammad, sehingga dia menawarkan dirinya untuk dinikahi. Nabi SAW kemudian menikahinya, yang saat itu nilainya sebanding dengan dua puluh perawan.”

Putra-putri Khadijah adalah Al Qasim, Ath-Thayyib, Ath-Thahir (ketiganya meninggal saat masih bayi), Ruqayyah, Zainab, Ummu Kultsum, dan Fatimah.

Aisyah berkata, “Wahyu yang pertama kali diterima oleh Nabi SAW adalah berupa mimpi yang benar.” 
Selanjutnya Aisyah berkata, “Tak lama kemudian turun firman Allah,  اقْرَأْ بِاسْمِ رَبِّكَ الَّذِي خَلَقَ  ‘Bacalah atas nama Tuhanmu yang menciptakan ...’.’  (Qs. Al Alaq [96]: 1-5) Nabi SAW pun pulang dalam keadaan gemetar hingga dia menemui Khadijah, lalu berkata, ‘Selimutilah aku!’ Khadijah kemudian menyelimuti tubuh beliau hingga rasa takutnya hilang. Beliau lantas bersabda, ‘Apa yang terjadi padaku wahai Khadijah?’ Selanjutnya Rasulullah SAW  menceritakan apa yang terjadi pada dirinya lalu berkata, ‘Aku merasa ketakutan sendiri’. Mendengar itu, Khadijah berkata kepada beliau, ‘Jangan takut, bergembiralah, Allah tidak akan menghinakanmu selamanya, karena engkau orang yang suka menyambung tali silaturrahim, bertutur kata jujur, tabah, dan membela kebenaran’. 

Setelah itu Khadijah mengajak beliau menemui pamannya, Waraqah bin Naufal bin Asad. Dia orang Nasrani pada masa hahiliyah dan dia menulis Arab. Dia juga bisa menukil Injil ke dalam bahasa Arab, namun ketika itu dia sudah berusia lanjut dan buta. Khadijah berkata kepadanya, ‘Dengarkan perkataan keponakanmu ini’. Dia berkata, ‘Wahai keponakanku, apa yang engkau lihat?’ Nabi SAW kemudian menceritakan kepadanya. Mendengar ceritanya, Waraqah berkata, ‘Itulah Jibril yang pernah turun menemui Musa’.”

Syaikh Izzuddin bin Al Atsir berkata, “Khadijah adalah makhluk Allah yang pertama kali masuk Islam, menurut konsensus Umat Islam.”

Diriwayatkan dari Anas, dia berkata, “Sebaik-baik wanita dunia adalah Maryam, Aisyah, Khadijah binti Khuwailid, dan Fatimah.”

Diriwayatkan dari Ibnu Abbas, dia berkata, “Rasulullah SAW bersabda, 

‘Pemimpin wanita penghuni surga setelah Maryam adalah Fatimah, Khadijah, dan istri Fir’aun, Asiyah’.”


----------------------------
siyar alam an-nubala
pustakaazzam.com

Kisra



Dia adalah Kaisar Romawi terakhir. Dia bernama asli Yazdajir bin Syahriyar bin Barwiz. Dia dikenal sebagai penganut agama Majusi dan berkebangsaan Persia.

Dia kalah dari pasukan Umar hingga akhirnya mereka dapat menguasai Irak dan lari ke Marwa. Setelah itu hari-harinya berubah. Para pemimpin negerinya memberontak dan membunuhnya pada tahun 30 Hijriyah. Ada yang mengatakan bahwa dia dikalahkan oleh pasukan Turki dan para pejabatnya berhasil dibunuh. Dia lantas melarikan diri dan bersembunyi di sebuah rumah, tetapi sang pemilik rumah tersebut mengkhianatinya, maka dia membunuh pemilik rumah tersebut, namun kemudian dia berhasil dibunuh.



-----------------------
siyar alam an-nubala
pustakaazzam.com

Abu Sufyan


Dia adalah Shakhar bin Harb bin Umayyah bin Abdu Syams. 
Dia adalah panglima Quraisy dalam perang Uhud dan Khandaq. Meskipun dia memiliki watak dan pendirian yang keras, namun ketika Allah mengenalkan Islam kepadanya, dia luluh lalu masuk Islam pada saat peristiwa penaklukkan kota Makkah. Akan tetapi nampaknya dia masuk Islam lantaran terpaksa dan merasa terintimidasi. Untungnya, setelah beberapa hari keislamannya menjadi baik. 

Dia termasuk tokoh Arab yang terpandang, berwawasan luas, dan berwibawa. Dia pernah ikut dalam perang Hunain. Menantunya, yaitu Rasulullah SAW, memberikan harta rampasan berupa seratus ekor unta dan 40 uqiyah uang dirham untuk membuat dirinya lunak dan tertarik. Setelah itu dia meninggalkan penyembahan Hubal dan tertarik dengan ajaran Islam.

Selain itu, Abu Sufyan juga pernah turut dalam perang Tha‘if hingga matanya cedera. Kemudian matanya yang lain cedera pada waktu perang Yarmuk. Pada saat itu keimanannya telah baik, Insya Allah. Dia sangat gigih mengajak berjihad, dan berada di bawah panji putranya sendiri, yaitu Yazid. Dia berteriak, “Duhai pertolongan Allah, mendekatlah!” Ketika berada di tengah-tengah pasukan untanya, dia berdzikir sambil menyebut, “Allah, Allah, kalian adalah penolong Islam dan penguasa Arab, sedangkan mereka adalah penolong kemusyrikan dan Romawi. Ya Allah, ini adalah hari-Mu, ya Allah turunkanlah pertolongan-Mu.”

Jika benar perkataan ini berasal darinya, berarti dia tidak menyembunyikan keimanannya, dan tidak diragukan lagi bahwa pernyataannya tentang Hirqal dan surat Nabi SAW itu menunjukkan keimanannya.  
     
Abu Sufyan lebih muda dari Rasulullah SAW sepuluh tahun dan dia masih hidup dua puluh tahun setelah beliau wafat. Umar juga sangat menghormatinya karena dia tokoh terpandang bani Umayyah. Selain itu, dia adalah mertua Nabi SAW.

Dia meninggal dunia setelah melihat kedua anaknya, Yazid dan Mu’awiyah, menjadi khalifah di Damaskus. 
Dia sangat tertarik dengan kepemimpinan dan suka dipuji. Dia mempunyai kedudukan yang tinggi pada masa kekhalifahan keponakannya, Utsman.



__________
siyar alan an-nubala
pustakaazzam.com

Al Abbas


Dia adalah paman Rasulullah SAW.
Ada yang mengatakan bahwa dia masuk Islam sebelum Hijrah, tetapi dia menyembunyikan keislamannya. Pada waktu perang Badar, dia keluar dengan kaumnya. Kala itu dia ditawan oleh pasukan Islam, tetapi dia mengatakan bahwa dia seorang muslim. Wallahu a’lam.

Al Abbas bukan termasuk sahabat yang fasih. Dia pernah menghadap Nabi SAW —sebelum peristiwa penaklukkan kota Makkah— untuk melindungi Abu Sufyan bin Harab. 
Dia juga pernah berkunjung ke Syam bersama Umar.
Dia dilahirkan 3 tahun sebelum tahun Gajah.

Menurut aku, Al Abbas adalah pria yang berpostur tinggi, tampan, berwibawa, suaranya lantang tetapi lembut, dan kharismatik. 

Diriwayatkan dari Abu Razin, dia berkata, “Al Abbas pernah ditanya, ‘Siapakah yang lebih tua, kamu atau Nabi?’ Al Abbas menjawab, ‘Beliau yang lebih tua, meskipun aku dilahirkan sebelum beliau’.”

Az-Zubair bin Bakkar berkata, “Al Abbas mempunyai baju khusus untuk bani Hasyim yang telanjang, mangkuk khusus untuk orang-orang miskin, dan perhatian khusus untuk orang-orang bodoh.” 

Selain itu, Al Abbas selalu melindungi tetangga, menyedekahkan harta, dan memberi kepada orang-orang yang bertobat. 

Teman minumnya pada masa jahiliyah adalah Abu Sufyan bin Harab.
Diriwayatkan dari Al Bara` atau yang lain, dia berkata, “Suatu ketika seorang pria Anshar datang bersama Al Abbas yang ditawannya, lalu Al Abbas berkata, ‘Dia tidak menawanku’. Nabi lalu bersabda, ‘Sungguh, Allah telah menjagamu dengan seorang malaikat yang mulia’.”

Anak-anaknya adalah Al Fadhl —anak sulung—, Abdullah Al Bahar, Ubaidullah, Qutsam, Abdurrahman —wafat di Syam—, Ma’bad —mati syahid di Afrika—, dan Ummu Habib.

Sedangkan ibu mereka adalah Ummu Lubabah Al Hilaliyah, yang pernah disinggung oleh Ibnu Yazid Al Hilali dalam syairnya,

Tidak ada wanita yang melahirkan keturunan yang baik
Di gunung dan lembah yang kami ketahui
Seperti enam orang yang terlahir dari rahim Ummu Fadhl
Yang memuliakannya hingga lebih mulia dari pemuka kaum

Di antara keturunan Al Abbas adalah Katsir (dikenal sebagai seorang ahli fikih), Tamam (dikenal sebagai seorang tokoh Quraisy), dan Umaimah. Ibu mereka adalah Ummu Al Walid. Kemudian Al Harits bin Al Abbas, dan ibunya adalah Hujailah binti Jundab At-Tamimiyah. Jumlah mereka ada sepuluh.
Diriwayatkan dari Mathlab bin Rabi’ah, dia berkata: Rasulullah SAW bersabda, 

“Aku tidak tahu mengapa orang-orang itu menyakitiku dengan cara menyakiti Al Abbas. Sesungguhnya paman seseorang itu ibarat ayahnya, maka barangsiapa menyakiti Al Abbas berarti telah menyakitiku.”
Diceritakan bahwa pada waktu perang Hunain, ketika pasukan Islam mengalami kekalahan, Al Abbas mengambil kekang kuda Nabi SAW lalu melindungi beliau dari serangan sampai datang bala bantuan.  
Diriwayatkan dari Ibnu Abbas, dia berkata: Suatu ketika seorang pria Anshar mencela ayah Al Abbas karena tindakannya pada masa jahiliyah, maka Al Abbas menamparnya. Kaumnya lalu datang dan berkata, “Demi Allah, kami juga akan menamparnya sebagaimana dia menamparnya.” Setelah itu mereka menghunus pedang-pedang mereka. 
Ketika berita itu sampai ke telinga Rasulullah SAW, beliau langsung naik ke atas mimbar dan bersabda, “Wahai manusia, siapakah penduduk bumi yang paling mulia di sisi Allah?” Mereka menjawab, “Engkau.” Beliau bersabda lagi, “Al Abbas adalah bagian dariku dan aku adalah bagian darinya, maka kalian jangan mencaci orang-orang yang telah mati dari kami sehingga menyakiti orang-orang yang masih hidup di antara kami.” 

Setelah itu kaum tersebut datang dan berkata, “Kami berlindung kepada Allah dari ketidaksenanganmu wahai Rasulullah.” 

Diriwayatkan dari Anas, bahwa Umar pernah berdoa meminta hujan, dia berujar, “Ya Allah, dulu ketika Nabi masih hidup, jika kami meminta hujan maka kami bertawasul kepada beliau, maka sekarang kami memohon hujan kepada-Mu melalui perantara paman Nabi-Mu, yaitu Al Abbas.”

Adh-Dhahaq bin Utsman Al Hizami berkata, “Suatu ketika pada akhir malam, Al Abbas ingin memanggil budak-budaknya yang berada di hutan, maka dia berdiri di atas tembok lalu memanggil mereka dengan suara yang keras, padahal jarak hutan itu sekitar 7 mil darinya.”

Menurutku, Al Abbas adalah pria dengan postur tubuh yang sempurna, suaranya lantang, dan dialah orang yang diperintah Nabi SAW untuk menyeru di perang Hunain, “Wahai para pemilik pohon.”

Al Abbas selalu mengasihi dan mencintai Nabi SAW, serta sabar menghadapi penderitaan walaupun dia belum masuk Islam. Dia juga mengetahui secara persis peristiwa malam Aqabah. Pada suatu malam dia keluar dengan keponakannya beserta 70 orang lainnya, kemudian dia pergi menuju perang Badar beserta kaumnya dalam keadaan terpaksa, dan akhirnya tertawan. Lalu dia menampakkan kepada mereka bahwa dia telah masuk Islam. Dia lalu ke Makkah. Tetapi aku tidak tahu alasan dia tinggal di sana. 

Setelah itu berita tentang dirinya tidak lagi terdengar, apakah itu pada saat perang Uhud, perang Khandaq, tidak keluar bersama Abu Sufyan, dan tidak ada seorang pun dari kaum Quraisy yang menyebut tentang dirinya, sepanjang yang diketahui. Al Abbas kemudian menemui Nabi SAW untuk hijrah sebelum peristiwa penaklukkan Makkah. 

Disebutkan bahwa suatu ketika Umar bermaksud meletakkan saluran air milik Al Abbas yang berada di tempat lalu lalangnya orang-orang. Namun kemudian dia mencabutnya dan berkata, “Aku bersaksi bahwa sesungguhnya Rasulullah SAW yang berhak menaruh benda ini pada tempatnya.” Selanjutnya Umar bersumpah, “Sungguh naiklah ke atas punggungku dan letakkan pada tempatnya!” 

Al Abbas wafat pada tahun 23 Hijriyah, saat berusia 88 tahun. Jenazahnya ketika itu dishalati oleh Utsman, lalu dimakamkan di Baqi’.

Beberapa ahli telah berupaya keras mengumpulkan keutamaan yang dimiliki Al Abbas, hingga bisa dijadikan sebagai cermin bagi para khalifah. 

Banyak di antara keturunan Al Abbas yang menjadi raja, dan hal itu terus berlanjut hingga mencapai 37 khalifah jika dihitung hingga masa kita ini, yaitu   selama 600 tahun, yang dimulai dari As-Sifah. Sedangkan pemimpin saat ini yang berasal dari keturunan Al Abbas adalah Raja Malik An-Nashir.


_____________
siyar alam an-nubala
pustakaazzam.com


Abu Dzar

Dia adalah Jundub bin Junadah Al Ghifari.
Menurut aku, dia termasuk salah satu As-Sabiqun Al Awwalun, dan juga sahabat Muhammad SAW yang terpandang.

Ada yang mengatakan bahwa dia orang kelima dari lima orang terkenal dalam Islam. Kemudian dia dikembalikan ke negrinya dan tinggal di sana atas perintah Nabi SAW. Ketika Nabi SAW hijrah, Abu Dzar juga ikut berhijrah, menemani dan berjihad dengan beliau.

Dia memberikan fatwa pada masa pemerintahan Abu Bakar, Umar, dan Utsman.
Selain itu, dia dikenal mempunyai sifat zuhud, jujur, cendekia, pekerja keras, selalu mengatakan kebenaran, dan tidak takut dicela siapa pun demi menegakkan kalimat Allah.

Abu Dzar juga ikut serta dalam penaklukkan Baitul Maqdis bersama Umar.
Diriwayatkan dari Abdullah bin Ash-Shamit, dia berkata: Abu Dzar berkata, “Suatu ketika kami pergi bersama kaum kami ke negeri Ghifar. Mereka kemudian melanggar pantangan pada bulan-bulan haram. Aku, saudaraku, Unais, dan Ibuku lalu pergi ke rumah paman. Di sana kami diperlakukan dengan baik dan mulia, hingga kaumnya merasa iri kepada kami, mereka berkata kepadanya, ‘Jika kamu keluar dari keluargamu maka Unais mengatakan sesuatu yang buruk tentangmu kepada mereka’.” Paman kami lalu menceritakan kabar tersebut kepada, maka aku berkata, “Segala kebaikan yang telah kamu lakukan pada masa lalu telah kamu nodai dan tidak ada lagi yang dapat mengumpulkanmu di kemudian hari.” Setelah itu kami menyodorkan sepotong daging unta dan membawanya saat pamanku menangis. Kami lalu pergi hingga ke Makkah. Unais lantas memperkarakan daging unta kami dan yang serupa dengan itu, kemudian keduanya mendatangi dukun dan dukun itu memberikan pilihan kepada Unais. Kemudian Unais datang lagi kepada kami dan menaiki lagi unta kami. Dia berkata, “Wahai Keponakanku, sebenarnya aku telah mengerjakan shalat selama 3 tahun, sebelum aku bertemu Rasulullah.” Aku lalu bertanya, “Untuk siapa?” Dia menjawab, “Untuk Allah.” Aku bertanya lagi, “Ke arah mana kamu menghadap?” Dia menjawab, “Aku menghadap kepada Allah, dan ketika aku sedang mengerjakan shalat Isya hingga akhir malam, aku mendapati diriku seperti pakaian yang dilempar ke dalam bejana, lalu disengat matahari.” Unais berkata, “Sesungguhnya aku mempunyai hajat di Makkah, maka kabulkanlah aku.” 

Unais pun pergi ke Makkah tetapi tidak segera datang kepadaku. Ia kemudian datang kepadaku. Aku lalu bertanya, “Apa yang kamu lakukan?” Dia menjawab, “Aku telah bertemu dengan orang yang beragama sepertimu dan dia mengaku sebagai rasul.” Kemudian aku berkata, “Apa yang dikatakan orang-orang?” Mereka mengatakan bahwa dia adalah seorang penyair, dukun, dan penyihir.” Abu Dzar berkata, “Sementara Unais adalah seorang penyair.” Lalu Unais berkata, “Aku telah mendengar perkataan dukun itu, tetapi aku tahu bahwa perkataan orang-orang itu tidak benar. Aku menganggap perkataannya jauh lebih tinggi dibandingkan perkataan para penyair. Tidak pantas seorang mengatakan bahwa dia seorang penyair. Demi Allah, dia benar (jujur) dan mereka salah (dusta).” Aku berkata, “Beri aku kesempatan untuk melihatnya.”

Setelah itu aku pergi ke kota Makkah. Di sana aku bertanya  kepada salah satu penduduknya, “Siapakah orang yang kalian panggil dengan Shabi` itu?” Orang itu menunjuk kepadaku dan berkata, “Shabi`.” Kemudian para penduduk lembah itu melihatku dengan penuh keheranan dan kekaguman, hingga aku jatuh pingsan. Ketika aku sadar, aku merasa seakan-akan menjadi batu (patung) merah.117 Selanjutnya aku mendatangi air zamzam kemudian membersihkan darah yang menempel di badanku, lalu meminum air zamzam itu.

Aku lalu berkata, “Wahai Keponakanku, sudah 30 hari aku melewati siang dan malam, tetapi aku tidak makan apa pun kecuali air zamzam, maka lambungku terasa kembung. Tetapi aku tidak mendapati apa pun dalam lambungku yang menunjukkan bahwa aku lapar.”

Tatkala penduduk Makkah sedang menikmati cahaya bulan purnama, datang dua orang perempuan melakukan thawaf dan berdoa kepada patung Isaf dan Nailah.118 Keduanya lalu mendatangiku di tengah-tengah thawaf mereka. Aku kemudian mengatakan kepada mereka bahwa ada orang yang ingin menikahi salah seorang dari mereka. Tetapi mereka saling melarang. Setelah itu mereka mendatangiku lagi, kemudian aku berkata, “Mereka seperti kayu, akan tetapi aku tidak tahu nama mereka.” Namun mereka pergi dan berpaling seraya berkata, ‘Andaikan di sini ada orang yang berasal dari golongan kami’.” 

Mereka kemudian bertemu dengan Rasulullah SAW, sementara Abu Bakar yang baru saja turun berkata, “Ada apa dengan kalian?” Mereka menjawab, “Ada orang Shabi`ah di antara Ka’bah dan penutupnya.” Abu Bakar bertanya lagi, “Apa yang dia katakan kepada kalian?” Mereka menjawab, “Dia mengatakan sebuah kalimat yang membuat mulut terkunci.”

Setelah itu Rasulullah SAW dan sahabat beliau datang mengucapkan salam kepada Hajar Aswad, lalu melakukan thawaf di Ka’bah, lantas shalat. Aku adalah orang yang pertama kali mendapat salam Islam dari beliau, ketika itu beliau bersabda, “Alaika warahmatullaah (semoga rahmat Allah dilimpahkan atas dirimu), dari mana kamu?” Aku menjawab, “Dari Ghifar.” Mendengar jawabanku, Rasulullah SAW merentangkan tangannya dan meletakkan jari-jarinya di atas dahinya. Selanjutnya aku berkata dalam diriku bahwa Rasulullah SAW tidak suka jika aku menisbatkan diriku kepada kaum Ghifar, maka aku berusaha mendekat lalu menarik tangan beliau, tetapi sahabat beliau menolakku karena dia lebih tahu tentang beliau dibanding diriku. Rasulullah SAW kemudian mengangkat kepalanya dan berkata, “Sejak kapan kamu di sini?” Aku menjawab, “Sejak 30 hari yang lalu.” Kemudian beliau bertanya lagi, “Siapakah yang memberimu makan?” Aku menjawab, “Aku tidak pernah makan apa pun kecuali air zamzam, hingga tubuhku menjadi gemuk dan aku tidak pernah merasa lapar.” Beliau lalu bersabda, “Sesungguhnya air zamzam adalah air yang diberkahi dan merupakan sari dari semua makanan.” Tak lama kemudian Abu bakar berkata, “Ya Rasulullah, izinkanlah aku untuk memberinya makan malam ini.” 

Kami kemudian pergi ke rumah Abu Bakar, dan sesampainya di sana ia memberiku satu porsi buah anggur dari Tha`if, dan ini merupakan makanan yang pertama kali aku makan selain air zamzam.

Ketika aku mendatangi Rasulullah SAW, beliau bersabda, “Sesungguhnya telah ditunjukkan kepadaku tanah yang memiliki banyak pohon kurma, yang tidak lain adalah Yatsrib (Madinah). Maukah kamu menyampaikan risalahku kepada kaummu? Semoga melalui dirimu, Allah memberi mereka manfaat dan Allah memberikan balasan kepadamu karena mereka.” 

Setelah itu aku pergi, lalu bertemu Unais. Dia berkata, “Apa yang kamu lakukan?” Aku menjawab, “Aku telah menganut Islam dan aku membenarkanya.” Unais berkata, “Aku tidak membenci agamamu, karena itu aku pun masuk Islam dan membenarkannya.” 

Setelah itu Ibu kami pun masuk Islam. Kami terus berjalan membawa risalah Rasulullah SAW kepada kaum kami. Kemudian separuh dari mereka memeluk Islam, yang dipimpin oleh Ima‘ bin Rahadhah. Yang lain lantas berkata, “Apabila Rasulullah datang ke Madinah maka kami akan masuk Islam.” Tak lama kemudian Rasulullah SAW datang ke Madinah dan akhirnya mereka memeluk Islam.

Ketika Aslam datang, mereka berkata, “Ya Rasulullah, kami dan saudara-saudara kami masuk Islam lagi setelah dulu mereka memeluk Islam.” Rasulullah kemudian bersabda, 

“Kaum Ghifar, semoga Allah mengampuni dosa-dosanya, dan Aslam, semoga Allah memberikan keselamatan kepadanya.”

Al Waqidi berkata, “Orang yang membawa bendera (panji) kaum Ghifar pada waktu perang Hunain adalah Abu Dzar.”

Abu Dzar berkata ketika terjadi perang Tabuk, “Aku berjalan dengan lambat karena keledaiku sangat kurus.”
Diriwayatkan dari Abu Sirin, dia berkata, “Aku pernah bertanya kepada keponakan Abu Dzar, ‘Apa yang telah ditinggalkan oleh Abu Dzar?’ Dia berkata, ‘Dia meninggalkan 2 ekor keledai betina, seekor keledai jantan, kambing betina, dan beberapa binatang untuk alat transportasi’.”

Diriwayatkan dari Abu Harb bin Al Aswad, bahwa aku mendengar dari Abdullah bin Umar, dia mendengar Rasulullah SAW bersabda, “Tidak ada orang yang paling jujur perkataannya kecuali Abu Dzar.”

Diriwayatkan dari Abu Al Yaman dan Abu Al Mutsanna, bahwa Abu Dzar pernah berkata, “Rasulullah telah mengambil janji setia dariku atas lima perkara, dan mengikat perjanjian itu dengan tujuh perkara. Beliau menyaksikan tujuh perkara kepadaku, salah satunya aku tidak takut dicela untuk menegakkan agama Allah.”
Diriwayatkan dari Abu Dzar, dia berkata, “Rasulullah SAW berwasiat kepadaku dengan tujuh hal, yaitu: pertama, mencintai orang miskin dan dekat dengan mereka. Kedua, melihat orang di bawahku. Ketiga, tidak meminta apa pun kepada orang lain. Keempat, bersilaturrahim walaupun terlambat. Kelima, berkata benar sekalipun pahit. Keenam, tidak takut dicela karena Allah. Ketujuh, memperbanyak membaca laahaula wala quwwata illa billahil aliyyil adziim, karena kalimat ini termasuk harta simpanan di bawah Arsy.”

Diriwayatkan dari Zaid bin Khalid Al Juhani, dia berkata: Ketika aku bersama Utsman, tiba-tiba Abu Dzar datang, dan ketika Utsman melihatnya, dia berkata, “Selamat datang wahai saudaraku.” Abu Dzar menjawab, “Selamat datang saudaraku, engkau telah menguatkan cita-cita kami. Demi Allah, jika engkau menyuruhku merangkak maka aku akan melakukannya semampuku. Aku pernah keluar bersama Rasulullah SAW menuju benteng bani fulan, ketika itu beliau bersabda kepadaku, ‘Celakalah orang sesudahku’. Mendengar itu, aku menangis dan berkata, ‘Wahai Rasulullah, bukankah aku termasuk orang yang masih hidup setelahmu?’ Beliau lalu bersabda, ‘Ya, jika kamu melihat sebuah bangunan yang retak maka pergilah ke Maroko menuju negeri Qudha’ah’.”

Ustman pernah berkata kepada Abu Dzar, “Aku senang engkau bergaul dengan teman-temanmu, tetapi aku takut orang-orang bodoh itu berbuat sesuatu yang tidak baik kepadamu.” 

Al Ma’ruf bin Suwaid berkata: Ketika kami singgah di Zabadzah, tiba-tiba seorang pria muncul dengan memakai selendang, begitu juga budaknya. Kami kemudian berkata kepadanya, “Seandainya kamu memakai keduanya maka hal itu akan menjadi aksesoris bagimu. Oleh karena itu, belilah selendang lain untuk budakmu!” Pria itu menjawab, “Aku akan bercerita kepada kalian, antara aku dan sahabatku pernah terlibat perang mulut, sedangkan ibunya adalah keturunan A’jami (non-Arab), lalu aku mencelanya. Namun ketika hal itu didengar Rasulullah SAW, beliau bertanya kepadaku, ‘Apakah engkau telah mencela seseorang?’ Aku menjawab, ‘Benar’. Beliau bersabda, ‘Apakah kamu mencela ibunya?’ Aku menjawab, ‘Siapa mencela seseorang niscaya dia akan mencela ayah dan ibunya’. Beliau bersabda, ‘Kamu adalah orang yang masih memiliki sifat-sifat jahiliyah dalam dirimu’.”

Dia kemudian menyebutkan redaksi hadits selanjutnya hingga sampai pada perkataan, “Allah menjadikan saudaramu berada di bawah tanggunganmu, barang siapa yang saudaranya berada di bawah tanggungannya maka dia harus memberinya makan dari makanannya, memberinya pakaian dari pakaiannya, dan tidak membebaninya dengan sesuatu yang tidak mampu dilakukan’.”

Diriwayatkan dari Ibnu Buraidah, dia berkata: Ketika Abu Musa berjalan, dia berpapasan dengan Abu Dzar, maka Abu Musa pun memberikan penghormatan kepadanya, meskipun Abu Dzar adalah pria berkulit hitam dan berambut kriting. Abu Dzar kemudian berkata, “Menjauhlah dariku!” Abu Musa menjawab, “Selamat datang saudaraku!” Abu Dzar berkata lagi, “Aku bukan saudaramu! Tetapi aku menjadi saudaramu sebelum kamu kaya.” 

Abu Dzar wafat pada tahun 23 Hijriyah.
Nabi SAW pernah berkata kepada Abu Dzar, lantaran kekuatan dan keberanian yang dimiliki Abu Dzar, “Wahai Abu Dzar, aku melihatmu lemah sekarang, dan aku mencintaimu sebagaimana aku mencintai diriku sendiri. Oleh karena itu, kamu tidak perlu bersikap kasar kepada orang lain dan jangan pernah berusaha menguasai harta anak yatim.”

Mungkin yang dimaksud Rasulullah SAW dalam hadits tersebut adalah lemah akal, sehingga seandainya dia diamanati untuk mengelola harta anak yatim, maka dia akan menafkahkan seluruhnya di jalan kebaikan dan membiarkan anak yatim menjadi fakir, karena Abu Dzar melarang untuk menyimpan harta benda. Sedangkan yang dimaksud dengan tidak bersikap kasar adalah agar Abu Dzar menjadi orang yang lembut dan belas kasih, karena Abu Dzar tipe sahabat yang temperamental, sebagaimana yang telah diceritakan. Oleh karena itu, Nabi SAW menasihatinya. 

Diriwayatkan dari Abu Utsman An-Nahdi, dia berkata, “Aku melihat Abu Dzar bersandar pada tunggangannya sambil menghadap ke arah terbitnya matahari. Aku mengira dia tidur, maka aku mendekatimya dan berkata, ‘Apakah kamu tidur wahai Abu Dzar?’ Dia menjawab, ‘Tidak, tetapi aku sedang shalat’.”

__________
siyar alam an-nubala
pustakaazzam.com